REVIEW Yes, I Do (But Not With You)

img_20170101_103816

Balas dendam terbaik adalah move on dengan bahagia dan membiarkan karma membereskan sisanya. (hlm. 115)

AMY. Demi Joshua, dia menjadi sekretaris tanpa digaji yang menerima telepon untuknya, membuatkan janji pertemuan untuknya, mengurusi urusan surat menyurat atas namanya, meminta maaf dan koleganya ketika dia terlambat atau tidak bisa menepati jadwal yang sudah disepakati. Belum lagi, Amy juga melakukan tugas pekerjaan rumah seperti mencuci dan menyetrika pakaian, membersihkan ruangan kerjanya, memasak untukmu, memastikan stok white coffe dan camilan kesukaannya yang tidak pernah habis. Semuanya dilakukan hanya untuk Josh yang (dulunya) amat Amy cintai.

 “Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Josh bukan hanya mengkhianatiku, tapi dia juga sempat menghamili gadis itu. Mau tidak mau aku jadi berpikir negative, apakah perempuan hamil itu satu-satunya selingkuhan Josh, atau selama enam tahun ini ada beberapa perempuan lain.” (hlm. 24)

“Selama enam tahun ini Josh menjadi poros hidupku. Sekarang kejadian ini membuatku gamang karena aku tidak tahu seperti apa aku harus menjalani hidupku mulai besok.” (hlm. 25)

Penghianatan Joshua menjungkirbalikkan dunianya. Ia memiliki kekasih tampan dengan karier terus melejit yang tahun depan harusnya resmi menjadi suaminya. Dan ia memiliki pekerjaan yang diidam-idamkan banyak wanita di dunia; mendukung karier dan memastikan kesuksesan calon suaminya, karena selama ini ia berpendapat kesuksesan Joshua adalah factor utama kebahagiaan mereka – kebahagiaannya.

Ternyata kesuksesan menggoyahkan kesetiaan Joshua. Sementara Amy menunggunya di rumah sambil mengurus hampir semua jadwal keseharian dan kebutuhan Joshua selayaknya seorang istri. Joshua diam-diam menggunakan smartphone rahasianya untuk merayu wanita lain yang seumuran atau bahkan lebih muda, untuk berkencan. Ini tidak adil bagi Amy yang dengan penuh kesadaran menjaga hatinya dari laki-laki lain. Sementara Joshua, dengan penuh kesadaran juga, meniduri wanita lain.

Untuk saat ini, Amy tidak tahu lagi sakitnya di mana. Ia merasakan setiap jengkal dirinya terluka. Bahkan penderitaan dompet Joshua yang harus menanggung biaya permak mobil bersama mereka yang dirusak Amy untuk meluapkan kekesalannya masih tidak sebanding dengan deritanya saat ini.

“Dan karena dia motivator, kuharap dia bisa memotivasi diri sendiri sejago dia memotivasi orang lain.” (hlm. 213)

JOSHUA. Seorang motivator muda yang mulai naik daun namanya di Medan. Hubungannya bersama Amy sudah memasuki tahun ke enam. Kesuksesan karirnya tidak diimbangi dengan sikapnya. Dia mengkhianati kesetiaan Amy yang selalu mendukung karirnya dari nol. Tanpa Amy, Joshua bukanlah siapa-siapa.

Pada masa lalu, kehidupan cinta Amy sangat sempurna dan bahagia menurut standar umum, kepada pasangan yang putus cinta Amy sering menyuruh mereka move on dengan ringan. Ia mengatakannya seolah move on dari hubugan yang menciptakan banyak kenangan dan harapan semudah memindahkan tahu goreng dari wajan ke piring.

Kenyataannya sungguh tidak semudah itu, Amy sendiri mengakuinya. Kenangan tentang kemesraan dan kebahagiaan bersama Joshua hadir berualng kali dalam frekuensi dan intensitas yang sesekali masih membuat air menetas tanpa diinginkan. Ingatan tentang hari-hari indah itu datang dibawa angin lembut, lalu buyar berantakan disapu badai.

