buku, resensi

REVIEW Ganjil Genap

Alasan sebenar-benarnya dari putus karena tidak cocok adalah ada orang lain yang lebih cocok. (hlm. 101)

Pacaran sudah tiga belas tahun lamanya, tentunya Gala seperti perempuan pada umumnya, mengharapkan hubungan ke jenjang yang lebih serius; pernikahan. Tidak ada angin, tidak ada hujan, Bara, pacarnya sejak SMA itu memutuskannya di parkiran sebuah mall sesaat mereka pulang dari kantor masing-masing. Gala makin kalang-kabut karena ibunya kerap menanyakan hubungannya dengan Bara yang sebenarnya sudah putus, ditambah lagi adiknya sudah serius dengan pacarnya untuk menikah. Apa yang harus dilakukan Gala?

Kita putus ya, Gal?”

Gimana maksudnya? Aku nggak ngerti.”

“Kita selesai, Gal. Aku sama kamu.”

“Kamu kesambet, Bar?”

“Nggak, Gal. Aku serius. Kita putus. Kamu sama aku.”

“Kenapa?”

“Gal, aku nggak mau nyakitin kamu.”

“Dan kamu pikir kayak gini nggak nyakitin aku?”

Aku nggak bisa lagi sama kamu.”

Kenapa? Kita nggak ada berantem. Kita nggak ada omongan apa-apa juga loh, Bar. Terus tiba-tiba kamu bilang kayak gini. Maksudnya apa? You don’t make sense?”

Gal, please.”

“Harusnya aku yang ngomong gitu. Please tell me what happens. Kamu jadi nggak suka cewek lagi? kamu kena pelet? Kamu kesambet atau apa?”

Aku cuma mikir buka kamu orangnya.”

“Kenapa baru sekarang? Setelah tiga belas tahun, kamu baru sadar aku bukan orangnya? Kenapa nggak tahun lalu, tiga tahun lalu, atau sepuluh tahun lalu, Bar? Kamu.. tega sih. Kamu ngaco! Kamu delusional!” (hlm. 14)

Hampir separuh hidupnya, tanpa disadari Gala lebih sering menghabiskan waktunya bersama Bara. Mulai dari makan bareng, nonton bareng, sampai apa pun bareng. Dan tanpa di sadari juga, setiap melakukan hal apa pun bakal teringat Bara, sang mantan. Selama tiga belas tahun itulah Gala mau tak mau mengikuti selera Bara; mulai dari makan, nonton dan hal-hal lainnya. Dan yang paling terasa adalah ketika selama ini mereka membawa kendaraan secara bergantian demi melewati ganjil-genap yang diterapkan di Jakarta.

“Tiga belas tahun, gue diputusinnya di parkiran. Sudah lebih hina dari kotoran!” (hlm. 18)

Tidak mudah bagi Gala untuk move on, dan tidak mudah juga mencari pengganti Bara di sisinya. Untuk seumurnya, paham banget jika circle pertemanan Gala tentunya sungguh sempit. Ditambah lagi dulu dia kuliah di Melbourne. Jadi bisa dipastikan temannya hanya saat masa-masa sekolah dan teman kantor saja yang hanya sebatas kerja. Yang benar-benar teman hanyalah Nandi dan Sydney yang selalu siap sedia menemaninya dan juga mendengarkan keluh kesahnya.

Kalau bosannya udah lama, gimana?”

“Dia berutang penjelasan. Tapi, mental lo siap kalau dia tetap nggak kasih tahu alasannya?” (hlm. 20)

Banyak hal yang dilakukan Gala dengan segala upayanya mencari pengganti Bara dengan waktu mepet sebelum adiknya menikah duluan. Mulai dari les renang sampai nongkrong di tempat makan pasca pulang kantor. Sebenarnya Gala ini mending banget loh, dibalik kejombloannya, bisa menyepi ke Penang, Malaysia. Ya maklum, dia memiliki karir yang cukup mapan. Halooo…apa kabar yang udah jomblo, kantong pas-pasan pula, hahaha… x)

Dari semua pendekatan yang dilakukan Gala dengan beberapa cowok, yang paling bikin ngakak tuh pas Gala mencobat pendekatan ama Adi. Anjirrr…parah banget nih cowok. Masak iya nge-date pertama, Gala yang memang lagi laper berat malah diajak makan mie dengan alasan tempatnya instagramable, trus pas bayar alasan nggak punya duit cash. Black list lah cowok macam gini x)) #IkutEsmosi

Penulis menyelipkan semacam peringatan bagi perempuan dewasa dengan tokoh Gala ini untuk menjaga pola makan. Selain dia jarang banget makan mie, dia tidak minum yang mengandung banyak gula, juga lebih senang mengkonsumi makanan yang sehat, bahkan sampai mikir makanan yang dikonsumsinya harus membuatnya bisa mengeluarkan ASI yang banyak kelak. Hadewh…. aku yang suka jajan dan makan apa aja ini rasanya seperti disentil.. x))

Jomblo menjelang tiga puluh tahun dan tinggal di Indonesia adalah ujian hidup. (hlm. 16)

Dari sekian banyak tokoh yang ada, aku malah paling suka dengan Nandi, sahabat Gala. Meski berusaa mencarikan Gala pacar baru, sebagai sahabat dan juga dari sisi cowok, dia realistis. Bisa menebak mana yang baik dan juga tidak baik bagi Gala. Mulutnya terkadang pedas, tapi tips-tips yang diberikannya lebih banyak benarnya. Dan satu lagi, dia tidak menjadikan Gala seperti perempuan yang kebelet menikah.

