REVIEW Jogja Jelang Senja + GIVEAWAY

WP_20160722_002

“Menikah itu ibarat mengenakan sepasang pakaian. Kalau klop, dua busana berbeda itu akan enak dipakai dan juga sedap dipandang. Bila tidak, bisa jadi salah satu dari pasangan itu sesak napas karena pakaian yang terlalu ketat menyiksa. Atau, malah tidak setia karena terlalu longgar.” (hlm. 13)

KINASIH. Semenjak kawan-kawan sebaya Kinasih satu per satu menikah, orangtuanya turut memaksanya untuk segera memikirkan hal yang sama. Kinasih sudah ingin menikah. Tapi, ia belum menemukan pasangan yang pas, yang tepat , yang klop di hatinya. Ia tidak menyukai laki-laki pilihan ayah ibunya, pun laki-laki yang mendekatinya. Tidak tahu kenapa, hanya saja hatinya merasa tidak sreg. Meski anak kampung, bukan berarti Kinasih anak rumahan. Dia bekerja sebagai buruh untuk membuat perhiasan perak. Hasilnya selain ditabung adalah untuk beberapa kursus yang dijalaninya sebagai pelampiasan karena tidak bisa mengenyam bangku pendidikan lebih tinggi seperti impiannya.

“Menikah itu ya menikah saja. Tidak usah memikirkan klop atau tidak. Mamak dan bapakmu dulu saja menikah karena dijodohkan orangtua; tidak pakai cinta. Tapi, toh nyatanya kehidupan keluarga ini tetap baik-baik saja.” (hlm. 12)

ARIS. Menjadi jurnalis adalah salah satu caranya menyambung hidup; membiayai kebutuhan sehari-hari, membayar uang kuliah, dan menambah biaya pengobatan simbok. Bapaknya hanya seorang buruh genteng di Godean. Gaji sebagai pekerja kasar yang tak seberapa akan sangat terbantu dengan tambahan duit dari anak laki-laki bungsu mereka ini. Aris tak memiliki mesin ketik untuk menyetor tulisan. Bila tak sedang berada di beskem, ia akan menulis ulang laporannya di kantor surat kabar Persatuan Rakyat di Jalan Mangkubumi.

“Aku memilih menulis sebagai caraku ‘bersuara’. Barangkali tidak akan perubahan besar yang akan terjadi karena tulisanku, tapi menurutku itu jauh lebih baik ketimbang aku tak melakukan apa-apa.” (hlm. 71)

Aris bertemu Kinasih di pertigaan Pasar Kotagede, saat secara tak sengaja ia menabrak sepeda gadis itu. Sejak kejadian itu, Aris mengantar jemput Kinasih ke tempat kerja, sebab kaki gadis itu terluka, sementara ia belum mampu membayar biaya ganti kerusakan sepeda milik Kinasih itu.

Seharusnya ini menjadi jalan pilihan yang dilalui Kinasih, selain atas tekanan mamaknya yang terus menerus menyuruhnya untuk sesegera mungkin menikah dan hatinya memang sudah terpaut jauh untuk Aris, sayangnya perbedaan agama menjadi jurang besar di antara mereka. Kinasih masih ragu akan pilihannya meski Aris sedari awal yang akan mengalah untuk menipiskan perbedaan di antara mereka. Pergolakan batin Kinasih merupakan representasi seorang manusia yang menjalani hubungan tapi terbentur oleh perbedaan keyakinan.

“Aku yang akan pindah agama, Kinasih. Bilang sama Bapak, Masmu ini akan bertanggung jawab; berani meminta cinta anak perempuan seorang Bapak, pula berani menempuh segala risikonya.”

“Mas sedang mempermainkan Tuhan.”

“Kau berbicara seolah-olah kau ini pemeluk agama yang taat, Kinasih.” (hlm. 3)

Mamaknya Kinasih merupakan representasi ibu-ibu di kehidupan nyata. Selalu kalang kabut jika anaknya belum juga menikah sementara yang lainnya sudah menimang cucu. Ya, dimaklumin aja tipe ibu-ibu seperti Mamaknya Kinasih ini. Tapi jangan lupa, diluaran sana banyak yang hatinya perih karena tekanan orangtua seperti yang dialami Kinasih. Mau sekeras apa pun jika bukan takdirnya, jodoh tidak bisa dipaksakan. #TossAmaKinasih

“Zaman telah benar-benar berubah. Kami dulu mati-matian berjuang melawan penjajah, taruhan nyawa, bedil dilawan bambu runcing dan lain sebagainya. Setelah merdeka, karena kurang kerjaan, akhirnya yang dikerjakan anak mudanya sekarang hanya berjuang karena cinta.” (hlm. 160)

Novel ini sebenarnya tidak hanya menyuguhkan soal cinta beda keyakinan semata, dengan setting tahun 1990-an, buku ini juga menyelipkan pergolakan Indonesia di zaman Orde Baru itu; rakyat diikat suaranya, penguasa makin berkuasa, hak rakyat dirampas, dan sebagainya. Meski terkesan singkat, ada selipan kasus Marsinah, kerusuhan Dili, koran-koran dibredel, penembak misterius yang kala itu disebut petrus, dan sebagainya. Lewat sosok Aris, sang jurnalis, sebuah profesi yang paling ditakuti masa pemerintahan era Orde Baru. Membaca novel ini, penulisnya seperti anak Seno Gumira Ajidarma yang selalu dengan ciri khasnya; senja dan kehidupan jurnalis. Penulis berhasil membangkitkan ingatan kita akan masa-masa perih di orde baru, betapa untuk mengeluarkan pendapat saja harus sangat berhati-hati. Berbeda sekali dengan zaman era Reformasi sekarang ini yang semua orang bisa mengeluarkan semua unek-uneknya di media sosial tanpa berpikir panjang imbas yang akan dihadapinya di kemudian hari.

WP_20160722_003

Beberapa kalimat favorit dalam buku:

  1. Beragama itu tidak seperti mengenakan sepatu. Kenakan sepasang untuk sekian waktu. Bila sudah usang atau memiliki sepasang lagi yang baru, tinggalkan yang lama. (hlm. 1)
  2. Hidup berisi pilihan dengan masing-masing risikonya. (hlm. 6)
  3. Hidup akan selalu menawarkan pilihan beserta risiko-risikonya. (hlm. 7)
  4. Sebagai seorang anak memang sebaiknya tidak melawan perkataan orangtuanya. (hlm. 62)
  5. Hidup tak mengenai perihal yang sama setiap waktu. Kesamaan tak selalu menjamin keharmonisan dalam berkeluarga, perbedaan tak selalu mengakibatkan perbedaan. (hlm. 123)
  6. Zaman memang selalu berubah, beranjak ke depan. Bukan anak yang harus melulu memahami orangtua, tapi orangtua juga harus sudi mengejar ketertinggalannya dengan memahami anak. (hlm. 134)
  7. Anak berhak memiliki pendapat dan karena dia jualah yang menjalani hidupnya sendiri. (hlm. 167)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Mengapa kau selalu memikirkan orang lain dalam hubungan kita? Kitalah yang menjalani kehidupan. (hlm. 4)
  2. Seorang perempuan berhak memiliki dan menyuarakan pendapat. (hlm. 4)
  3. Jangan berpindah agama hanya demi alasan manusia. Terlebih cinta. (hlm. 6)
  4. Apa enaknya berlama-lama mengurusi pekerjaan? (hlm. 10)
  5. Orang jatuh karena ditabrak tentu tidak akan pernah baik-baik saja. (hlm. 15)
  6. Bergunjing kan berdosa ya? (hlm. 39)
  7. Tidak selamanya perempuan harus menuruti kemanjaan laki-laki. (hlm. 61)
  8. Hati-hati dalam memilih teman. (hlm. 88)
  9. Jangan sembrono naik sepeda. (hlm. 160)
  10. Setiap perbuatan itu tidak bisa dilakukan seenaknya sendiri. Semua harus diukur baik dan buruknya. (hlm. 162)
  11. Terkadang keinginan tak selalu berjalan sesuai kenyataan. (hlm. 188)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Jogja Jelang Senja

Penulis                                 : Desi Puspitasari

Editor                                    : Septi Ws

Desainer sampul              : Teguh

Ilustrator isi                        : Cynthia

Penata letak isi                  : Tim Desain Broccoli

Penerbit                              : Grasindo

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 196 hlm.

