ayat-ayat cinta, buku, catatan kehidupan

Serba-serbi Adaptasi Buku ke Film

skripsi-ayat-ayat-cinta

Sekarang ini, banyak sekali novel yang diangkat ke layar lebar. Banyak film dengan jumlah penonton dengan angka fantastis karena diadaptasi dari novel yang memang best seller. Sebut saja ada Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, 5 cm, Koala Kumal, Negeri Van Oranje dan masih banyak lagi. Yang terbaru untuk tahun ini ada The Chocolate Chance yang ditulis oleh Yoana Dianika. Continue reading “Serba-serbi Adaptasi Buku ke Film”

Uncategorized

REVIEW Tendangan Dari Langit

Apa yang membuat saya menonton film ini? IRFAN BACHDIM atau KIM KURNIAWAN? Selain karena sutradaranya, HANUNG BRAMANTYO tentu karena penulis naskahnya, FAJAR NUGROS (sok kenal banget gueeee… :D) yang pernah menjadi sutradara film Queen Bee, menulis beberapa buku diantaranya adalah ADRIANA: Di Nol Kilometer Cinta, dan menyutradarai beberapa video klip seperti MUDAH SAJA-nya Sheila on 7 dan I Love U Bibeh-nya The Changcuters. Sayangnya, selama tahun 2011 saya mengurangi berselancar di twitterland jadi kurang begitu paham seluk beluk di balik pembuatan film ini.

Di film keenam belasnya ini, untuk kali pertama Hanung mengangkat tema olahraga. Di perfilman Indonesia, jarang sekali diangkat tema olahraga. beberapa tahun terakhir ini yang saya ingat hanya Rome & Juliet Indonesia disutradarai Andi Bachtiar yang mengangkat isu sensitif berupa Persija VS Persib yang menjadi musuh bebuyutan, King yang di produksi Alenia Pictures mengambil tema perjuangan seorang bocah desa mengejar mimpinya menjadi pemain bulu tangkis, dan Garuda di Dadaku garapan Salman Aristo selaku produser sekaligus penulis skenario yang disutradarai Ifa Isfansyah untuk film perdananya mengambil tema sepakbola tanah air dengan genre anak-anak.

Sepak bola menjadi bahan yang tak pernah habis dibahas untuk dibicarakan. Mulai dari tukang ojek hingga para petinggi yang berebut jabatan. Hanung berusaha memotretnya dari segi kehidupan seorang remaja yang masih dibangku SMA lewat tokoh Wahyu yang dimainkan apik oleh Yosie Kristianto. Melihat sosok Wahyu, jadi teringat murid-muirid di sekolah yang akhir Juli lalu bertanding untuk memperebutkan gelar juara tingkat provinsi yang nantinya akan bertanding tingkat nasional di Liga Pendidikan Nasional yang diadakan di Bandung selama September ini. Sayangnya, sekolah saya hanya mampu meraih juara ketiga tingkat provinsi. Meskipun begitu prestasi mereka sudah sangat luar biasa karena sudah berhasil mematahkan puluhan tim sekolah. Bahkan ada seorang ibu yang selalu setia mendampingi anaknya yang ternyata kapten di tim bola sekolah kami. Saya saja yang cuma mendampingi mereka di lapangan ikut merasakan bahagia, apalagi ibu anak tersebut. Mungkin saya bisa merasakannya setelah 10-15 tahun nanti untuk menonton anak sendiri, gyahahaha… 😀

Masa SMA adalah masa menggebu-gebu untuk mengejar mimpi. Begitupula dengan Wahyu, sosok lugu dari Desa Langitan yang menjadi bintang bola di desanya. Semangat Wahyu makin terpompa saat menang mendapat kuda pak kades. Sayangnya, cita-citanya ditentang habis oleh bapaknya sendiri. Apa yang membuat bapaknya marah besar saat mengetahui Wahyu bermain bola? Sebenarnya Bapak Wahyu, Pak Darto tidak membenci bola, bapaknya membenci dirinya sendiri.

Cita-cita Wahyu makin menjadi setelah mendapat kesempatan tes bersama Persema Malang dan satu lapangan langsung dengan Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan. Impiannya kandas setelah keluarnya hasil tes kesehatan, ternyata ditemukan sebuah benjolan di lutut kanan. Adegan yang paling mengharu biru adalah saat Wahyu terpuruk harus menerima kenyataan itu. Sumpah, ini sedih banget! :’)

Disinilah peran cinta Indah, teman sekelasnya yang disukai Wahyu. Manis tanpa terkesan berlebihan. Indah yang dimainkan oleh Maudy Ayunda, karakternya tak jauh berbeda dengan perannya sebagai Zakia di Sang Pemimpi. Gadis manis nan cerdas hampir sempurna yang disukai lawan jenis yang tak sebanding dengannya. Sebelumnya Maudy juga berakting dalam film Rumah Tanpa Jendela. Saya yakin, meskipun sekarang juga merambah di dunia tarik suara, prestasi Maudy di dunia perfilman kelak bakal bisa bersinar seperti Maudy Koesnaedi 😉

Kemampuan para pemain senior sudah tidak diragukan lagi; Sujiwo Tejo, ibunya Wahyu (saya nggak tahu namanya), yang berperan sebagai pak kades/ juragan, dan juga Tarzan. Dan juga Agus Kuncoro yang berperan sebagai Pak Lik Hasan yang picik tapi sebenarnya punya sisi baik. Meskipun Joshua Suherman dan Jodhi Onsu hanya berperan sebagai pendukung, tapi daya pikat mereka sangat mengocok perut! Ditambah Natasha yang berperan sebagai Melly, sahabat Indah:D

Viewnya mulai dari opening jempol banget menyuguhkan indahnya Bromo dan Desa Langitan. Apalagi saat Wahyu berlatih keras bermain bola bercampur dengan debu-debu. Dari segi musik juga dahsyat, ada selipan musik reog khas Jawa Timur. Apalagi menjelang beberapa menit terakhir. Musiknya berasa menyihir. Penonton serasa menonton bola live di lapangan, bahkan tak sedikit yang bertepuk tangan dan bersorak. Jempolan deh buat Tya Subiakto.