Beda dengan Sydney, yah..namanya emak-emak beranak satu, rada ceroboh jika memutuskan suatu hal meski sebenarnya baik. Beruntungnya dia, memiliki suami tjakep dan juga mapan x))

Dan yang paling aku nggak suka tuh adiknya Gala, Gisha. Adik macam apa itu marah-marah pas tahu kakaknya jomblo, dan malah mencemasakan nasib pernikahannya akan terhambat jika sang kakak putus dari pacarnya tanpa memikirkan perasaan kakaknya 😯😯 Begitu juga dengan mamanya Gala yang tipikal mamak-mamak Indonesia yang takut banget anaknya belum nikah-nikah dan takut omongan orang lain. Pengalaman nih ya, dulu adikku pas mau berencana menikah yang artinya ngelangkahin aku, dia ngomongnya ati-ati banget. Takut melukai perasaanku. Malah dia yang nangis. Aku yang sebenarnya udah sadar bakal dilangkahin, nggak masalah dilangkahin adik karena dengan prinsip justru aku akan berdosa jika menghambat pernikahannya tapi akhirnya nangis juga pas liat dia minta ijinnya sambil nangis. Mana adikku ini kan cowok, jadi ya sungguh jarang banget liat dia nangis, hahaha… x)) Dan menurutku, dilangkahin tuh nggak semenakutkan yang kita kira. Aku dulu bakal mikir, waduh nanti pas adekku ijab kabul bakal kuat nggak ya. Terus udah pasrah, kalau nangis mah nanti nangis aja nggak usah ditahan. Ternyata pas hari H, aku sama sekali nggak nangis. Malah aku menguatkan adekku dengan mengelus punggungnya saat grogi baca pas ijab kabul. Ditambah lagi, pas acara temu manten ala adat Jawa yang biasanya nangis-nangisan, aku yang bagian paling depan bawa pisang emas nggak nangis blas, begitu pula setelahnya aku duduk di panggung pelaminan bareng pengantin, berdampingan dengan bapake, menggantikan ibu sambungku yang kala itu memang sedang sakit saraf kejepit di bagian paha sampai kaki yang artinya tidak bisa duduk lama-lama di panggung sepanjang hari. Pasca acara, aku kok juga heran kenapa bisa sekuat itu, nggak ada beban sama sekali, hahaha… x)) Etapi bukan berarti nggak nangis blas, aku nangisnya pas udah sorean waktu aku, ma bapake dan adik-adikku yang lain pamit pulang, pas meluk dia dipanggung pelaminan, kita malah nangis bareng, nangisnya tuh bukan karena dilangkahin, tapi nangis karena sedih harus pisah ama dia, padahal seminggu kemudian adek nempatin rumah disamping rumah bapake, yang artinya bakal ketemu tiap hari lagi, hahaha.. 😂😂 #MalahTjurhat

Ini buku ketiga karya penulisnya yang aku baca. Selalu suka gaya penulisannya. Jalan ceritanya retable dengan kehidupan sehari-hari. Aku suka dengan keputusan penulisnya membuat endingnya seperti ini. terlihat bijaksana dan menjadi pembelajaran bagi para lajang di luaran sana bahwa menikah bukanlah hal perlombaan yang harus dulu-duluan. Penasaran kan endingnya?!? 😉

Hanya menemukan satu typo dalam buku ini: menawaran harusnya menawarkan di halaman 114.

Dan tokoh yang mirip ama aku tuh sifatnya adalah Mas Aiman. Ada yang penasaran apa miripnya? Baca aja bukunya sendiri, hahaha.. x)) Pokoknya, aku suka banget ama buku ini 😉

Banyak banget selipan halus dalam buku ini:

