REVIEW Inkheart

INKHEARTBarang siapa mencuri buku atau tidak mengembalikan buku yang dipinjamnya, di tangannya buku itu akan berubah menjadi ular yang mematikan. Otaknya tidak akan berfungsi lagi dan kelumpuhan melanda sekujur tubuhnya. Begitu nyaring dia akan berteriak memohon ampun, namun deritanya takkan dikurangi sampai ia mulai membusuk. Ngengat buku akan menggerogoti isi perutnya seperti cacing-cacing maut yang tidak bisa mati. Dan jika dia menjalani hukuman terakhirnya, api neraka akan memanggang tubuhnya sepanjang masa.

(Prasasti di Perpustakaan Biara San Pedro, Barcelona, dikutip oleh Alberto Manguel)

Adalah Meggie yang hidupnya dipenuhi buku-buku. Ayahnya yang merupakan ‘dokter buku’ mampu memperbaiki segala bentuk buku yang rusak. Meggie pun membantu ayahnya untuk urusan ‘membedah’ buku. Meggie memanggil ayahnya dengan nama Mo.

Apa yang bisa membuat orang tersandung di rumah mereka selain buku? Di setiap penjuru rumah ada tumpukan buku. Buku-buku itu tidak hanya di rak-rak seperti rumah biasa, tetapi juga ada di bawah meja, di kursi, di pojok kamar. Di dapur, di kamar mandi, di atas televisi, dan di dalam kamar lemari pakaian juga ada tumpukan buku. Ada yang rendah, ada yang tinggi. Buku yang tebal, tipis, lama, baru, semuanya ada. Buku-buku itu menggoda Meggie di meja makan saat sarapan dengan halaman-halamannya yang terbuka, mengusir kebosanan jauh-jauh, dan kadang membuat orang tersandung.

Beberapa buku harus kita coba

Beberapa bisa ditelan,

Namun hanya ada sedikit yang bisa kita kunyah lalu cerna dengan sempurna. (hlm. 15)

Dalam buku aku bertemu dengan mereka yang telah mati, seolah mereka masih hidup,

Dalam buku aku melihat apa yang akan datang, semua akan hancur dan musnah seiring berlalunya waktu;

Yang terkenang akan terlupakan,

Jika Tuhan tidak menganugerahkan buku untuk menolong manusia yang fana.(hlm. 513)

Dulu kadang Meggie mencari figur yang pas untuk menjadi ibunya di buku-buku yang ia baca, namun dalam buku-buku kesukaannya, pencariannya nyaris tidak menemui hasil: Tom Sawyer? Tidak punya ibu. Huck Fin? Juga tidak. Peter Pan, anak-anak The Lost Boys? Tidak ada ibu satu pun dan dalam dongeng yang ada cuma ibu tiri yang jahat, tidak punya hati, ibu pencemburu. Dulu hal ini sering membesarkan hati Meggie. Sepertinya tidak punya ibu bukan keadaan yang luar biasa aneh, setidaknya itulah yang ia tahu dari buku-buku favoritnya.

Cerita, novel, dongeng –semua seperti mahluk hidup dan mungkin memang mahluk hidup. Semua punya kepala, kaki, sistem peredaran darah, dan pakaian seperti manusia sungguhan. (hlm. 263)

Selama ini Meggie selalu percaya Mo punya banyak sekali buku. Namun begitu ia masuk ke rumah Elinor, Bibi Ibunya Meggie, keyakinannya berubah. Tidak ada tumpukan buku yang berantakan seperti di rumah Meggie. Setiap buku seperti punya tempat sendiri. Di tempat-tempat yang biasanya dipasangi hiasan, gambar, atau dibiarkan saja menjadi sebidang dinding kosong, Elinor malah memenuhinya dengan rak-rak buku. Di ruangan besar yang pertama mereka masuki bersama Elinor terdapat rak-rak putih yang tingginya mencapai atap. Di dalam kamar yang mereka lewati kemudian, rak-raknya berwarna hitam, sehitam ubin yang menutupi lantainya, begitu juga selasar yang mereka masuki setelah itu.