Kalimat favorit dalam film ini:
1. Sepakbola kadang kejam, gol aja gak cukup, menang aja gak cukup!
2. Jangan sampe Negara kita bubar karena hal remeh.
3. Bola itu bukan masalah sepatu, tapi masalah kaki.
4. Buat apa jadi pemain bola?
5. Orang kalau sudah jatuh cinta tidak bisa dinasehati.
6. Hidup itu naik turun.
7. Cinta itu menyatu, bersifat unggul.
8. Cinta itu dipilih, bukan memilih.
9. Who is Irfan Bachdim? Irfan Bachdim is selebriti — ini adegan paling bikin ngakak! 😀
10. Di negeri ini yang gak mustahil jadi maling: maling duit, maling politik.
11. Indonesia ini jagonya main kandang sendiri. Kalo di kandang lawan, mandul!?!

Saya mau mencekoki murid-murid yang demen bola buat nonton ini! :p

Keterangan Film:
Judul : Tendangan Dari Langit
Jenis Film : Drama
Produser : Leo Sutanto
Sutradara : Hanung Bramantyo
Penulis : Fajar Nugros
Pemain : Yosie Kristianto (Wahyu)
Maudy Ayunda (Indah)
Giorgino Abraham (Timo)
Jodi Onsu (Putro)
Joshua Suherman (Purnomo)
Agus Kuncoro (Pak Lik Hasan)
Sujiwo Tejo (Pak Darto)
Natasha (Melly)
Irfan Bachdim
Kim Kurniawan
Mathias Ibo
Produksi : Sinema Pictures
Durasi : 110 menit
Homepage : http://www.filmtendangandarilangit.com

Uncategorized

(REVIEW) ? — TANDA TANYA

Almarhum mama dulunya adalah guru PPKN (sekarang PKn), maka beliau selalu mengingatkan saya akan pentingnya toleransi antarumat beragama yang tak sekedar teori, namun juga dalam prakteknya di kehidupan sehari-hari.

Saya besar di lingkungan yang didominasi dua agama; Islam dan Katolik. Bahkan, Pakde saya adalah seorang pastur yang pernah ke berbagai negara. Sekalipun kini beliau menjadi Pastur, setiap lebaran beliau menyempatkan diri untuk pulang ke Lampung dan berkumpul bersama keluarga yang merayakan Idul Fitri.

Ada seorang juragan beretnis Cina (yang kebun pohon sawitnya berpuluh-puluh hektar). Beliau menyumbang semen yang tidak sedikit untuk pembangunan awal masjid di desa saya.

Saat mama sakit hingga tiada, tetangga yang bernama Bude Maarjinem beragama Katolik tak pernah lelah mengajari adik saya yang paling kecil untuk belajar hingga lulus SD. Kebetulan saat itu saya sedang kuliah merantau di pulau seberang, jadi beliau yang menggantikan peran saya.

Perbedaan agama tidak menghalangi kami bisa hidup damai.

“Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)

Seperti halnya saya, Hanung juga besar dalam lingkungan yang beragam. Berangkat dari itulah Hanung mencoba memvisualisasikannya dalam film ini yang diangkat dari kisah nyata di Semarang.

Secara singkat Film ? mengisahkan hubungan antara 3 keluarga yang mempunyai perbedaan etnis dan agama. Ketiganya hidup berdampingan dalam lingkungan yang dikelilingi oleh Masjid, Gereja dan Klenteng. Dalam hubungan kehidupan sehari-hari adakalanya terjadi konflik karena perbedaan-perbedaan pandangan. Namun seringkali pula mereka saling mendukung dengan segala pengertian atas perbedaan – perbedaan tersebut.

Dengan berbagai perbedaan pandangan hidup dan agama, pada akhirnya mereka semua menemukan satu kesamaan tentang hidup yang lebih baik dalam tatanan kebersamaan dan toleransi. Inilah potret Indonesia seutuhnya, dimana sikap saling mengerti dibutuhkan dalam memandang keragaman yang ada.

Apa sesungguhnya yang menjadi PRO KONTRA dalam film ini?!?
1. Sosok BANSER. Sebenarnya tidak ada yang salah. Soleh yang pemarah, cemburuan, dan curiga bukanlah mendiskreditkan sosok banser. Yang saya tangkap dari film ini adalah sifat Soleh secara individu, sifatnya tersebut lebih dahulu muncul sebelum menjadi banser. Malah, di endingnya kita bisa melihat sosok Soleh dalam menjalankan tugasnya sebagai banser yang taat.
2. Pindah agama. Bukan bermaksud mengajak seseorang untuk murtad. Memang, Rika keluar dari agama Islam. Namun, ada seseorang yang masuk Islam di akhir cerita.
3. Pluralisme. Dari segi mana?? Setiap umat menjalankan agamanya masing-masing, tanpa ada campur aduk agama yang lain. Justru menghormati agama yang lain. Seperti yang dilakukan Tan Kat Sun; memisahkan segala perkakas yang digunakan untuk mengolah babi dengan bahan yang lain, memberi waktu untuk para pekerjanya saat sholat, memberikan libur bagi para pekerjanya saat lebaran. Rika yang pindah agama; tetap setia mengantar anaknya ke masjid untuk mengaji, membuat masakan untuk anaknya berbuka puasa, bahkan membagikan makanan kepada anak-anak yatim untuk berbuka saat puasa.