ISBN                                      : 9786023754830

WP_20160722_005

MAU BUKU INI?!?

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia

2. Follow akun twitter @lucktygs dan @Puspitadesi. Jangan lupa share dengan hestek #GAJogjaJelangSenja dan mention via twitter.

3. Follow blog ini, bisa via wordpress atau email.

4. Jawab pertanyaan di kolom komentar di bawah, plus nama, akun twitter, dan kota tinggal. Pertanyaannya adalah berikan alasan kenapa menginginkan buku ini. Mudah kan?😉

5. Giveaway ini juga boleh di share via blog, facebook, dan sosmed lainnya. Jangan lupa sertakan hestek #GAJogjaJelangSenja yaaa… 😉

Event ini gak pake helikopter, eh Rafflecofter yang ribet itu. Jadi pemenang ditentukan dari segi jawabannya yaaa… ( ‘⌣’)人(‘⌣’ )

#GAJogjaJelangSenja ini berlangsung seminggu saja: 28 Juli – 2 Agustus 2016. Pemenang akan diumumkan tanggal 3 Agustus 2016.

Akan ada DUA PEMENANG yang akan mendapatkan buku ini. Hadiah akan langsung dikirimkan oleh penulisnya! ;)

Silahkan tebar garam keberuntungan dan merapal jampi-jampi buntelan yaaa… ‎(ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!

Pengumuman Pemenang Giveaway Jogja Jelang Senja

Terima kasih dengan keantusiasan teman-teman untuk mengikuti Giveaway Jogja Jelang Senja, ada 40 komentar yang masuk. Sekali lagi, makasih banyak ya buat semua!😉 #PeyukSatuSatu

Pemenang giveaway kali ini adalah:

Nama : Naelil M.
Akun Twitter : @Naelil_ID
Kota Tinggal : Banyuwangi, Jawa Timur

Nama: Dian Nafi
Akun twitter: @ummihasfa
Kota tinggal: Demak

Selamat buat pemenang. Sila kirim email ke  emangkenapa_pustakawin[at]yahoo[dot]com dengan judul: konfirmasi pemenang Giveaway Jogja Jelang Senja. Kemudian di badan email cantumkan; nama, alamat lengkap, dan no hape biar hadiahnya segera dikirim langsung oleh penulisnya ya.

Terima kasih buat Mbak Desi Pusitasari atas kerjasamanya, sekali lagi terima kasih banyak atas kepercayaannya. Semoga lain waktu bisa bekerjasama kembali… 😉

Buat yang belum menang, jangan sedih. Masih banyaaaakkkk giveaway lainnya yang menanti!! :*

-@lucktygs-

40 thoughts on “REVIEW Jogja Jelang Senja + GIVEAWAY

  1. Nama: Elsita F. Mokodompit
    Twitter: @sitasiska95
    Domisili: Gorontalo

    Kenapa saya ingin memiliki buku ini?
    Karena Bukunya keren! Sejak awal membaca review saya memang sudah menduga bahwa bukunya memilih setting pada tahun 90-an, akan tetapi saya tidak menyangka bahwa buku Jogja Jelang Senja – yang kalau hanya dilihat dari judul sekilas adalah buku yang mengangkat cerita roman pada umumnya, ternyata juga menghadirkan pergolakan hebat yang pernah terjadi di Indonesia. Bagi saya buku-buku seperti ini wajib dibaca, wajib dimiliki dan sayang untuk dilewatkan. Meski terlahir pada tahun 90-an saya adalah salah satu orang yang pada saat itu belum mengerti dengan apa yang terjadi pada Negeri saya, sedangkan pada buku-buku pelajaran yang pernah saya baca, sangat jarang saya temukan kejadian-kejadian yang melukai hati masyarakat Indonesia secara detail atau bahkan sebagian kecilnya. Yang ada hanya simpulan singkat dan cukup untuk mengisi lembar jawaban pada saat ujian.

    Hal-hal tersebut justru saya temukan pada novel-novel yang mengangkat tema seperti ini, meski tidak secara keseluruhan hanya menjabarkan hal itu. Buku-buku seperti ini menurut saya harus dibaca oleh siapa saja, agar kita dapat memahami betapa sulitnya kehidupan negara kita dulu, saat berjuang melawan kediktatoran beberapa pihak. Buku dengan tema seperti Jogja Jelang Senja adalah buku yang lebih mudah mengusik nurani dan membangkitkan rasa nasionalisme saya dibanding buku pelajaran Sejarah yang selama ini saya pelajari.

  2. nama: Aulia
    twitter: @nunaalia
    kota tinggal: Serang

    Alasan kenapa menginginkan buku ini…

    Yang pertama tentu temanya.
    Kinasih sudah ingin menikah. Tapi, ia belum menemukan pasangan yang pas, yang tepat , yang klop di hatinya. Ia tidak menyukai laki-laki pilihan ayah ibunya, pun laki-laki yang mendekatinya. Tidak tahu kenapa, hanya saja hatinya merasa tidak sreg.
    Apa yg dialamin Kinasih tuh sama banget sama aku *pelukansamakinasih
    Masalah jodoh yg tak kunjung datang emang bikin nyesek plus bingung ;(

    Melalui kisah ini mungkin bisa banyak belajar untuk menyikapi masalah jodoh dan desakan untuk menikah plus juga cinta karena perbedaan yg ada. Di samping itu, settingnya yang tahun 90-an akan membawa nostalgia kembali ke masa-masa itu, dan mungkin jadi tahu apa yang waktu itu kita tidak tahu.

  3. Nama: Hapudin
    Twitter: @adindilla
    Kota: Cirebon

    Novel yang ceritanya mengenai cinta terhalang beda keyakinan, sudah beberapa kali diangkat penulis. Jika ada 1 judul lagi, pertanyaannya; apa yang menarik dari Jogja Jelang Senja karya Mbak Desi ini? Itu pertanyaan untuk pertanyaan kenapa saya menginginkan membaca buku ini.

