Uncategorized

REVIEW Hidup itu Pilihan

“Jika pilihan hanya sebatas baik dan buruk, maka seharusnya mudah bagi kita untuk memilih. Namun, lebih dari itu, ada kalanya pilihan berwarna abu-abu.” (hlm. 1)

Sebagaimana sebuah representasi kehidupan, memilih merupakan sebuah proses yang tidak akan pernah lepas dari hidup manusia sampai kapan pun. Oleh karena itu, memilih menjadi hak individu dalam melangsungkan hidup. Hak untuk menentukan pilihan ini mencakup cara seseorang memilih jalan hidupnya, karirnya, rekannya, serta berbagai pilihan kecil lain yang berdampak besar. Dan, tidak ada satu orang pun yang bisa merampas hak memilih seseorang, kecuali dengan membatasinya dengan hak pilih milih orang lain yang bisa jadi berbeda.

Terkadang, ketika berada dalam situasi sosial, kita mengelompokkan pilihan berdasarkan pemilihnya. Pilihan dengan pemilih terbanyak akan masuk dalam kelompok mayor. Sedangkan, pemilih yang lebih sedikit masuk dalam kelompok minor. Pengelompokan merupakan hal wajar, pun dengan perbedaan dalam pilihan. Tentunya, karena setiap orang memiliki cara menilai dan pandang berbeda, terbentuk berbagai perbedaan tersebut. Hanya saja, hal yang penting ialah pemikiran kita dapat terlibat dalam pilihan tersebut, bukan berdasarkan pilihan orang lain.

Seringkali kita ragu dan bertanya-tanya, apakah pilihan mayor merupakan pilihan yang benar dan pantas dipilih? Tentu tidak. Pilihan kita menentukan diri kita yang sebenarnya, dan tidak ada hubungannya dengan orang lain. Oleh karena itu, jangan takut untuk memilih sesuatu yang berbeda. Sebab, hal yang kita lakukan ialah menunjukkan cara kita dalam menilai sesuatu dan cara kita memandang sesuatu tersebut. Lebih dari itu, biasanya pilihan berkaitan dengan keinginan. Sehingga, tidak ada salahnya bagi kita untuk menunjukkan hal yang berbeda, karena setiap orang terlahir dengan keinginan berbeda pula.

Ada kalanya, ketika pilihan kita masuk dalam kelompok minor, kita menjadi tidak percaya diri alias ragu jika hal yang kita pilih tidak tepat. Padahal, tidak semua pilihan benar. Karena, setiap orang memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda. Sehingga, sudah pasti pilihan yang diambil pun berbeda. Oleh karena itu, tidak perlu ragu atas pilihan sendiri. Sejatinya, orang yang mengetahui hal yang diinginkan oleh diri kita ialah kita sendiri, bukan orang lain. Itu pula yang menjadikan memilih untuk diri sendiri jauh lebih dibutuhkan dibanding orang lain yang menentukan pilihan untuk kita.

Bisa jadi, beberapa orang memiliki batasan dalam menentukan jalan hidupnya. Misalnya karir yang telah ditentukan oleh orang lain. Jika pilihan karir tersebut sesuai dengan minat dan keinginan, tentu hal tersebut tidak menjadi masalah. Namun, bagaimana jika tidak? Maka, itu berarti kita telah memberikan kontrol akan hidup pada orang lain, kan? Salah satu cara untuk mengatasi hal ini ialah dengan mengatakan ketidaksesuaian yang kita rasakan.  Terkadang menjadi terbuka merupakan sebuah pilihan yang berat, tapi lebih baik ketimbang diam dan terkekang.

Jika ada orang yang tidak mengetahui pilihannya karena tidak memiliki banyak pilihan, maka bisa jadi ada juga orang yang tidak mengetahui harus memilih karena mendapat banyak peluang untuk memilih. Tentu saja, keduanya sulit. Tapi, barang kali akan sulit untuk menyisihkan dua hal yang kita sukai. Dalam hal ini, jika kita tidak mungkin menggeluti semuanya karena keterbatasan, maka kita bisa menyusun berbagai hal yang positif yang bisa kita dapatkan dari keduanya. Tentunya kita membangun karir untuk mendapatkan hal positif, bukan? Oleh karena itu, cobalah untuk melihat lebih jauh peluang yang lebih memiliki dampak positif bagi diri kita.