Elianor memang cukup kaya. Tapi suatu saat nanti dia mungkin akan semiskin tikus karena membelanjakan semua uangnya untuk membeli buku. Aku takut dia juga tak akan ragu menjual jiwanya, jika ada iblis yang bisa memberikan buku yang diinginkannya.” (hlm. 40)

“Di sini semua buku dirawat baik. Kau tahu sendiri. Mereka anak-anakku, anak-anak yang terbuat dari tinta hitam. Aku merawat dan mengurus mereka. Kujauhkan mereka dari sinar matahari, kubersihkan mereka dari debu-debu, serta kulindungi mereka dari sinar matahari, kubersihkan mereka dari debu-debu, serta kulindungi mereka dari ngengat dan tangan-tangan kotor manusia. Buku yang satu ini akan mendapat tempat terhormat dan tidak akan ada yang bisa melihatnya sampai kau kembali. Pengunjung memang sebenarnya tidak kuharapkan kehadirannya di perpustakaanku. Mereka cuma meninggalkan sidik jari dan remah keju dalam buku-bukuku yang malang. Selain itu, seperti yang kau tahu, perpustakaan ini dilengkapi alarm yang sangat mahal.” (hlm. 54)

Meggie ingin belajar membuat cerita, seperti yang dilakukan Fenoglio. Ia ingin belajar memancing kata-kata sehingga bisa membaca untuk ibunya tanpa harus khawatir siapa yang akan keluar dari cerita itu dan menatapnya dengan mata penuh kerinduan pada tempat asalnya. Hanya kata-kata yang bisa mengirim mereka kembali, mereka yang diciptakan dari huruf-huruf, karena itulah Meggie bertekad menjadikan kata-kata sebagai keahliannya. Dan di mana lagi ia bisa belajar lebih baik kalau bukan di rumah yang kebunnya menjadi tempat tinggal para peri dan buku-buku berbisik di malam hari? Seperti yang pernah dikatakan Mo: menulis cerita juga semacam keajaiban.

Ada banyak sekali kalimat favorit yang berhubungan dengan buku:

  1. Buku cerita bukan roti. Orang bisa hidup tanpa buku cerita. (hlm. 20)
  2. Buku-buku memang harus lebih diperhatikan daripada anak kecil. (hlm. 83)
  3. Semua kolektor buku adalah perampas dan pemburu. (hlm. 137)
  4. Tidak ada yang lebih baik daripada beberapa lembar halaman buku yang menghibur kita. (hlm. 241)
  5. Bunyi yang ditimbulkan lembar-lembar buku pertama kali dibuka tidak pernah sama, tergantung ia sudah tahu apa yang akan diceritakan buku itu untuknya atau belum. (hlm. 10)
  6. Buku bisa jadi seperti kertas antilalat, menarik segalanya ke dekatnya. Tidak ada tempat yang bisa mengikat ingatan sebaik halaman-halaman yang dicetak. (hlm. 23)
  7. Buku pasti berat karena seluruh dunia ada di dalamnya. (hlm. 27)

Selain bertebaran kalimat yang berhubungan dengan buku, di buku ini kita juga menemukan banyak pengetahuan seputar buku. Ternyata, jaman dulu banyak buku yang judulnya tidak langsung terlihat. Dan memang sebenarnya menuliskan judul buku di sampul adalah kebiasaan yang relatif baru. Waktu orang masih menjilid buku begitu rupa sehingga punggung buku melengkung ke dalam, judulnya ditulis di samping. Tapi  kebanyakan judul buku baru akan terlihat kalau kita membuka bukunya. Setelah para penjilid buku mulai belajar menggunakan jilid yang dipunggungnya membulat ke arah luar, barulah judul buku di pindah ke sampul.

Nahhhh… pasti bakal meleleh kan ama kisah Meggie?!? Itu belum seberapa. Ada banyak sekali kisah yang harus dilalui Meggie. Dia bertemu banyak tokoh yang ada di buku-buku yang pernah dibacanya. Uniknya, Meggie punya kemampuan ajaib seperti yang dimiliki ayahnya, Mo. Meggie mempunyai keahlian membaca yang tidak bisa biasa dimiliki seperti kebanyakan orang. Kemampuannya itu sedikit banyak mempengaruhi perjalanan hidupnya, termasuk teki-teki hilangnya ibu yang selama ini tak pernah ditemuinya.