  4. Devina
    @mariadevina_
    Bekasi

    Kenapa menginginkan buku ini?
    Yang pertama dan yang sejujurnya dari lubuk hati yang paling dalam adalah karena GRETONG a.k.a GRATIS hehehe. Yahh siapa juga yang nggak cinta sama barang gretongan yakan?
    Kedua adalah karena JUDULnya. Ada apa dengan judulnya? Ada kata “Jogja” dan “senja” yang selalu menarik perhatianku kapan pun dan di mana pun. Dan pasti sebuah judul dipilih nggak asal-asalan kan… Pasti ada alasan, makna, dan cerita di baliknya. Makaaa ku ingin tau apa cerita dibalik judul itu.
    Alasan ketiga muncul setelah aku membaca review dari Mbak Luckty Sang Pustakawin terdabessst #yhaaaa
    Dari review yang kubaca sih buku ini tampak keren banget! Ceritanya tampak berkualitas, nggak cuma cerita romance remaja menye-menye aja. Ada bagian tentang dunia jurnalistik di masa lampau yang aku nggak tau banyak dan aku mau tau gimana dunia itu di saat aku belum direncanakan untuk dibuat… Aku juga suka banget sama kutipan ini: “Aku memilih menulis sebagai caraku ‘bersuara’. Barangkali tidak akan perubahan besar yang akan terjadi karena tulisanku, tapi menurutku itu jauh lebih baik ketimbang aku tak melakukan apa-apa.” dan kutipan ini memotivasiku untuk semangat nulis. Doakan aku, mbak :’)
    Terus cerita soal cinta beda agama yang sebenarnya udah agak banyak yang menggunakan ini sebagai halangan cinta dalam cerita [dan juga dalam kehidupan nyata], aku penasaran dengan gimana cara sang penulis mengemas kisah cinta yang menyesakkan itu dan gimana sang tokoh menemukan solusi atas perasaan mereka yang terhalang jurang besar itu.
    Terakhir, aku menginginkan buku ini karena aku butuh bacaan untuk melatih kemampuan menulisku yang masih sangat abal-abal. Hiks.

    Begitu ya Mbak Luckty, terimakasih🙂

  5. Nama: Alyani Shabrina
    Akun Twitter: @alyanishab
    Domisili: Badung, Bali

    Jawaban:
    kenapa aku pengen banget punya buku ini karena judul dan covernya menarik hati!❤ "Jogja Jelang Senja" aku selalu antusias kalau mendengar kata Jogja dan nggak akan pernah bosan kalau diajak muter-muter jogja *siapasihyangnggaksukajalan-jalan*. pastinya selain itu ceritanya yang menarik mengangkat tema cinta yang terhalang perbedaan keyakinan, karena jujur meski sudah ada beberapa novel yang mengangkat tema itu atau mungkin banyak (?) aku belum pernah punya kesempatan untuk membacanya. lalu tahun yang diambil juga menjadi salah satu alasan mengapa aku menginginkan buku ini. tahun 1990. tahun yang menurutku juga banyak membawa perubahan yang besar bagi negeri ini. Jurnalis wow profesi ini adalah salah satu dari banyak profesi yang aku kagumi, mereka menjadikan dunia menulis sebagai bagian dari hidup mereka, menjadi bagian dari pekerjaan mereka, apalagi seperti yang di katakan kak lucty tahun 1990 adalah masa di mana kebebasan pers dilarang keras, aku ingin merasakan sensasi itu ketika membaca buku ini. pokoknya minat banget punya dan baca buku ini!! covernya yang colourful juga jadi alasan lain yang mendasari aku pengen punya buku ini, semoga punya kesempatan itu yaaa🙂 hehe❤

  6. Nama: Gestha
    Twitter: @AltGST
    domisili: Bangka
    Jawaban: Alasan saya ingin punya novel ini karena saya tertarik dengan tema novel ini yang sepertinya adorable. Saya belum pernah baca novel bertema romance yang menyelipkan kisah seputar era jaman dulu. Kira-kira pesan moril seperti apa yang bisa saya tangkap di novel ini untuk diterapkan dan dibagikan ke khalayak luar. setting di Jogja juga semakin menarik perhatian saya, saya selalu penasaran dengan tempat-tempat ,saya pikir menambah wawasan tentang jogja jadi lebih menyenangkan bersama novel ini. saya juga suka dengan sesuatu yang bertema senja. Judul nya menarik, by the way.

  7. nama: Ella
    akun twitter: @ellaverina_
    kota tinggal: Bangkalan

    Saya menginginkan novel Jogja Jelang Senja karena saya pikir setting yang diambil oleh si penulis sangat menarik. Tahun jadul dengan segala polemik dan isu politik maupun SARA yang terjadi pada periode itu. Saya penasaran bagaimana penulis bisa mengombinasi kisah percintaan dengan isu-isu di atas, pasti bukan hal yang mudah. Sudah lama saya nggak membaca fiksi yang diangkat pada tahun 90-an dan terakhir kali saya baca fiksi bersetting tahun 90-an itu sangat menarik… jadi saya pikir Jogja Jelang Senja juga akan jadi menarik 😋
    Terus, tema tentang pacaran beda agama meskipun tergolong tema mainstream (karena saya juga pernah mengalami sih) tapi saya yakin saya bakal kuat baca. Saya ingin tahu bagaimana kedua tokoh ini berusaha untuk mengatasi perbedaan antara mereka berdua, berhasilkah atau… gagal (seperti saya)? Hm. Apalagi pindah agama juga termasuk isu yang sensitif di tengah-tengah masyarakat kita. Ujian si tokoh utama banyak amat :””)

    Beragama itu tidak seperti mengenakan sepatu. Kenakan sepasang untuk sekian waktu. Bila sudah usang atau memiliki sepasang lagi yang baru, tinggalkan yang lama.

    Demi kerang ajaib, saya cinta sama kutipan di atas. Semoga kali ini saya beruntung 😳

  8. Nama : Heni Susanti
    Akun Twitter : @hensus91
    Kota Tinggal : Pati – Jawa Tengah

    Alasan aku ingin buku ini adalah kalimat “Semenjak kawan-kawan sebaya Kinasih satu per satu menikah, orangtuanya turut memaksanya untuk segera memikirkan hal yang sama. Kinasih sudah ingin menikah. Tapi, ia belum menemukan pasangan yang pas, yang tepat , yang klop di hatinya. Ia tidak menyukai laki-laki pilihan ayah ibunya, pun laki-laki yang mendekatinya. Tidak tahu kenapa, hanya saja hatinya merasa tidak sreg. Meski anak kampung, bukan berarti Kinasih anak rumahan.”

    Kalimat itu seperti menggambarkan aku. Aku jadi merasa senasib dengan Kinasih. Usia yang memang sudah amat cukup untuk menikah, tinggal di kampung yang masyarakatnya masih berpikir wanita itu harus menikah diusia belia (18-20 tahun) dan pandangan mereka melihat wanita seusiaku masih sendiri itu adalah siksaan batin temporer, yang muncul saat ada pertanyaan, “Kapan nikah?”, “Calonnya mana?”, “Kok sendirian terus?”, “Nggak bawa pasangan?”, “Udah umur segini mau nunggu apa lagi?”

    Apalagi dengan aku yang menjadi satu-satunya wanita bekerja di desa yang masih belum menikah – selain dua sahabatku yang merantau keluar kota dan terbebas dari cercaan tetangga – semua pertanyaan itu seperti bom waktu yang bisa kapan saja meledak dan diledakkan oleh siapapun. Hanya saja beruntungnya orangtuaku tidak terlalu memaksa dan hanya sekali menyodorkan nama padaku yang langsung tidak terulang setelah penolakan. Paling juga agak-agak nyindir manis pedes asem asin gitu😀

    Dan entah kenapa sampai sekarang masih memberi batas aman pada status teman kepada semua laki-laki yang berusaha mendekatiku. Seakan aku memang lebih nyaman berteman dengan mereka walaupun beberapa jelas menunjukkan keseriusan. Kadang aku berpikir, apa yang salah denganku? Kenapa sulit sekali membuka hati padahal aku tahu hatiku tidak terkunci. Ah, mungkin Mas Jodoh memang belum menunjukkan tanda-tanda kehadirannya.

