buku, resensi

REVIEW Wonderful Life

Lelaki memang terkadang sangat manis dan romantis. Tapi ternyata masih banyak yang menyebalkannya. (hlm. 131)

SHEIRA. Sebenarnya, ketika Sheira masih menginjak bangku kuliah, dia sering membantu di perusahaan orangtuanya. Tentu saja, sebagai tour guide. Negara-negara di Asia, Afrika Selatan, Australia juga sebagian Amerika sudah pernah disambanginya. Hal ini bukan aji mumpung, tapi karena kebetulan Sheira suka sekali dengan travelling. Menjadi tour guide, hitung-hitung bisa travelling secara gratis, pikirnya saat itu.

Ketika papanya memintanya untuk bekerja di perusahaan papanya itu, Sheira mau semuanya berjalan normal. Ia ingin diperlakukan normal selayaknya karyawan lainnya. Tidak mau diistimewakan. Dia hanya mau diakui karena kemampuannya, bukan karena anak papanya sebagai pemilik perusahaan.

Sheira mengawali karirnya dengan niat tulus dan semua pekerjaan dijalani dengan sukacita. Tidak ada kesombongan, walaupun dia bisa melakukannya. Seperti ketika ada bencana nasional, kebanjiran melanda seluruh daerah Jakarta, Sheira turun langsung dengan para karyawan lainnya untuk memberikan bantuan kepada para korban. Dia bisa menempatkan diri sebagai teman dan teman kerja yang loyal, bukan sebagai anak sang pemilik perusahaan.

“Bekerjalah dengan serius, Dik Sheira, kami percaya keseriusanmu untuk turut andil membesarkan perusahaan ini.” (hlm. 9)

NOAH. Dia sengaja membeli paket travelling ke New Zealand sebulan yang lalu. Sebenarnya pekerjaan mereka cukup menjanjikan, kalau saja wanita itu tidak mengusik dirinya.

Senyum tipis menghias bibirnya ketika mengingat kejadian sebulan lalu ketika di New Zealand. Wanita itu memang sedikit menyebalkan, tapi selebihnya wanita itu sangat menarik perhatiannya. Sekadar informasi, Noah merupakan lelaki metroseksual yang sangat menarik di mata para wanita yang setaraf dengan dirinya. Sehingga hari-harinya selalu dikelilingi oleh wanita-wanita cantik seksi seperti Megan Fox, secantik Jennifer Lawrence, seimut Selena Gomez, dan lainnya. Semua tipe tersebut pernah menjadi teman wanita Noah, walaupun tentu saja tidak pernah bertahan lama karena alasan ketidakcocokan. Dan Noah tidak pernah merasa kesulitan untuk melupakan mereka semua. Tapi tidak halnya dengan wanita itu, Sheira Bellarosa.

Ada alasan lain juga mengapa dia sampai tidak bisa melupakan wanita itu. Dan mungkin sebaiknya dia harus bisa membedakan antara urusan pribadi dengan bisnis kalau tidak mau semua rencananya hancur berantakan.

Sebenarnya tema yang diangkat lumayan mainstream: benci jadi cinta. Awal mula Sheira bertemu Noah, karena suatu perjalanan dimana Sheira menjadi tour guide ke New Zealand, sedangkan Noah adalah salah satu peserta di rombongan tersebut. Sejujurnya dari awal baca buku ini, aku nggak suka tipe cowok macam Noah. Nih ya, pertama, dia nggak mau mengikuti aturan rombongan untuk mengenakan seragam dan warna celana yang sama: hitam. Hal itu dimaksudkan agar salah satu peserta terpisah dari rombongan akan gampang mencarinya. Ya kalo misal dia nggak mau, kan bisa ngomongnya baik-baik. Ini udah nggak mau, ngegas pula ngomongnya x)) Kedua, pas tasnya ilang saat turun dari pesawat. Hambok ya cari dulu, sapa tau kelupaan ketinggalan di mana gitu, malah nyalahin Sheira sebagai tour guide rombongan mereka yang harus menjaga barang-barang mereka. Lha, lu pikir tour guide sama dengan baby sitter?!? X))

Begitu juga saat Sheira dan Noah akan melangsungkan pernikahan, apa-apa yang mengurusi Sheira sendiri. Okelah jika Noah nggak mau ambil ribet karena menurutnya itu urusan pihak perempuan, pihak laki-laki hanya memberi uang dan menerimanya. Tapi apa? Noah juga banyak mengatur. Acaranya musti ada tarian, ya maklum dia ada keturunan India x)) Undangan hanya terbatas, belum lagi menyuruh Sheira buat belajar memasak jenis makanan-makanan India. Lha, awalnya nggak mau ribet, tapi ujung-ujungnya banyak mengatur. Gimana coba?!?

Menurut aku sih yaaa… cowok tjakep, mapan, karir cemerlang, pokoknya tampak sempurnalah, tapi kalo attitude minus ya segalanya jadi zonk juga sih.. bye-bye ajalah cowok kayak gini, sorry to say kalo aku mah ama yang kayak gini, hahaha… x))

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kalian berdua sok romantis deh. Bikin iri aja! (hlm. 25)
  2. Cari pacar sih, gampang. Cari suami yang susah! (hlm. 25)
  3. Ketika seorang wanita jatuh cinta, dia pasti akan langsung berubah menjadi lemah dan cengeng. (hlm. 155)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Wonderful Life

Penulis                                 : Nina Rosmina & Pipit Setiafitri

Desain cover                      : Dyndha Hanjani P.

Penata isi                             : Yusuf Pramono

Penerbit                              : PT Grasindo

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 208 hlm.

ISBN                                      : 978-602-375-146-4

1 thought on “REVIEW Wonderful Life”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s