Suka banget ama buku ini!! Benar-benar ajaib kisah yang dituangkan oleh penulisnya,Cornelia Funke. Imajinasinya membawa kita terbang ke dunia ciptaannya. Versi filmnya meski lumayan berbeda dengan versi bukunya, pun tak kalah seru!! ƪ(♥▿♥)ʃƪ(♥▿♥)ʃƪ(♥▿♥)ʃ

Jangan bikin janji yang tidak bisa kau tepati. (hlm. 379)

Keterangan Buku:

Judul                : Inkheart

Penulis              : Cornelia Funke

Alih bahasa       : Dinyah Latuconsina

Editor               : Dini Pandia

Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama

Terbit               : September 2009 (Cetakan keempat)

Tebal                : 535 hlm.

ISBN               : 978-979-22-4271-3

28 thoughts on “REVIEW Inkheart

  1. Pingback: Book Kaleidoscope 2013: Top Five Most Favorite Books | Luckty Si Pustakawin

  2. Buku saya juga pernah dipinjam teman dan hilang😦 Gak saya sumpahinn saya ikhlaskan.. dan ehhh ternyata, ada seseorang teman yang memberi saya buku penulis yang sama tapi judul berbeda..🙂

    Meggie dan keluarganya menganggap buku sebagai bagian dari keluarga mereka.. ada disetiap sudut rumahnya buku.. keren deh🙂

    kalo mbak luckty seperti meggie juga ndak.. hehehe… diperpustakaan sekolahnya si mbak mungkin buku dimana…🙂

  3. Ini keren banget kisahnyaa😀 Keluarga Meggie rumahnya dipenuhi buku dan keluarga yang suka membaca, wahh aku sih mau jadi Meggie yang mempunyai buku yang sangat amat banyak *buktinya sampai tercecer* Aku juga suka membaca buku tapi belum sampai tahap mengoleksi🙂

    Masalah review? Mbak Luckty mah jangan ditanya😀 good job deh buat Mbak Luckty (^^)b yang selalu buat yang nyasar di wordpressnya dan baca review yang dibuat tertarik sama bukunya *ngiler berat (^-,^)*

    Buku ini buat penasaran,covernya canggih abis, quotesnya keren semua🙂 yg paling disuka sih yg ini nih =>
    “Bunyi yang ditimbulkan lembar-lembar buku pertama kali dibuka tidak pernah sama, tergantung ia sudah tahu apa yang akan diceritakan buku itu untuknya atau belum. (hlm. 10)”😀

    Terus mereview dengan baik untuk mbak luckty (^^)9 semangat ’45 hehe ikutan #GiveawayPustakawin Hope me luck🙂 ini review ke => *7

  4. review mba keren sekali, rasanya kayak baca beneran buku aslinya haha aku penasaran banget sama buku ini, kira-kira masih ada gak ya di toko buku?

    dulu, waktu masih sekolah aku sering pinjam buku ke perpustakaan dan gak dikembalikan sampai petugasnya telfon ke rumah haha makanya pas baca paragraf awal tadi, aku bersa kesindir (ketawa malu) sekarang udah jarang pinjam buku karena gak ada waktu😦

    kalimat favoritku, Beberapa buku harus kita coba

    Beberapa bisa ditelan,

    Namun hanya ada sedikit yang bisa kita kunyah lalu cerna dengan sempurna. (hlm. 15)

  5. sepertinya saya pernah melihat versi filmnya di salah satu stasiun tv ‘ehem’ hehe. dan memang benar-benar bagus. ayah dan anak yang berbakat membaca lalu tokoh yang dibacanya itu muncul ke dunia nyata. dan karena si pembaca belum selesai membaca buku itu secara utuh, tokoh2 dalam buku yang keluar dipenuhi tulisan2 di wajahnya.

    banyak jempol buat film, buku, dan review ini kak! hehe😀

  6. Pingback: GagasMedia #TerusBergegas #KadoUntukBlogger | Luckty Si Pustakawin

  7. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW The Girl on Paper | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s