    Jadi, aku merasa senasib dengan Kinasih dan ingin belajar dari Kinasih bagaimana dia menyikapi keadaannya itu, karena jujur saja kadang ingin sekali pindah ke Afrika setiap kali musim pertanyaan itu muncul dan itu adalah bulan-bulan ini. Di sini sedang musim nikah dan bayangkan bagaimana perasaanku. Apalagi minggu lalu dua sepupuku yang masing-masing berusia 17 dan 16 tahun di lamar. Bayangkan berapa banyak pertanyaan semacam itu muncul! Hiks hiks

    Demikian dan maafkan untuk curhat panjang lebar ini. Terima kasih sudah menyediakan tempat untukku menumpahkan isi hati yang terpendam. hahaha
    #TossAmaKinasih #TossAmaMbakLuckty #SemangatMenungguMasJodoh #MariKerja😀

  9. Nama : Vena Dwi Masfiyah
    Akun Twitter : @venadwim
    Kota Tinggal : Tulungagung – Jatim
    Jawaban :
    Mengapa aku ingin baca novel ini? Ya karena aku tertarik dengan novel ini. Rasannya sudah cukup umur tapi belum ketemu orang yang pas eh terus malah dijodohin sama orang tua. Emang sih niat orang tua itu baik, tapi kan perasaan itu tidak bisa dipaksa. Apalagi cinta.
    Ini adalah masalah yang klise, terlihat sederhana tapi beneran bisaa menguras energi tubuh dan energi batin. Jadi novel ini bisa dijadiin pelajaran hmmm…
    Terus ada yang menyinggung soal orde baru, pekerjaan Aris yang seorang jurnalis itu, pasti bakalan ada konflik di masa orde baru. Kan jurnalis itu rada-rada dihindari di masa itu. Aku juga pengen jadi jurnalis. Jurnalis yang baik dan penuh kejujuran. Namun Aris jurnalis yang butuh kerja ekstra hanya untuk menuliskan satu berita karena dia tidak bisa menulis di rumahnya.
    Wwohooo novel yang komplit deh kayaknya. Enggak cuma konflik hati tapi ya konflik sosial juga🙂 kereeeen
    Semoga aku dapat ☺

  10. Nama : Wanudya Atmajani
    Akun Twitter : @redsinad
    Kota Tinggal : Kediri – Jatim

    Alasan kenapa ingin novel ini? karena saya tertarik! Pertama, karena latar waktunya itu adalah era orde baru, saya ingin membaca cerita yang ringan tetapi latar waktunya antimaintream. Kebanyakan novel mengikuti zaman, jadinya dengan novel yang menyajikan beda era membuat novel ini antimainstream dan menarik. Bagaimana sih, cerita romansa di era sosial media belum booming, smartphone belum tercipta, orang-orangnya belum semodern sekarang, dan kisah yang menceritakan keadaan ketika saya belum terlahir. Kedua, cerita beda agama, akankah mereka-mereka yang saling jatuh cinta walau berbeda dapat bersatu walaupun harus mengkhianati Penciptanya demi makhluknya. Ini akan menjadi buku yang menceritakan cinta beda agama pertama yang saya baca karena realita cinta beda agama ini banyak terjadi di lingkungan pertemanan saya. Ketiga, tokoh laki-lakinya adalah seorang jurnalis, jurnalis orde baru lagi, era ketika aspirasi rakyat hanya angin lalu saja, tak dipedulikan, nah itu semakin membuat novel ini menarik bagi saya.
    mungkin itu tiga alasan utama saya menginginkan novel ini. semoga saya beruntung🙂

  11. Nama : Wanudya Atmajani
    Akun Twitter : @redsinad
    Kota Tinggal : Kediri – Jatim

    Alasan kenapa ingin novel ini? karena saya tertarik! Pertama, karena latar waktunya itu adalah era orde baru, saya ingin membaca cerita yang ringan tetapi latar waktunya antimaintream. Kebanyakan novel mengikuti zaman, jadinya dengan novel yang menyajikan beda era membuat novel ini antimainstream dan menarik. Bagaimana sih, cerita romansa di era sosial media belum booming, smartphone belum tercipta, orang-orangnya belum semodern sekarang, dan kisah yang menceritakan keadaan ketika saya belum terlahir. Kedua, cerita beda agama, akankah mereka-mereka yang saling jatuh cinta walau berbeda dapat bersatu walaupun harus mengkhianati Penciptanya demi makhluknya. Ini akan menjadi buku yang menceritakan cinta beda agama pertama yang saya baca

  12. Nama : Deria Anggraini
    Twitter : @deriaanggraini_
    Domisili : Jakarta Pusat

    Jawaban :
    Kenapa aku menginginkan buku ini? Jawabannya simple, ya karna akuigin membacanya. Percuma kan ingin memiliki buku ini sbg pajangan atau koleksi aja, tapi tidak ingin membacanya.

    Kenapa aku ingin membacanya?
    Pertama, novel ini berlatarkan di Jogja, salah satu kota favoritku. Menurutku Jogja mempunyai adatnya yg benar2 unik, halus, sopan, dan kental. Aku inget pas ngunjungi Keraton Yogyakarta, aku terpukau sama bangunannya, koleksinya, suara gamelan yg dimainkan. Lalu latar novel ini merupakan Jogja pada tahun 90an pada masa orde baru. Wah kebayangkan menariknya seperti apa? Memutar kembali waktu melalui kisah ini. Aku ingin mengetahui bagaimana rakyat Jogja pada masa itu. Karena aku selalu tertarik akan hal itu, bertanya2 bagaimana rakyat2 Indonesia pada jaman dahulu. Aku ingin merasakan penderitaan rakyat Indonesia pada masa orde baru melalui novel ini.
    Kedua, novel ini menceritakan kisah Kinasih dan Aris yg saling mencintai namun berbeda agama. Aku ingin tau bagaimana mereka kedua mengatasinya dan juga belajar dari kisah mereka kalau2 nanti aku kesemsem sama org yg beda keyakinan sama aku haha. Aris kan udah bilang kalau ia akan pindah agama ke agamanya Kinasih tapi Kinasih malah blg bahwa Aris mempemainkan Tuhan, jadi aku penasaran bagaimana kelanjutannya. Bagaimana si Aris meyakinkan Kinasih bahwa ia bersungguh2, meyakinkan Kinasih bahwa ia ingin menikahinya. Dan aku pengen tau melalui kisah Kinasih dan Aris ini, pada tahun 90an itu para remaja pacarannya kayak gimana, pastinya nggak seliar anak remaja jaman sekarang yg memang memprihatinkan.

  13. Nama: Agustin Kurnia Dewi
    Twitter: @akdewi_
    Domisili: Cibinong, Bogor.

    Kenapa saya pengen buku ini?