  1. Pembicaraan penting pasangan Jakarta sering kali terjadi di dalam kendaraan. (hlm. 7)
  2. Kalian juga pacaran sudah lama, mau kenal berapa lama lagi? (hlm. 11)
  3. Semrawut ya dunia. Jadi pengin hidup lebih lama karena nggak kebayang neraka sekacau apa! (hlm. 17)
  4. Kalau cinta sudah tak ada. Enaknya maksa gimana ya? (hlm. 24)
  5. Sahabat adalah pertolongan pertama pada saat putus cinta. (hlm. 31)
  6. Begitu tingginya kriteria, begitu sempit waktu. (hlm. 36)
  7. Mana ada cowok Indonesia yang ikutan biro jodoh. Biro pijat sih, iya. (hlm. 38)
  8. Duh, susah ya kalu main sama nyonya-nyonya kayak lo pada. Menghindari Ganjil-Genap saja pergi liburan. Nggak bisa apa tidur di kasur? (hlm. 41)
  9. Berharap jodoh duduk sebelahan di pesawat itu seperti berharap gaji langsung naik 50% (hlm. 42)
  10. Tuhan baik, Tuhan pasti baik. Bukankah banyak cerita kalau jodoh itu digantinya cepat? (hlm. 48)
  11. Kenapa setelah diputusin harus di-block juga di media sosial? (hlm. 56)
  12. Berburu jodoh juga harus pakai skill. (hlm. 61)
  13. Coba ya kepada para pria muda yang sudah menikah, kenapa sih kalian tidak memakai cincin pernikahan kalian? Takut hilang pas makan nasi padang? (hlm. 68)
  14. Salah satu pintu perjodohan adalah teman yang baik. (hlm. 72)
  15. ISPA nggak mungkin terjadi cuma karena menghirup polusi selama satu hari. (hlm. 99)
  16. Jujur sama perasaan lo sendiri. Sedih ya ngomongin sedih. Marah ya ngomong marah. (hlm. 95)
  17. Nggak usah ngomong kalau kebanyakan basa-basi. (hlm. 104)
  18. Kalau jomblo, minimal mesti nongkrong, jangan buru-buru pulang ke rumah. (hlm. 111)
  19. Cowok memang aneh. Hidup bisa tenang, tapi penginnya hidup ‘dihantui’. (hlm. 128)
  20. Kalau dari awal nggak suka mending jangan dilanjutkan, daripada naksir kemudian dan repot selamanya. (hlm. 132)
  21. Ban kempes adalah saat menjadi jomblo itu nista adanya. (hlm. 145)
  22. Emang ada yang nggak suka diperhatikan? (hlm. 148)
  23. Nggak berarti kamu harus selalu menghadapi semuanya sendirian. (hlm. 149)
  24. Sepandai-pandainya menyimpan rahasia, akhirnya harus mengaku juga. (hlm. 160)
  25. Tekanan yang diberikan kepada individu tertutup, akan diteruskan ke segala arah dengan sama besar. (hlm. 167)
  26. Tidak mendapat jodoh di darat, berarti waktunya ‘mengepakkan sayap’ di lautan. (hlm. 172)
  27. Jangan terlalu ngoyo mencari jodoh, nanti jadinya sakit. (hlm. 182)
  28. Cowok berkualitas itu kalau bukan pacar orang atau suami orang, mungkin nggak suka cewek. (hlm. 192)
  29. Mencari jodoh lewat bantuan Tuhan itu niatnya harus gimana sih? (hlm. 199)
  30. Cewek bukan hanya butuh kenyamanan, tapi juga kepastian. (hlm. 216)
  31. Wanita mana yang tidak luluh kalau dirayu terus? (hlm. 225)
  32. Salah satu nikmat Tuhan adalah punya gandengan baru yang lebih oke saat bertemu mantan. (hlm. 234)
  33. Jodoh bukan sesuatu yang bisa dipaksa, sesederhana itu. (hlm. 244)
  34. Malas, tapi kan tetap harus dihadapi. Yang harus kamu ingat, jam itu selalu berdetak. Nggak peduli sesulit apa pun, semua pasti akan lewat. (hlm. 247)
  35. Kangan sama mantan itu wajar, apalagi kalau pacar barunya ternyata ‘turun kelas’. (hlm. 252)
  36. Apa artinya move on kalau kenangan memanggil? (hlm. 262)
  37. Karena kenangan saja tidak cukup. (hlm. 267)
  38. Apa salahnya memberikan kesempatan kepada gebetan? (hlm. 275)
  39. Jatuh cinta mah nggak perlu alasan kali. Kalau jatuh cinta butuh alasan, makin banyak jomblo di dunia ini. (hlm. 279)
  40. Patah hati tidak hanya mengajarkan apa yang tidak kita mau, tapi juga memberikan keberanian untuk menjalani apa yang kita mau. (hlm. 281)
  41. Kalau lagi ngobrol sama orang, jangan sambil main HP. Memangnya aku membosankan? (hlm. 283)
  42. Enaknya jadi jomblo mapan adalah bisa ganti suasana. (hlm. 288)
  43. Beberapa orang secara naluriah memang takut menikah. (hlm. 297)
  44. Sepandai-pandai bermain hati, kalau patah tetap nangis juga. (hlm. 324)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Ganjil Genap

Penulis                                 : Almira Bastari

Editor                                    : Claudia Von Nasution

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : Januari 2020 (Cetakan Kedua)

Tebal                                     : 344 hlm. ISBN                                      : 9786020638010

1 thought on “REVIEW Ganjil Genap”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s