Kerukunan adalah keadaan di mana terdapat sikap saling pengertian, bersatu, tolong-menolong, damai serta penuh persahabatan antar anggota-anggota yang hidup bersama.

Untuk menciptakan hubungan yang harmonis antarmanusia, terutama antar pemeluk agama yang berbeda-beda diperlukan kesediaan setiap orang untuk saling menyatakan diri sebagai kawan.

Adapun yang dimaksud dengan menyatakan diri adalah setiap orang mau menerima dan bergaul dengan orang yang lain dengan segala keberadaannya.

Selain menyatakan diri, diperlukan etika pergaulan. Dengan etika pergaulan, keharmonisan hubungan kerjasama serta saling pengertian antarsesama akan semakin kuat, dan pergaulan yang selaras, serasi, rukun dan damai dapat dipelihara.

Kehadiran film bertema keragaman dan toleransi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman akan arti penting TOLERANSI dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan dapat dijadikan sebuah kekuatan untuk mencari keyakinan yang hakiki tanpa harus saling menyakiti. Keyakinan tersebut pada akhirnya tergantung kepada jawaban yang ditemukan oleh masing-masing pribadi.

Kemampuan Hanung dalam melahirkan film-film spiritual-religius memang tidak diragukan lagi. Seperti dalam film-film sebelumnya, berani mengangkat tema-tema sensitif bahkan yang dianggap tabu. Dari sisi skenario, endingnya gampang ditebak dan terkesan klise. Saya kurang menemukan selipan pesan dengan kalimat-kalimat khas seperti halnya di Film Perempuan Berkalung Surban dan Sang Pencerah. Ada kalimat favorit; “Menikah ibarat kapal. Yang satu mendayung, yang satu menunjukkan arah. Jika lelah, bisa berganti peran.”

Dari segi musik, Tya Subiakto mampu memberikan perpaduan musik yang harmonisasi dari perpindahan budaya dan agama yang berbeda. Jempol deh buat Yadi Sugandi, dari sisi sinematografi, walaupun banyak adegan di dalam ruangan, kita disuguhi gambar dari berbagai sudut yang tidak biasa.

Begitu pula dari segi kostum yang dipegang Retno Ratih Damayanti dan perlengkapan, representasi tiap agama terwakilkan. Melalui gereja, masjid, klenteng, lonceng, beduk, dupa, salib, sajadah, lilin, dan lain-lain.

Dari segi akting, jelas sudah tidak diragukan lagi kemampuan Agus Kuncoro, Reza Rahardian, dan Revalina S. Temat yang pernah bekerjsama dengan Hanung sebelum di film ini. Endhita, kenapa kurang terasa ya jiwa Katoliknya? Rio Dewanto, aktingnya sudah pas, namun logat jawanya masih kaku, kurang njawani, masih berasa logat jawa ala FTV yang biasa ia mainkan :p

Sebenarnya pro kontra yang timbul tentang film justru meningkatkan minat seseorang untuk menontonnya. Mudah-mudahan di film berikutnya Hanung dkk mau dan mampu menggarap film bersetting budaya di luar Jawa ;))

Keterangan Film:
Judul : ? – Tanda Tanya
Sutradara : Hanung Bramantyo
Penulis Skenario : Titien Wattimena
DOP : Yadi Sugandi
Music Illustrator : Tya Subiakto
Website : http://www.filmtandatanya.com
Produksi : Mahaka Pictures & Dapur Film

Para Pemain :


Reza Rahadian sebagai Soleh
Seorang lelaki pengangguran yang hidup dalam impiannya untuk menjadi seseorang yang berarti, termasuk menjadi pahlawan bagi istri dan kedua anaknya, namun belum mendapatkan jalan yang baik. Soleh akhirnya menjadi anggota banser NU

 


Revalina S Temat sebagai Menuk
Seorang perempuan yang soleha dan cantik, istri dari Soleh. Cinta Menuk kepada suaminya begitu mendalam walaupun suaminya tidak memiliki pekerjaan. Menuk memilih Soleh daripada Hendra, anak dari Tan Kat Sun yang keturunan Tionghoa, karena Soleh memeluk agama yang sama dengannya, yaitu Islam. Untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari, Menuk bekerja di di restoran Kanton Pak Tan

 


Agus Kuncoro sebagai Surya
Seorang pemuda yang sedang berjuang meraih impian menjadi bintang film dengan memerankan peranan-peranan kecil. Surya menjadi pacar Rika setelah Rika bercerai dengan suaminya. Surya mengetahui jika kondisi ini semakin memojokan Rika pada posisi yang tidak menyenangkan di mata para tetangga sekitar. Walaupun seorang Muslim, Surya berhasil memerankan dengan baik beberapa peranan yang terkait dengan agama lain, termasuk menjadi Yesus pada acara Jumat Agung di gereja.

 


Endhita sebagai Rika
Seorang janda beranak satu, yang baru saja berpindah agama. Rika memiliki toko buku yang sekaligus menjadi rumah tinggalnya. Karena status janda dan keputusannya pindah agama, Rika sering mendapat cemoohan para tetangga, namun Rika tetap pada pendiriannya. Rika juga harus menghadapi protes dari anaknya, Abi dan ibunya atas keputusannya tersebut.