    Pertama, setting tempatnya di Jogja, cyin!
    Harusnya, tgl 18-21 Agustus besok, saya dan 3 orang teman mau backpacker ke Jogja. Tapi apa daya, Allah kayaknya pengen saya berhemat aja. Tgl 3 besok saya harus operasi usus buntu. Mau tidak mau liburan saya ke Jogja harus batal. Hiks. Maaf curcol. Wkwk

    Kedua, setting waktu. Saat baca deskripsi ttg Kinasih dan Aris, udah yakin ini pasti setting waktu gak tahun-tahun sekarang. Kinasih sepertinya tipe perempuan yg pengen berbakti tapi dia sendiri ingin ‘bebas’. Dalam hal ini ttg jodoh.
    Lah Aris ini sepertinya punya rasa juang yg tinggi, mengorbankan keyakinan demi wanita yg dicintai. Tapi gimana sama endingnya ya? Apa mereka benar-benar ada yg mengalah demi bisa bersama? Atau takdir berkata lain? *halahhhh*
    Ini yang bikin saya penasaran.

    Tema tentang perbedaan keyakinan dan prinsip, entah kenapa selalu mencuri perhatian saya. Saya suka menebak-nebak pemikiran para tokohnya. Dan pasti banyak pesan yg akan disampaikan penulis secara tidak langsung. Kan, banyak topik seperti ini di dunia nyata.

    And the last, mungkin kalau beruntung, buku ini bisa jadi koleksi saya dan nemenin saya pas harus libur kerja pasca operasi nanti. Heheu.

  14. Nama : Humaira
    Akun Twitter : @RaaChoco
    Kota Tinggal : Purwakarta

    Berikan alasan kenapa menginginkan buku ini. Mudah kan?

    1. Karena mengangkat tema pernikahan beda agama, yang bikin penasaran endingnya.

    2. Aku penasaran bagaimana penulis mengemas dan menuntaskan masalah pernikahan yang beda agama dari sudut pandang seorang penulis, juga karena tema itu sangat sensitif.

    3. Ceritanya mengenai cinta ditengah pergolakan orde baru yang penuh konflik.

    4. Aku jadi tambah tertarik dengan judulnya karena terdapat kata senja yang memiliki jutaan cerita berbeda disetiap waktu dan tempat yang berbeda.

    5. Bersetting di Jogja, tempat yang punya banyak gambaran indah dibenakku.

    6. Dan aku ingin mengikuti lika-liku cerita mereka berdua hingga akhir lembarnya.

  15. Penulisnya seperti anak SGA? Timur Angin? saya pun tertarik dengan segala hal yang berkaitan dengan SGA. Saya termasuk penggemar tulis2annya, dengan putra beliau saya lebih-lebih penasaran. Saya sendiri punya ketertarikan yang sama dengan dua hal itu, jurnalistik dan senja. meski saya bukan jurnalis tapi saya suka dengan dunia itu, suka dengan buku2 beraroma jurnalis. Makanya saya mengoleksi–meski belum lengkap– buku2 SGA. Senja selalu menjadi suasana yang saya sukai, langitnya yang semburat jingga selalu membuat jatuh hati, tak bosan mengabadikan dalam kamera HP. Ada buku dari penulis muda yang semacam itu saya tak kalah tertariknya. Pengen baca, dan bahkan punya agar yang membaca buku itu tak hanya saya tapi para penikmat buku dari rak buku saya

    Nama: Sayekti Ardiyani
    twitter: @sayektiardiyani
    tinggal: Magelang

  16. Nama: Angelina Arum Wulandari
    Twitter: @angeliaaw249
    Domisili: Surabaya

    Alasannya….

    1. Aku suka covernyaaaaaa uwawww♡
    2. Latar tempatnya di Jogja (tambah suka)
    3. Tema yang diangkat juga seru, enggak cuma tentang cinta menye-menye yang baru ngehit sekarang ini. Apalagi setting waktunya yang ngambil tahun 1990-an jadi kerasa kayak belajar sejarah. Sekalian kan ya, aku juga baru SMA buat belajar ehehehehe.
    4. Ini gratis. Iya, aku cari gratisan jiahahahaha. Bukan karena apa, uang tabunganku mau aku buat bayar ekstrakulikuler yang mahal pakek banget-,- udah eskul wajib, bayarnya mahal…

    Udah itu aja ehehehe. Makasih ya kak udah ngasih aku kesempatan buat ikut giveaway ini:)

  17. Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta
    Karangasem, Bali

    Nggak nyangka, kalau novel ini akan serumit dan semenarik ini! Aku langsung tertarik dengan novel ini. Dengan setting 90-an, dimana pergolakan Indonesia sedang gencarnya. Pergolakan batin Kinasih yang tak kunjung menikah juga ikut-ikutan membuat hidup makin ruwet. Apalagi pada jaman itu, masyarakat beranggapan tidak menikah pada usia 20an akan dianggap sebagai perawan tua yang nggak laku. Belum lagi masalah beda agama dalam hubungan percintaan. Rasanya, memang perlu penyegaran tentang kisah cinta yang nggak melulu menye-menye seperti sekarang. Novel ini pilihan yang tepat menurutku🙂
    Oya.. satu lagi, karena settingnya di Jogja. Tempat ini selalu ku rindukan. Semoga suatu hari nanti bisa menjejakkan kaki lagi disana. Setidaknya kalau baca novel ini, perasaan itu dapat diobati sedikit hehe..

  18. Nama: yunika anwar
    Twitter : @yunikaanwar1
    Domisili : Tangerang
    Alasannya jujur sebenarnya awalnya aku gk tertarik sama cover bukunya tapi waktu aku baca reviewnya mbak luckty ternyata isi cerita wow bikin aku spechless, gk tau knp aku selalu suka sama novel” yg bercerita tentang cinta beda agama, aku jadi penasaran sama buku ini gimana cara mbak desi mengemas topik cinta beda agama dan cara pandang mbak desi tentang perbedaan itu sendiri, juga akhir kisahnya apakah happy ending atau sad ending. Yg bikin keren juga ternyata buku cmn bahas soal cinta beda agama tapi juga sejarah indonesia saat zaman orde baru. Lumayan kan bisa sambil nambah pengetahuan😊. Dan ternyata bener kata orng” don’t judge the book by cover.

  19. Hasnawati
    @chenhakase
    Makassar

    Saya suka cerita yang konfliknya rada kompleks dan ruwet. Dan dari review di atas, saya menangkap bahwa buku ini mengangkat dua isu, yaitu desakan orang tua untuk segera menikah dan cinta beda agama. Yang paling bikin saya tertarik adalah ‘cinta terlarang’ tsb. Memang, tema cinta terlarang kesannya pasaran, tapi tetap mengundang penasaran. Benarkah kata orang-orang bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya?
    Sayangnya, beberapa cerita tentang cinta terlarang yang pernah saya tonton, baca, dan dengar (belum banyak sih), endingnya banyak yang kurang mantap. Nggak nendang. Beberapa bahkan berakhir dengan meninggalnya salah satu tokoh utama. Huh. Khusus untuk tema cinta terlarang ini, saya kok kurang respek dengan ending beginian ya? Sorry to say, tapi penulisnya seakan berpikir bahwa membunuh satu di antara mereka merupakan satu-satunya solusi dan akan jadi ending yang bagus, but for me, it’s not (IMO. Again, sorry to say). Untuk tema yang pelik ini, adakah ending yang lebih bijak dan tidak gampang ditebak?
    Ada juga sih yang tidak berakhir dengan kematian. Si dua sejoli tsb jadian, bersatu, tapi dengan cara yang menurut saya maksa. Seperti serial TV yang terpaksa tamat karena rating rendah.
    Karena ending2 yang tidak memuaskan tsb, saya berharap akan menemukan kisah cinta terlarang yang endingnya oke. Tidak masalah jika sepasang kekasih yang diceritakan itu akan berakhir bahagia atau tidak, berjodoh atau tidak, asalkan manis dan meninggalkan kesan. Fyi, berhubung JJS ini tentang cinta beda agama, film bertema serupa yang saya suka adalah 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Tidak maksa, tidak terduga, dan manis. Semoga JJS pun demikian.
    Alasan lain mau baca buku ini adalah karena settingnya tahun 90-an, tepat saat ada pergolakan. Wiiih, penulisnya tidak main-main nih, pasti riset dulu. Sambil baca kisah Kinasih-Aris, sambil belajar juga😉

