Uncategorized

REVIEW Matinya Pendidikan

Tuhan teknologi. Tuhan ilmu pengetahuan berbicara kepada kita mengenai pemahaman sekaligus kekuatan, sedangkan tuhan teknologi hanya berbicara sekaligus kekuatan. Tuhan teknologi menghancurkan penegasan dari Tuhan secara agama bahwa surga hanyalah sebuah penghargaan atau karunia yang diterima sesudah mati. Tuhan teknologi menawarkan hal-hal yang menyenangkan dalam hidup, efisiensi, dan kemakmuran pada saat ini dan di sini, serta menawarkan kemanfaatannya untuk semua, kepada orang kaya juga kepada yang miskin, sebagaimana hanyla yang dilakukan oleh Tuhan agama. Namun, Tuhan teknologi berjalan sangat jauh. Karena dia tidak sekedar memberikan kesenangan pada yang miskin, maka dia menjanjikan bahwa melalui pengabdian kepadanya, orang miskin itu akan menjadi kaya.

Continue reading “REVIEW Matinya Pendidikan”
Uncategorized

REVIEW Baca Buku Ini Saat Engkau Lelah

“Kehidupan masa kanak-kanak akan kita bawa sepanjang hidup, seperti sebuah konsep cetak biru; berisi keterkaitan emosi yang muncul kemudian. Keluarga yang saling membahagiakan dan saling mendidik adalah tempat kita belajar tentang perasaan, mana yang bisa diterima, mana yang memadai, dan perasaan mana yang sama sekali tidak boleh kita miliki. “ (hlm. 134)

Continue reading “REVIEW Baca Buku Ini Saat Engkau Lelah”
Uncategorized

REVIEW Tak Apa untuk Merasa Tak Baik-baik Saja

Kita tidak berbicara tentang pagar batas yang rapuh; kita mendirikan ‘pagar listrik’. Kamu bisa membuat gerbang di tengahnya, kita harus sangat hati-hati ketika ingin membukanya. Ingatlah, kita mengajarkan kepada orang-orang bagaimana mereka harus memperlakukan diri mereka sendiri dengan cara menunjukkan bagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri, dan jika kita tidak terbiasa untuk mendirikan atau menentukan batasan, maka kita akan merasa itu sangat sulit dilakukan pada awalnya. Meskipun sebenarnya tidak sesulit itu.

Continue reading “REVIEW Tak Apa untuk Merasa Tak Baik-baik Saja”
Uncategorized

REVIEW Gempa Literasi

Reading society menjadi prasarat utama menuju advance society. Kenyataan bahwa Indonesia kurang buku. Di tahun 2009 saja yang saat itu masih berpenduduk 225 juta baru bisa memproduksi 8.000 judul buku per tahun. Artinya di Indonesia saat itu hanya ada 35 judul buku per 1 juta penduduk. Sekarang lebih memprihatinkan lagi, jika kita sering mengikuti webinar-webinar yang diadakan oleh Perpusnas RI, Bapak Syarief Bando sering menjelaskan jika perbandingan satu buku ditunggu 90 orang. Jadi selain darurat membaca, sebenarnya Indonesia juga darurat buku.

Continue reading “REVIEW Gempa Literasi”