 


Rio Dewanto sebagai Hendra
Anak dari Tan Kat Sun dan Lim Giok Lie yang sedang mencari jati diri. Dalam proses mencari jati diri tersebut, dia selalu bertentangan dengan kedua orangtuanya, termasuk dalam menjalankan usaha restoran. Hendra jatuh cinta pada Menuk dan merasa sakit hati berkepanjangan karena Menuk lebih memilih Soleh yang pengganguran dikarenakan Soleh seorang Muslim.

 


Hengky Sulaeman sebagai Tan Kat Sun
Seorang ayah dan pengusaha restoran masakan Cina. Dalam kondisi kesehatannya yang tidak baik, pak Tan selalu bersikap positif, namun merasa jengkel dengan sikap anaknya yang tidak peduli terhadap usaha keluarga.
NB:
Film hasil kolaborasi Dapur Film dan Mahaka Pictures ini sengaja diberi judul ? (baca Tanda Tanya) untuk memberikan keleluasan kepada para penonton dalam menyimpulkan makna dari keseluruhan cerita. Selanjutnya dari kesimpulan tersebut penonton berpartisipasi memberikan judul filmnya dengan mengirimkan sms ke 3230 (ketikTTNAMA#USIA#JENIS KELAMIN#KOTA#JAWABAN). Judul terpilih akan mendapatkan apresiasi sebesar Rp 100 juta,- . dan digunakan sebagai judul pada DVD film serta Novel yang akan segera diterbitkan. Periode pengiriman judul berlaku hingga akhir Juni 2011, pemenang diumumkan pada Juli 2011 pada saat dilakukan peluncuran Novel dan DVD Filmnya. Penjurian judul dilakukan oleh Hanung Bramantyo, Erick Thohir (Produser Eksekutif) dan beberapa pihak yang kompeten.

Uncategorized

(REVIEW) Sang Pencerah

Saya masih ingat saat sedang menyelesaikan skripsi tentang Ayat-ayat Cinta pada tahun 2008, disarankan astradanya Hanung untuk membuka multiplynya di http://www.hanungbramantyo.multiply.com. Di sana banyak menemukan kisah dibalik pembuatan Ayat-ayat Cinta. Salah satu artikelnya berisi impian Hanung yang teringat dengan nasehat ibunya. Kira-kira begini tulisannya: “Jika kamu sudah bisa membuat film, buatlah film tentang agamamu.”

Menurut Wikipedia, Kyai Haji Ahmad Dahlan (lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.

Kyai Ahmad Dahlan sudah menjadi impian Hanung jauh hari sebelum dia berhasil membuat Ayat-ayat Cinta, Doa yang Mengancam, dan Perempuan Berkalung Sorban yang sukses secara berturut-turut. Mampu mengajak penonton yang sebelumnya tidak pernah menginjakkan kaki ke bioskop. Hanung juga membukakan mata para produser bahwa film bertema religius juga mampu bersaing dengan film bertema horror, komedi dan abg saja yang laku. Kini, Sang Pencerah mampu menggiring anak muda untuk mau menonton film dengan tema religius sekaligus belajar sejarah.

Di Sang Pencerah, kita dapat melihat antara pertentangan agama dan pertentangan kultural. Terlihat saat scene dimana seorang Kyai tidak bisa membedakan antara pengertian residen dan presiden yang menimbulkan kesalahpahaman. Ada juga seorang Kyai menganggap menggunakan meja dan papan tulis adalah kafir, padahal beliau sendiri menggunakan kereta. Menggelitik namun mampu menyampaikan pesan.

Ikranegara yang berperan sebagai bapaknya Ahmad Dahlan menyatakan bahwa ada tiga pesan yang dapat kita petik dari seorang Ahmad Dahlan: keluar dari kemiskinan, pendidikan, dan masalah kesehatan.

Di sini kita melihat akting perdana Giring Nidji dan Ikhsan Idol dalam sebuah film. Lukman Sardi yang telah memainkan berbagai peran berbeda dalam setiap film sangat hidup dalam memerankan sosok Ahmad Dahlan. Film yang tergolong serius ini ditolong Dennis Adhiswara yang memecah kekakuan dengan aktingnya. Kita juga bisa melihat akting Mario Irwinsyah, Zaskia Adya Medca, Joshua, Slamet Raharjo, Agus Kuncoro, Pangki Suwito dan masih banyak lagi.

Selain sebagai sutradara, Hanung juga sukses sebagai penulis skenario. Potongan dialog dalam film ini yang menyelipkan pesan:
1. Seorang pemimpin yang baik tidak meninggalkan keluarganya, apalagi umatnya.
2. Kalau kita tahu, kita tidak akan belajar.
3. Agama itu sebuah proses, seperti udara pagi yang menyegarkan kita.
4. Orang beragama adalah orang yang merasakan keindahan, sabar dan ikhlas
5. Buat apa membaca ayat Al-quran kalau cuma buat dihapal.
6. Dalam ajaran Islam yang benar, tidak boleh ada pemaksaan.
7. Ketika kita dimusuhi, kita tidak boleh membalas memusuhi.
8. Ketika kita disakiti, kita tidak boleh membalas menyakiti.
9. Kita boleh punya prinsip, asal jangan fanatik.
10. Ketika kita memimpin orang lain, apakah mampu memimpin diri sendiri?