  20. Nama: Sarah Aisyah
    Twitter: @aisyarah03
    Kota: Tasikmalaya

    Alasannya menginginkan buku ini karena butuh banget bacaan yang fresh, buku ini bisa dijadikan buku untuk bernostalgia. Dengan setting nya tahun 90-an, meskipun sebenarnya sih aku lahir diakhir ditahun itu, tapi aku ga tau polemik apa yang terjadi pada masa itu. Yang pernah hidup dijaman orba pasti bakaln nge’flasback, dan yang tak tau-menau kehidupan pada masa orba bisa ikut membayangkan kan?

    Rasanya juga novel ini menarik dengan kisah cinta yang terhalang beda keyakinan, ditambah lagi settingnya pedesaan, aku juga tertarik dengan profesi aris sebagai jurnalis. Semoga aku bisa mendapatkan novel ini *semoga lucky deh heheh

  21. Fian Aulia
    @fian_aulia
    Yogyakarta

    Jawaban:

    Keren! Penulisnya hebat, bisa mengangkat tema beda keyakinan dan era tahun 90-an. Menarik, karena tentu saja gak semudah itu mengulas alur jaman yang silam. Penulis seolah mengajak pembaca menoleh ke belakang. Apalagi setting-nya di Jogja, klop banget lah. Overall, dari review Mbak Lukty, aku tertarik. Apalagi mengangkat cerita ibu yang mendesak Kinasih buat segera menikah. #IkutanToss Jaman dulunya sangat mengental. Terima kasih ^^

  22. Fridalia Septiarini H
    @frdliash
    Purwakarta, Jawa Barat

    Jawaban :
    Nggak ada alasan untuk aku nggak menginginkan buku ini. “Senja” dan “Cinta beda keyakinan” 2 hal yang langsung nyangkut dihati saya. Baca buku ini mungkin akan membuat saya flasback, bukan karena setting ditahun 90an. Tp karena cinta tapi ‘beda’nya. Novel ini pasti banyak bikin baper. Penasaraann apa mereka bisa bersatu atau jatuh di jurang yang sangat besar bernama perbedaan itu.

  23. Nama: Salsabila Shafa Rahma
    Twitter: salsashf
    Kota: Bogor

    Aaaak, aku sudah baca yang Jakarta Sebelum Pagi dan suka banget! Setelah tahu ada saudaranya yang berupa Jogja Jelang Senja, aku jadi pengin punya yang ini juga.🙂

    Alasanku menginginkan novel ini juga nggak jauh-jauh dari kecintaanku terhadap Kota Jogja dan orang-orang di dalamnya. Mereka istimewa. Benar-benar istimewa. Aku penasaran bagaimana penulis menceritakan kisah Aris dan Kinasih lewat sudut-sudut Kota Jogja yang nyaman.

    Selain itu, aku juga sangat senang bahwa penulis dengan berani mengangkat cinta beda agama. Sangat menarik sekaligus membuat penasaran apa yang akan terjadi di antara keduanya. Karena yang aku tahu kebanyakan dari pasangan yang beda agama hanya memiliki dua pilihan yaitu ganti Tuhan atau ganti pasangan, cukup jarang (terutama untuk mereka yang religius) memilih untuk pindah agama, errr.

    Di tambah aku pun pernah merasakan bagaimana di posisi yang sama seperti Aris dan Kinasih, mencintai seseorang yang berbeda agama dengan kita. Menunggu dia selesai ibadah di hari Minggu dan diingatkan untuk salat walaupun dia sendiri nggak melaksanakannya. Mudah saja, tapi cukup menyakitkan.

    Dan, alasan lain yang membuatku sangat menginginkan novel ini adalah setting yang digunakan dibumbui dengan zaman Orde Baru–salah satu bagian dari sejarah yang paling senang kuikuti ceritanya! Semoga saja aku berjodoh dengan novel ini.🙂

  24. Nama: Ainun Mawa’dah Noor
    Twitter: @AmdnLee
    Kota Tinggal: Barabai, Kalimantan Selatan.

    Tampaknya perlu satu jam untuk memikirkan alasannya. Memikirkan, menulis, menghapus dan kembali mengetik. Novel ini punya konflik warna-warni seperti covernya yang tak kalah menarik. Saya amat menyenangi cerita yang dibungkus dengan gaya klasik. Saya berpikir akan banyak pelajaran yang bisa dipetik. Terlebih setelah membaca quote yang begitu menggelitik, “Zaman telah benar-benar berubah. Kami dulu mati-matian berjuang melawan penjajah, taruhan nyawa, bedil dilawan bambu runcing dan lain sebagainya. Setelah merdeka, karena kurang kerjaan, akhirnya yang dikerjakan anak mudanya sekarang hanya berjuang karena cinta.” (hlm. 160)

  25. Nama: Insan Gumelar Ciptaning Gusti
    Twitter: @san_fairydevil
    Kota: Surakarta

    Karena sejak masih tinggal di Jember, udah pingin dan punya rencana buat main ke Jogja. Terus sekarang udah tinggal di Surakarta, yang cuman dua jam dari Jogja masih juga belum sempet ke sana. Kemarin ada rencana, dan oke ke sana. Eh, sehari sebelumnya batal. Ya Allah gitu banget cuman pingin ke Jogja.
    Nah, mungkin aja dengan baca buku ini aku bisa sedikit terhibur. Terobatilah keinginan buat ke Jogjanya..

  26. Nama: Leila
    akun twitter: @LNiwanda
    Domisili: Jakarta

    Alasan pengin punya buku Jogja Jelang Senja ini adalah karena…
    1. Mbak Desi Puspitasari🙂. Dulu pernah baca postingannya tentang proses kreatif penulisan sebuah buku yang kayaknya sih nyambung sama sinopsis di atas, mungkin memang buku yang sama, ya? Jadinya penasaran pengin baca, deh.
    2. Kata kunci SGA dan jurnalis. Suka aja baca buku dengan tokoh jurnalis, cita-cita lama yang terpendam.
    3. Jogja! Kota yang sebentar lagi akan menaungi orang terkasih (maunya sih nyusul ke sana), yang di AADC 2 menjadi latar perjalanan simpel-tapi-romantis, seperti apakah akan digambarkan dalam buku ini? Novel Strawberry Surprise karya mbak Desi juga sudah mengeksplor Yogyakarta, kepengin baca aja bagaimana penulis menggali sisi lain kota ini.
    4. Kutipan-kutipan tentang pernikahan di atas lumayan bikin merenung. Tertarik untuk mengetahui lebih jauh, gitu.