Saat dewasa, pilihan kita tidak hanya sekedar menjalankan karier, tapi juga membangun relasi dengan orang lain, alias berumah tangga. Beberapa orang merelakan karirnya untuk membangun relasi, tapi beberapa lainnya melupakan relasi karena terlalu sibuk membangun karir. Beberapa lagi, bisa jadi mereka dapat menyeimbangkan keduanya, sehingga tidak perlu bingung menghadapi situasi ini. Namun, jika harus memilih salah satu pastikan kita telah melihat lebih dekat serta mempertimbangkan berbagai hal yang sebenarnya kita butuhkan dalam hidup dan hal yang perlu kita sisihkan terlebih dahulu.

Tidak selamanya perjalanan karir berjalan mulus. Terkadang kita menemukan jalan buntu, yaitu keadaan ketika kita tidak bisa maju untuk melanjutkan perjalanan yang telah kita jalani selama ini. Namun, jalan buntu bukan berarti tidak ada pilihan. Pasti banyak pilihan yang bisa kita lakukan di jalan tersebut, entah dengan bergerak mundur, mencari jalan lain, berhenti sejenak atau memulai sesuatu yang baru. Ingatlah, selama kita hidup selama itu pula kita selalu memiliki pilihan untuk menentukan jalan hidup kita.

Memilih ialah sebuah kedewasaan. Jika saat masih kecil berbagai pilihan yang kita buat terbatas, maka sebagai orang dewasa, pilihan yang kita dapatkan menjadi lebih beragam dan kita berhak memilih apa pun untuk kebutuhan diri sendiri. Hal itulah yang kemudian membuat proses memilih menjadi sebuah bentuk kedewasaan. Oleh karena itu, ketika kita dewasa, cobalah untuk membuat pilihan bagi diri sendiri. Melalu berbagai pilihan tersebut, kita akan belajar banyak hal, termasuk bertanggung jawab atas pilihan yang kita buat. Dengan begitu, kita akan semakin dewasa dalam menyikapi segala permasalahan dalam hidup.

Sebenarnya, apa kemungkinan yang akan terjadi jika kita kehilangan kontrol diri akibat selalu bergantung pada pilihan orang lain? Hal pertama yang bisa jadi akan terasa ialah tidak adanya kesempatan untuk mendapatkan hal yang kita inginkan. Bisa jadi, keinginan kita dan keinginan orang lain berbeda. Sehingga membiarkan orang lain mengontrol pilihan kita bisa mengurangi kemungkinan keinginan serta tujuan yang ingin kita capai. Hal lainnya ialah hilangnya pengalaman memilih yang merupakan sebuah pembelajaran penting dalam hidup.

Memilih merupakan proses yang sulit hingga sebagian orang mengambil pilihan lain dengan berjudi alias mengadu nasib ketika diharuskan untuk memilih. Hal tersebut juga merupakan suatu pilihan yang dapat diambil, tapi apa yang sebenarnya mendasari hal tersebut? Jawabannya ialah ketidakyakinan untuk berusaha mempelajari pilihan kita. Padahal, dengan sedikit usaha dan percaya diri, kita bisa lebih mengandalkan diri sendiri ketika membuat pilihan daripada harus mengadu nasib dengan keberuntungan.

Walau berpikir dengan logika dan mempelajari realistas, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa jadi keberuntungan itu ada. Selain itu, pada dasarnya nasib setiap orang telah ditentukan dan hanya akan berubah jika kita menginginkannya. Sehingga, bisa jadi keberuntungan bisa dibilang ada, tapi pengaruhnya tidak akan sebanyak ketimbang ketika kita berusaha untuk melalui proses memilih yang panjang dan berliku. Hasilnya pun tentu akan berbeda. Ketika kita belajar dan pilihan yang dibuat, kelak kita bisa menggunakan cara lebih baik dalam memilih. Sednagkan, peruntungan hanya akan membuat kita menebak-nebak selamanya.

Keterangan Buku:

Judul                     : Hidup itu Pilihan

Penulis                 : Gyhna

Editor                    : Arin Vita

Proofreader       : Viki

Layout                  : Pandanarum

Desain cover      : Lanang

Penerbit              : C-Klik Media

Terbit                    : 2021

Tebal                     : 204 hlm.

ISBN                      : 978-623-357-005-3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s