Ada pesan penting dalam Sang Pencerah, dalam usia 21 tahun seorang Muhammad Darwis yang bertransformasi menjadi Ahmad Dahlan memiliki pemikiran berani mengubah suatu perubahan yang selama ini salah. Contoh kecilnya adalah masalah kiblat. Semoga setelah menonton ini, para pemuda-pemudi Indonesia mendapat pencerahan bahwa melakukan perubahan tidak harus menunggu saat dewasa, dan memulailah perubahan kecil yang suatu saat menghasilkan perubahan besar.

Review Film Hanung yang lain:

Perempuan Berkalung Sorban:

facebook: http://www.facebook.com/note.php?note_id=50092727692

multiply: http://luckty.multiply.com/reviews/item/37

Doa Yang Mengancam

http://luckty.multiply.com/reviews/item/26

Ayat-ayat Cinta mengantarkanku pada gelar sarjana…

http://luckty.multiply.com/journal/item/141

Uncategorized

Perempuan Berkalung Sorban

Niat nonton pas edisi perdana, apa daya di Museum KAA dari pagi mpe sore, malemnya pulang selalu tepar. Alhasil, aku baru nonton hari sabtu (18 jan 09). Ini pun memaksa Resty Padang yg udh nonton duluan. Hhhmmm..lg beruntung, dapet pin ma kartu pos Perempuan Berkalung Sorban ;p

Jarang-jarang nonton malam minggu, males ramenya itu loh! Dan..emang bener rame! Ada sekitar 5 baris adalah rombongan bapak-ibu gitu. Kayaknya ni efek pasca AAC, membangkitkan minat orang datang ke Bioskop. Hal ini jg terjadi wktu nonton Doa Yang Mengancam (di barisan depan banyak bapak-bapak). Kayaknya nama Hanung udah jaminan para orang tua tersebut untuk nonton film ke bioskop.

PBS adalah salah satu dunia pararel perempuan. Narasi panjang perempuan mendapatkan hak-haknya. (PBS: Narasi Panjang Pembebasan Perempuan – Pikiran Rakyat, 14 Jan 09)

Film yang berdurasi 130 menit ini (lama loh bwt ukuran film Indonesia, tp wajar klo di liat jalan ceritanya) mencoba menghadirkan metafora bahwa pesantren bisa lebih buruk dari sebuah penjara.

Dalam salah satu scene. metafora tersebut dijabarkan lewat dialog Annisa kepada sejumlah srantriwati yang kabur dari pesantren. Santriwati ini kabur setelah buku bacaan yang disebut haram oleh pemilik pesantren dibakar.

Ketika di tangan Hanung, novel ini tidak hanya memberdayakan kaum perempuan saja. Tapi Hanung telah memvisualisasikan kisah tersebut sebagai sebuah drama yang memiliki daya pikat.

Namun terlepas dari kualitas filmnya, Hanung sepertinya harus waspada bahwa film ini telah membawanya pada permainan api bisa kapan saja menyulut kontroversi. (PBS:Bola Panas Dari Hanung Bramantyo – Republika, 14 Jan 09).

Ada satu adegan (adegan kaca….), ni mirip ma adegan di AAC (ni efek samping berulang kali nonton AAC gara-gara skripsi, mpe hapal adegan demi adegan! ;p). Oya, pas nikah backsoundnya jg mirip AAC (apa krn music directornya sama ya??). Lho, kok aku jadi banding-bandingin ma AAC?? ga bermaksud kok ;p

Satu lagi, keseringan adegan makan. Kayaknya lebih dari lima kali deh adegan dialog di meja makan.

(Lagi-lagi) Hanung nongol di filmnya sendiri. Jadi tukang pos ;p Sutradara satu ini lumayan sering nongol. Sebelumnya, Hanung pernah nongol di Lentera Merah dan Jomblo. Di The Tarix Jabrix juga pernah. (lho..lho..kok malah ngomongin sutradaranya?!? yg penting kan ga ngegosipin, pisss… ;p)

Yang aku suka adalah diselipkannya tentang pentingnya perpustakaan (halah, mentang-mentang anak perpus! ^-^). Wah, buat junior-juniorku yang belum USMAS, bisa nih buat di jadiin bahan skripsi (ya ampyun…nenek-nenek sindrom skripsi film nih!)

Walaupun skripsiku ttg AAC (yang telah mengantarkanku pd gelar sarjana), walaupun sutradara, penulis skenario dan beberapa kru lainnya sama dengan AAC (ya iyalah, mereka kan satu tim!^-^), setelah nonton ini kuakui aku lebih suka PBS. Lebih berisi. Lebih banyak makna dan pesan yang tersembunyi dalam film ini.

resensi

Si Jago Merah

Sesuai nazarku pada anak-anak kosan (aku kan nenek mereka!? ^-^), kalo’ lulus cum laude (halah, nyombong! ^-^) mau ntraktir nonton di Bioskop. Kata mereka mau nonton film apa aja asal jangan Ayat-ayat Cinta (yaiyalah, mana mungkin tho??, mentang2 AAC mengantarkanku gelar sarjana, aku cukup tau diri ).Dan, timingnya pas banget, Si Jago Merah produksi Starvision and Hanung Bramantyo Production baru dua hari nongol di 21, jadi kita (berduapuluh satu orang) nonton rame-rame tgl. 14 Nov ’08. Jadi, ya masih hangat-hangatnya ni film.

**************************************************************************************************
Film yang berawal dari ide seorang yang “bermimpi memadamkan api sejak kecil” (siapa coba?! Hayo, ngaku?!? ^-^) ini berkisah tentang empat mahasiswa yang menjadi pemadam kebakaran.

“Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat…” adalah kalimat awal pembuka film ini yang meluncur dari mulut seorang aktivis kampus, Rojak Panggabean, Semester empat, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, asal Medan. Wah, kalimat ini persis sekali seperti ucapan seorang temanku di kampus yang seorang aktivis kampus seperti Rojak ini ^-^

Kemudian, Gito Prawoto asli Sidoarjo yang kuliah di Fakultas Hukum, semester empat, doyan banget dugem. (Eit…eit…yang jadi DJ di adegan ini Mas Iqbal ya?? a.k.a. sang sutradara ni film ^-^)

Dede Rifai adalah mahasiswa semester enam, kuliah di Fakultas Ekonomi, Sunda pisan euy! Demen banget liat cewek-cewek cakep (Ya ndak papa tho, normal itu, lha kalo’ demen cowok baru yang repot! ^-^)

Terakhir, ada Kuncoro Prasetyo si anak Teknik Kimia semester enam. Gayanya njawi bangget!! Phobia ma tempat-tempat sempit. Paling pasrah diantara yang lain, sesuai dengan motto hidup: Gimana ramenya aja!

Yang membuat mereka bersama-sama adalah keempatnya terancam D.O. gara-gara menunggak uang kuliah selama 4 semester berturut-turut. (Agak aneh juga siy, untuk ukuran sebuah universitas swasta, lima juta untuk biaya selama empat semester, di universitas negeri aja lebih dari segitu?)

Semenjak itu, kehidupan mereka mulai berubah. Mulai dari (tiba-tiba) jadi pada miskin mendadak, ngekos super meriah, makan seadanya, dikejar-kejar preman, sampe kisah suka duka mereka jadi petugas pemadam kebakaran. Mereka yang dulunya pecundang, berakhir menjadi pahlawan. (Masih tipikal film-film Indonesia, film yang berakhir Happy Ending)

*************************************************************************************************
Kata-kata pilihan:
 Mahasiswa tidak disiplin. Itulah yang dikatakan Kodrat Firasat (Indra Birowo) saat melatih mereka pada pelatihan pemadam kebakaran. Yup, anak-anak zaman sekarang sering kalah sebelum perang!
 Anak muda nggak kenal sejarah. Kata-kata itu terucap saat mereka melecehakan Si Jago Merah. Seperti Ir. Soekarno bilang: JAS MERAH! (Apa coba kepanjangannya??)
 Pantang pulang sebelum diterima. Rojak tak mau menyerah saat mereka ditolak jadi pemadam kebakaran.

Adegan yang luchuuu:
 Saat Rojak dapet telpon dari orang rumah, dan berkata dengan nada mengumpat menggunakan bahasa Batak. Dan…ternyata Si Ibu Dosen yang diomongin bisa fasih bahasa Batak juga. Kyaaa!!! Malangnya nasibmu, Rojak! (Bude ma Nancy ketawanya paling kenceng, secara mereka orang Batak! ^-^)
 Waktu kali kedua mereka dapet panggilan, (lagi-lagi) nggak ada kebakaran. Eh, ada nenek2 minta tolong ambilin si Puspus. Dikira kucing, nggak taunya ular gede banget! (Dita nggak kuat nonton adegan ini, dia phobia ular)
 Adegan hujan buatan saat Gito PDKT ma Airin, konyol! (jangan-jangan, abis nonton ini ada yang mempraktekkannya, qiqiqiqiqi……)
 Pas Airin dianterin ke restoran naik Si Jago Merah. Orang-orang yang ada di restoran langsung pada ngacir, dikira ada kebakaran.
 Mereka ke kampus menendarai Si Jago Merah yang bisingnya membuat gaduh seisi kampus. Wah, nggak kebayang klo ada kayak gini beneran! ^-^

Beberapa fakta yang diselipkan dalam ceritanya:
 Pemadam kebakaran yang dibutuhkan adalah empat ribu personil, sedangkan yang tersedia hanya dua ribu saja, itu pun enam puluh persennya sudah berumur.
 Di Jakarta, tiap kelurahan seharusnya punya mobil pemadam kebakaran, berarti harus ada 265 mobil pemadam kebakaran. Faktanya, hanya ada 150 unit mobil. Berarti kurang berapa coba? (hitung sendiri yak!)

(Film adalah arsip sosial yang menangkap jiwa zaman masyarakat saat itu –Ekky Imanjaya dalam A to Z About Indonesian Film).
Isu hangat yang melanda masyarakat Indonesia juga diselipkan di sini:
 Dede Rifai. Hidup berkecukupan, ternyata selama ini ayahnya seorang koruptor. Hidupnya pun berubah drastis karena kejadian tersebut.
 Berbeda dengan Gito, mahasiswa asli Sidoarjo menjadi korban dampaknya Lumpur Lapindo yang tak berkesudahan hingga sekarang.
 Sally, wanita simpanan seorang pejabat yang tak peduli apa omongan orang.
 Kemudian ada Nola, tipe cewek zaman sekarang (smoga aku tidak termasuk di dalamnya); matre, hobi belanja, maunya seneng aja giliran cowoknya susah ditinggal (untung pas trakhir Nola setia pada cowoknya).