  27. nama: maulana
    twitter: mata_maulana
    kota tinggal: dekat kota gede, jogja

    saya menginginkan buku ini karena saya penggemarnya mbak Desi @Puspitadesi.
    tema tema karyanya semakin berwarna, meski masih banyak berbenang merah tentang cinta.
    tentu karya yang masih terngiang adalah “stroberi surpres”.
    kali ini dengan membawa nama jogja dan senja, apakah novel ini akan sekuat karya sebelumnya?
    tapi bagi saya, karya yang kuat dengan bawa nama senja itu masih triloginya ‘bifor sanset’ nya mas ethan hawke dan julie delpy.
    yang agak heran, saya tak pernah menemui tabrakan sepeda di pertigaan pasar kota gede meski suasana se-semrawut itu sekarang.
    itu saja komentar saya…

  28. nama : Fatimah
    twitter : @Imah_Fatma29
    kota tinggal : Wates
    Pertama, tertarik dengan tema novel tersebut tentang cinta beda agama antara Kinasih dan Aris. Lalu setting tempat yang ada di Jogja. Waah, senangnya. Ditambah lagi mengulas pergolakan Indonesia di zaman Orde Baru itu; rakyat diikat suaranya, penguasa makin berkuasa, hak rakyat dirampas, dan sebagainya. Meski terkesan singkat, ada selipan kasus Marsinah, kerusuhan Dili, koran-koran dibredel, penembak misterius yang kala itu disebut petrus, dan sebagainya. Lewat sosok Aris, sang jurnalis, sebuah profesi yang paling ditakuti masa pemerintahan era Orde Baru. Penasaran? Banget! Akankah cinta Kinasih dan Aris bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan? Padahal kan orangtua Kinasih turut memaksanya untuk segera memikirkan hal yang sama. Lalu, Kinasih sudah ingin menikah. Tapi, ia belum menemukan pasangan yang pas, yang tepat , yang klop di hatinya. Ia tidak menyukai laki-laki pilihan ayah ibunya, pun laki-laki yang mendekatinya. Tidak tahu kenapa, hanya saja hatinya merasa tidak sreg. Lalu, bagaimana akhir kisah pada novel tersebut?
    Selanjutnya, menambah daftar buku referensiku untuk membantu menyelesaikan tugas menulis novel, juga lebih dekat dengan penulisnya mbak Puspita Desi. Terakhir, siapa sih yang enggak tergiur dengan yang namanya cuma-cuma dikasih. Sekali menyelam dua tiga pulau terlampui.

  29. Nama : Luthfi Izzaty
    Twitter : @izzaty2011
    Domisili : Jogja

    Kenapa saya pengen buku ini? Soalnya saya domisili di Jogja heheheee. Jadi pengen banget baca buku yang latar nya Jogja. Soalnya saya sendiri kalo bikin latar Jogja kurang bisa detil dan menarik (menurut saya). Jadi saya penasaran sedetil apa mb Desi melatarkan Jogja dengan senja.
    And.. i’ll review this book in syaa Allah if I get it. Hohohooo

  30. Wardah
    @missfiore_
    Jogja

    Alasannya gampang! Karena saya tinggal di Jogja! Saya jatuh cinta sama Jogja dan nggak mau pisah sama kota ini–meski sekarang statusnya saya masih belum tetap dan satu dari ribuan pelajar perantauan. Jogja itu punya suasana magis yang bikin saya nggak bisa ninggalin kota ini lama-lama. Hawa Jogja itu adem, bikin perasaan nyaman, sekaligus sering bikin malas dan menanggapi segala sesuatu dengan kalem. Serupa sama penghuninya. Ke mana pun melangkah, Jogja itu rasanya romantis! Bikin baper!

    Nah, pas tau ada novel yang membawa-bawa kata Jogja, terlebih dipadu kata “jelang senja” widih, SAYA PENASARAN! Jogja saja sudah romantis, ngangenin, apalagi ditambah dengan senja. Pasti bakal jadi paduan yang menyayat-nyayat hati atau justru melegakan sakit hati. Tergantung kondisi hati pembaca. 😁

    Apalagi dengan setting Orde Baru! WAH! INI NIH PASTI BAKAL SERU! Jogja, senja, dan Orde Baru. Rasanya bakal kayak gimana ya? Mungkin kayak kopi joss yang pahit, tapi nagih? Atau kayak gudeg yang manis, tapi nggak bikin enek? Atau … kayak harga di Jogja yang murah-meriah sampai bikin kupa diri? *malah ngelantur haha* 😂😂😂

  31. Nama : Siti Maisyaroh
    Akun Twitter : @siti_maisyaroh
    Kota Tinggal : Bandung

    Alasan kenapa pengen baca buku ini? simple sih
    1. Karena judulnya Jogja jelang senja. Senja di Jogja… romantis banget!! *ya, walaupun mungkin isi novel kurang sesuai sama bayangan aku. Tapi tiap kali denger kata Jogja yang kebayang langsung adem.. Secara Jogja buat aku, kota yang ramah, penuh sejarah, kebudayaannya masih lestari. Perfect banget deh. Jadi gak kebayang Jogja dengan senja.. keren, keren, keren
    2. Tema yang diambil.. sebenernya bukan hal yang aneh. Tapi hal yang dialamin Kinasih itu… aku banget. Temen-temen sebaya yang udah nikah plus tinggal di desa… Hmmmp, kadang jadi mimpi buruk, di tambah pertanyaan keluarga dan tetangga yang akhirnya jadi hal biasa yang dijawab sama senyum. “Mana calonnya?”, “Sekarang sama orang mana?”, “Kapan nikah?”. Padahal buat aku nikah bukan sekedar ngejar umur, apalagi ngejar orang-orang *kan kita lagi gak maen kejar-kejaran. Tos sama Kinasih sambil menunggu jodoh datang. Dan kita sama-sama susah nyari yang cocok, pas ketemu yang cocok sama-sama bimbang, sama-sama ngerasa apa bisa ngejalanin sama dia dengan segala perbedaan kita #ehcurcol
    3. Penasaran sama sisi jurnalistik Aris. Cerita di buku ini ngegambarin kejadian di tahun 90 an. Dimana kebebasan PERS masih minim bahkan mungkin gak ada, jadi pengen baca gimana pandangan PERS di Orde Baru. Di tambah peristiwa yang terjadi di jaman ini, kasus Marsinah, kerusuhan Dili, koran-koran di bredel dan banyak kejadian lain yang biasa aku baca di buku sejarah.. eh tiba-tiba ada di buku ini.

    Pokoknya kalo baca buku ini, pikiran aku mungkin bakal balik lagi ke buku sejarah dan yang pasti Indonesia banget.