“Jika kau perempuan yang Joshua hamili, apakah kau ingin Joshua bertanggung jawab?” (hlm. 103)

Kisah Amy merupakan representasi perempuan dewasa yang mempersiapkan diri di ambang pernikahan. Jika novel romance pada umumnya menceritakan kisah sang perempuan yang berakhir happy ending atau sad ending dengan pasangan pilihan, justru di novel ini baru dimulai cerita ketika sang tokoh perempuan dikhianati pasangannya. Jalan apakah yang harus ditempuh; terus-terusan meratapi diri atau move on dan membuka pandanagn seluas-luasnya.

Dalam kehidupan nyata, kita pun sering melihat bahwa lamanya menjalin sebuh hubungan, nggak menjamin langgengnya sebuah hubungan. Banyak juga yang lama-lama pacaran, malah nggak berakhir ke pernikahan. Justru kadang ada yang belum lama kenal, malah langgeng sampai menikah.

Suka dengan pesan moral yang disampaikan buku ini. Jika belum menjadi pasangan sah kita, jangan pernah mencoba terlalu percaya segalanya, apalagi sampai nabung bareng, ataupun kredit rumah bareng. Karena begitu putus, selalu ada pihak yang dirugikan, terutama kaum perempuan. Kasus seperti ini juga sering terjadi di kehidupan nyata.

Selain kisah Amy, Joshua dan Gabriel, ada juga kisah Lucia dan Paris. Mereka adalah sahabat Amy yang merintis usaha bersama dalam bidang kuliner. Justru greget ama kisah Lucia dan Paris. Berharap kisah mereka dibuat buku tersendiri 😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. A friend is someone who thinks you are a good egg even though you are slightly crack. (hlm. 18)
  2. Kadang-kadang, orang tidak butuh bahu untuk bersandar atau teman untuk menangis bersama; mereka hanya butuh telinga yang bersedia mendengarkan tanpa menyertakan bibir yang menghakimi. (hlm. 24)
  3. Tidak ada salahnya mencoba. Tidak menyakitkan juga. (hlm. 70)
  4. Tidak ada yang kebal dari masalah, bahkan orang mati menghadapi masalah apakah ada yang menangis untuknya. (hlm. 130)
  5. Jika setiap rencana yang kita susun terlaksana dengan lancer dan terwujud tanpa gangguan baik dari orang lain maupun situasi, hidup pasti bisa dikatakan sempurna. (hlm. 172)
  6. Ada hal-hal yang kita tidak ingin tahu, tapi kita harus belajar darinya. Dan ada orang-orang yang kita merasa tidak bisa hidup tanpanya, tapi harus kita lepaskan. Tidak semua orang dalam kehidupan kita direncanakan bertahan selamanya bersama kita. (hlm. 201)

Beberapa kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Apakah tidak malu menunjukkan kelemahanmu di depan wanita cantik? (hlm. 32)
  2. Jangan mengurung diri terus. (hlm. 59)
  3. Karena hidup butuh distraksi. (hlm. 62)
  4. Jangan-jangan orang lebih mudah berbohong ketika lapar. (hlm. 77)
  5. Ternyata bukan hanya membuat orang buta, cinta juga bisa membuat orang gagal menggunakan logika sehingga tidak bisa melihat kenyataan. (hlm. 105)
  6. Cinta yang murni tidak memaksakan apa pun, hanya mengikhlaskan tanpa menjadi bodoh dalam penyelesaiannya. (hlm. 115)
  7. Semesta kadang-kadang bisa sangat kejam, mengabulkan keinginan seseorang dengan menghancurkan kebahagiaan orang lain. (hlm. 152)
  8. Semesta kadang-kadang terkesan seenaknya menobrak-abrik kehidupan kita yang selama ini tenteram dengan menunjukkan karakter asli orang lain yang terkait. (hlm. 153)
  9. Sayang hidup tidak sempurna. Jebakan Batman di mana-mana. Kegagalan senantiasa mengintai. Kadang-kadang, rintangannya bisa kita duga dan antisipasi, kadang-kadang muncul begitu saja seperti jerawat di ujung hidung atau bisul di pantat. (hlm. 172)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Yes, I Do (But Not With You)

Penulis                                 : Shandy Tan

Illustrator cover                                : Yulianto Qin

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2017

Tebal                                     : 224 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-3711-1

img_20170101_103833

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s