Pemainnya:
 Desta Club 80’S. Makin sering aja nongol di film. Walaupun di film yang sebelumnya kurang begitu dapet (mungkin karena bukan film berkualitas). Makanya, mestinya Desta lebih selektif memilih peran (kayak peran di sini yang unik)
 Ringgo Agus Rahman. Perannya nggak jauh beda ma peran sebelumnya yang melekat: gokil, lucu, dan Sunda abis! Liat muka Ringgo aja udah bikin geli, qiqiqiqi….
 Judika. Wah, buat edisi perdana dia berakting di layar lebar, mantab kali! Logat Medannya pas!
 Ytonk 80’S. Walaupun porsinya tidak begitu besar dibandingkan tiga tokoh utama lainnya, justru perannya yang menjadi kunci keberhasilan mereka dalam kebakaran besar itu.

Beberapa hal yang mengganggu:
 Kisah cinta Gito dan Airin yang penuh “air” dan “api” masih tampak seperti sinetron Indonesia pada umumnya. Selalu bertemu tak sengaja dan berulang-ulang.
 Di awal film, Si Jago Merah terlihat tua dan tak terurus. Tapi, saat Si Jago Merah mulai beraksi kok kelihtan kinclong?? Bahkan terlihat seperti mobil pemadam kebakaran yang masih gress..
 Adegan pelatih cewek yang terjatuh. Adegan ini tampaknya mengulang adegan Carrisa Puteri di The Tarix Jabrix.

**************************************************************************************************
Dalam setahun, Iqbal Rais, seorang sutradara muda asuhan Hanung Bramantyo ini mampu membuat dua film. Setelah sukses dengan The Tarix Jabrix-nya (yang ditonton sebanyak 903.603 orang –Kompas, 26 Oktober 2008-), Hilman Mutasi dkk beraksi kembali dengan menyajikan tontonan yang segar dan mengelitik, namun tak sekedar tawa sesaat.

Soundtrack film yang punya jargon Pantang Pulang Sebelum Padam ini diisi oleh The Changcuters dengan lagu Sang Penakluk Api (Mereka juga nongol sebentar di tengah cerita ^-^), dan di novelkan oleh Ninit Yunita.

Klo kata yang punya ide cerita (Fajar Nugross) bilang:
Pantang nonton, tanpa bawa pasangan!!
(Deritanya kita-kita yang jomblo doonnnkkk!!)

resensi

(DYM) Doa Yang Mengancam

doa-yang-mengancam

Sekali lagi, Hanung Bramantyo berkarya lewat film religius (yang akhir-akhir ini jadi tren di 2008). Awalnya aku sempet pesimis ma ni film, khawatir kayak film-film religius lainnya yang terkesan menggurui. Makanya, aku ga sabaran pengen nonton secepat mungkin. Pengen cepet-cepet me-reviewnya. Bela-belain balik ke Jatinangor demi nonton hari pertama (tgl. 9 Okt ’08). Ternyata, waktu liat di 21 Jatos, si mbak petugasnya bilang: “Wah, ga tau ya bakal ada apa enggak. Lagian film yang keluar masih baru semua.”.

Wah, gila ‘kali lo! mending DYM-lah yang diputer daripada film-film yang ga jelas itu, umpatku dalam hati sambil melirik poster-poster yang lagi dipajang. Bukannya apa-apa, tu film ga da yang nonton, penonton Indonesia kan sekarang udah cerdas, ga sekedar nonton film yang cuma pamer body!! Duh, pedes, pedes!!

Pas ke BSM, DYM udah ada. Pas di cek, ternyata yang kosong jam 7 malem. Mikir-mikir, pulang ke Jatinangor pasti bisa jam 11an, mana cewek-cewek pula! Sebenarnya aku ga masalah, tapi yang laen pada ga berani resiko plg mlm. Yasud, gagal deh nonton!

Oktober kerjaanku hanya berkutat dengan skripsi, bercinta dengan komputer, mengautiskan diri di kamar bersama tumpukan buku-buku demi ngejar sidang November. Nonton DYM-pun belum tersampaikan. Mungkin Allah menyuruhku konsen ke skripsi baru boleh dibukakan jalan buat nonton DYM ^-^ Alhamdulillah, akhirnya tgl. 24 Okt ‘08 di 21 Jatos ada juga. Aku nonton jam 19.30 WIB, sekalian meregangkan otak yang seharian bimbingan..

**************************************************************************************************
Adegan diawali dengan suasana pasar yang riuh, ricuh, ramai, becek, kotor. Banyak pedagang dan para kuli berbaju lusuh. Bahkan, buat makan pun mereka mengutang. Wah, sangat Indonesia sekali! Sangat berbeda dengan gambaran sinetron-sinetron Indonesia yang sok mewah!?!? Baru di awal cerita, aku terbesit dalam pikiranku: wah bisa jadi judul skripsi, Representasi Kemiskinan dalam Film DYM 🙂

Madrim (diperankan Aming) adalah tokoh utama yang bekerja keras membanting tulang dengan gaji yang tak seberapa, bahkan kerap ditagih hutang. Keadaan tambah diperparah saat istrinya, Leha (Titi Kamal) yang tak tahan hidup miskin minggat dari rumah. Hingga akhirnya Madrim diusir dari kontrakan yang tak kunjung dibayar.

Madrim pun menumpang tidur di musholla yang dijaga Kadir (Ramzi). Pas adegan Kadir tidur, ada buku kumpulan doa (aku punya ni buku zaman SD, persis bgt!). Setelah menerima nasehat dari Kadir, sahabatnya, akhirnya Madrim pun bekerja siang malam dan berdoa dengan sungguh-sungguh hingga air mata selalu jatuh mengiringi doanya. Bukannya berkah yang di dapat, rejekinya tambah seret, hingga ia jatuh sakit. Bahkan tidak mau makan, biar mati sekalian, kata Madrid.

Kesabarannya habis, Madrim memanjatkan doa dengan nada yang mengancam, “ Aku capek. Aku akan murtad, aku akan berpaling kepada setan!”. Madrim meninggalkan pasar, berjalan tak tentu arah saat hujan deras hingga tersambar petir.

Dia ditemukan warga Desa Cigundul, Banten Selatan, dibopong ke rumah sang kepala desa, diperankan Jojon. Saat Madrim ngelirik, para warga yang menduga dia mati jadi ketakutan (Ini malah membuat penonton terbahak! ^-^) Nah, dari sinilah Madrim menyadari kekuatannya untuk membaca masa lalu orang melalui foto. Foto pertama yang dibacanya adalah foto anak si kepala desa yang telah setahun minggat dari rumah. Mereka pun berkelana mencari si anak yang ditemukan di sebuah mall, sedang disandera seorang bandit. (lagi-lagi) adegan ngocol terjadi, si bapak (Jojon) langsung melemparkan bogemnya pada si bandit. Ternyata si anak lagi syuting, ditandai dengan marahnya sang sutradara. Ada-ada aja! ^-^ (kalo’ di Tarix Jabrix, Hanung jadi cameo. Nah, gantian nih di film ni Iqbal Rais nongol sebagai sutradara, simbiosis mutualisme! ^-^)

Kehidupan Madrim berubah saat polisi (Berliana Febrianti) menawarinya untuk bekerjasama menjaring para penjahat lewat foto-foto mereka. Seperti dilaporkan oleh pembawa acara berita, Valerina Daniel, dalam waktu seminggu pihak kepolisian menjaring 50 penjahat sekaligus. Agak aneh juga siy, segampang itukah polisi-polisi Indonesia? Kalo’ iya, wah polisi-polisi yang abis nonton ini, kayaknya bakal ngikutin ide untuk merekrut orang seperti Madrim! ^-^

Hingga akhirnya seorang penjahat kelas kakap, Tantra (Dedi Sutomo) yang mulanya berniat membunuhnya, malah memeliharanya, bahkan menggajinya 10 juta/bulan. (Sayang, ga dijelaskan apa kerjaannya). Madrim pun kaya mendadak. Uang bagaikan tak berharga. Dia sengaja datang ke pasar untuk memperlihatkan bahwa dia sekarang berduit, didampingi bodyguard dan naik mobil mewah. Utang-utangnya pun dibayar. Anak-anak kecil mengikutinya yang menebar uang ke jalanan. Atas anjuran Kadir, Madrim mengunjungi emak dan membawanya ke Jakarta. Melalui foto, dia bisa membaca masa lalu emaknya, yang ternyata dulunya adalah kupu-kupu malam. Dia syok.

Bukannya bahagia, Madrim kian bertambah stress dengan kemampuannya. Dia pun mengancam Tuhan (lagi). Menyuruh-Nya membiarkan dia agar menjadi seperti orang biasa. Bukannya hilang, malah kekuatannya bertambah. Dia masih punya kekuatan, sayangnya waktu liat foto SBY ga dijelasin dia ngeliat kejadian apa. (Takut disensor kali ya?? ^-^) Dia juga bisa melihat masa depan. Masa depan yang pertama kali terbaca adalah masa depan suster yang merawatnya, yang diperankan Zaskia. Agak ganjil setting di adegan ini. Di awal, terlihat bahwa RS. Seroja adalah RS. Kristen, sebenarnya siy ga masalah. Cuma ga nyambungnya, si suster kan berjibab. Seandainya suster ga berjilbab tentu lebih masuk akal. Memasukkan Zaskia di peran ini jadi terkesan memaksakan (?!?)

Dari hari ke hari, Madrim mandi duit. Tapi dia tak bahagia. Sepi. Hampa. Hingga dia tak sengaja dipertemukan dengan istrinya, untuk terakhir kalinya. Si Leha bunuh diri, loncat dari gedung. Madrid merasa hidupnya tak berarti lagi, dia pun ingin mengakhiri hidupnya seperti istrinya itu. Untunglah ada Kadir yang mencegahnya dan mengajaknya kembali ke jalan-Nya.

Cerita diakhiri dengan kehidupan di pasar, membuka warung makan. Dan menemukan jodohnya (lagi).

**************************************************************************************************
Ada kalimat Kadir yang menggelitik namun sarat makna.
“Mungkin Lo belom ketemu ma si sakinah, si mawadah, si karomah.”
“Emangnya Gue asisten Allah?!”
“Allah lagi sibuk.”
“Semua bisa sakit, yang udah naik haji sepuluh kali juga bisa sakit!”
“Pake’ ketemu setan aja wudhu?! Sekalian aja mandi wajib!”
“Bisnis akhirat, ngajar ngaji.”

Kata-kata Madrim juga:
“Penyakit orang miskin, curigaan!”
“Tuhan bisa kesel, katanya Maha Pengasih?!”
“Jadi perempuan jangan pasrah!”

Kalimat yang paling kusuka:
“Wayang ibarat cermin, seperti melihat kita sendiri”

**************************************************************************************************
Film yang diadaptasi dari cerpen Jujur Prananto yang dimuat di Kompas, 15 April 2001

Diakhir cerita tertulis:
“Dedicated to My Noura…”
Askurifai berpendapat bahwa kehadiran sutradara di lapangan, selain dibekali skenario dan shooting script juga membawa pribadi dan subjektivitasnya (Baksin, 2003:80).