  32. Nama : Naelil M.
    Akun Twitter : @Naelil_ID
    Kota Tinggal : Banyuwangi, Jawa Timur

    Aku selalu penasaran dengan zaman Orde Baru. Apalagi salah satu tokoh dalam buku ini adalah jurnalis, mengingat aku sekarang kuliah di jurusan jurnalistik. Pasti buku ini akan sangat bermanfaat untukku mengenal profesi jurnalis dan zaman Orde Baru. Selain jurnalis dan orde baru, isu ditodong suruh lekas nikah juga masih jalan aja di masa kini. Apalagi yang tinggal di desa. Pas aku masih SMA aja sempat ada tetangga yang nyeletuk, “Eh udah gedee… Gimana kalau nanti (nikah) sama cucu saya.” Gileee! Pas baru selesai semester 3, udah ada yang nanya, “Kapan nikah?” Padahal, baru juga kuliah. Pasti beban yang ditanggung Kinasih itu besar. Hari gini aja masih banyak yang nyuruh cepat-cepat nikah, apalagi jaman 1990an dimana perjodohan masih kental banget. Soal agama, aku sebenarnya penasaran dengan bagaimana Kinasih menyikapi ini. Aku ada saudara lelaki yang ceritanya lagi dekat sama perempuan beragama lain. Perempuannya bilang siap pindah agama tapi saudaraku nggak mau. Katanya si saudara lelaki, ia khawatir kalo ntar ada masalah dalam pernikahan, agama yang akan disangkutpautkan. Bener kaya buku diatas. Pindah agama karena kekasih/pasangan itu ibarat mempermainkan Tuhan. Gitu deh. Buku ini kayanya paket komplit untuk memenuhi kepenasaranku. Topiknya pas

  33. Nama: Cahya
    Twitter: @ccchhy
    Domisili: Palembang

    1. Karena novel ini berlatar di Jogja. A beautiful city that I’ve always been dreaming about to live and stay there.

    2. Karena ber-setting di tahun 90-an dan berbumbu keruwetan masa-masa pelik di zaman itu. I was too young to understand what was happened. Ketika saat itu masih mengandalkan media masa; cetak dan audiovisual, sebelum booming-nya internet dan media sosial.

    3. Konflik utamanya merupakan refleksi dari problema para orang dewasa yang masih awet melajang. Meski ceritanya terjadi di tahun 90-an tetapi masalah utamanya sangat nyambung dengan keadaan di masa kini.

    4. Menyisipkan masalah perbedaan agama di antara dua sejoli yang kuyakin itu bakal tambah bikin greget karena masalah agama memang menjadi salah satu bahasan yang sangat sensitif.

    5. Belum pernah baca karyanya Desi Puspitasari😦

  34. Nama: Kurnia Ayuningtyas
    twitter: @kurniayuu
    Domisili: Tulungagung, Jawatimur

    Alasan:
    Sederhana saja. Saya tertarik dengan setting Jogja era 90-an. Apalagi tempta-tempatnya adalah tempat yang pernah saya singgahi. Saya ingin terbawa romantisme dan dramatisme hubungan Aris-Kinasih di zamannya. Apalagi isu di tahun itu sangat fenomenal. Dan baca review mbak Lucty bikin baper pengen punya bukunya. Hihihi😀

  35. Nurul mutmainnah jamil
    @mutmainnahJ
    Makassar
    Alasan menginginkan buku ini karena kisahnya yang rada mirip denganku (terurama karena perbedaan agamanya)
    Dulu pas SMA pernah suka sama cowok tetangga kelas. Dia itu udah peringkat dua umum, paskib kota, badan atletis dan jago main gitar lagi. Pokoknya perfect. Cuma sayang. Aku islam dia hindu. Cowok itu anak tunggal lagi. Kalau ibu bapaknya meninggal, siapa yang bakal kremasi kalau bukan dia? 😭😭 dianorangnya baik, apalagi kita nggak cuma tetanggaan kelas, tapi juga tetanggaan rumah. Tapi sekarang jalannya udah beda. Dia kuliah di ugm, sedangkan aku di univ neg di makassar. Beda jauh banget. Dulu akrab, dan sekarang cuna bisa saling mengabari lewat medsos. Harapannya bisa menang GA ini, dan baca bukunya. dari reviewnya udah ketahuan kalau cerita yang di sediakan bakal nyesek. Pasti bakal keingat kenangan masa SMA bareng dia 😭😭

  36. Nama : Anis Nur Lailiyah
    Akun twitter : @lailiyah_anis
    Kota tinggal : Gresik

    Alasan ingin memiliki novel Jogja Jelang Senja karena :

    Pertama, novel Jogja Jelang Senja ini genre saya banget, saya sangat menyukai novel-novel yang dibungkus dengan nuansa klasik dan ada bumbu-bumbu sejarah di dalamnya (karena memang saya ini pecinta sejarah🙂 ) seperti novel ini yang mengambil latar Indonesia pada masa orde baru, duhh, bisa dibayangin gimana seru dan tegangnya pergolakan politik pada masa itu yang membungkus sebuah kisah cinta yang dari review yang saya baca di atas juga tidak kalah seru dan menegangkan, bahkan sangat menarik menurut saya.

    Kedua, CINTA BEDA AGAMA, sebuah tema yang sensitif dan selalu menarik untuk diangkat dalam sebuah novel atau film, yang paling membuat saya penasaran tentunya adalah ending dari novel ini, saya berharap akan ada penyelesaian yang lain dari biasanya, tidak melulu itu-itu saja, sebuah penyelesaian yang akan membuat kita merenung kembali sebagai manusia dan sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan. Penasaran banget deh. Jadi, solusinya ya saya harus baca novel ini wkwkwk.

    Ketiga, Yogyakarta, kota favorit sayaaaaaa :O bahkan saya sampai punya keingininan untuk menetap di sana suatu hari nanti wkwkwk, apalagi saya juga sangat mencintai sejarah jadi otomatis juga mencintai Yogyakarta yang notabene banyak sekali peninggalan-peninggalan sejarah di sana. Selain itu, saya memang selalu excited setiap ada novel yang menjadikan Yogyakarta sebagai background ceritanya termasuk novel Jogja Jelang Senja nya Mbak Desi Puspitasari ini, saya udah ngebet banget pingin baca.

    I’m so interested with this book. So, semoga saya beruntung dan bisa menang #GAJogjaJelangSenja ini karena jujur saya udah ngarep bangeeeetttt bisa menang GA untuk novel sekece ini dan bagi saya Jogja Jelang Senja ini hukumnya wajib untuk dibaca🙂

    Terimakasih banyak atas kesempatannya🙂

  37. Nama: Ana Bahtera
    Akun: @anabahtera
    Domisili: Aceh
    Kenapa suka buku ini?
    1. Jogja dan Senja yang ada di covernya, dua kata yang paling aku aku suka, menimkmati senja dan berharap bisa bertandang ke Jogja, menikmati kota ini di temaram senja
    2. Karena nasib Aku sekarang sama kayak Kinasih, diteror merit trus sama orang sekitar, padahal merit kan bukan siapa yang paling cepat tapi harus mendapat orang dan waktu yang tepat, jadi dengan buku ini semoga Aku dapat pencerahan bagaimana mengatasi masalah yang lagi melanda jiwa *curcol😀
    3. Karena yang di review sama “si Pustakawin” ini selalu menjadi wishlist Aku, selalu merasa harus memiliki buku yang udah di review dblog ini.

  38. Nama: Rini
    Twitter: @RinitaVyy
    Domisili: Kediri

    Alasan kenapa Aku menginginkan buku ini?

    Buku yang simple, karena nggak terlalu tebal, its good book, serta cerita berlatar di jogyakarta, mengingatkan aku kepada seseorang..upps, tapi dibalik itu cerita yang bertaburan merakyat dan gaya bahasa pastinya diselingi basa jawa juga meninggikan grid keistimewaan buku ini dimataku. Bisa dibilang, membuatku penasaran aja kisah cinta romantis antara Kinasih dan Aresnya di kota jogya.

  39. Nama : Lely Nurvita Sari
    Akun twitter : @LelyNurvita
    Kota tinggal : Medan

    Jawaban :
    Alasannya, aku suka suasana di buku ini yaitu senja, karena bagiku senja itu melambangkan rasa cinta yang punya banyak makna. Lalu masa Orde Baru sebagai setting pada zaman buku ini, menurutku ini keren. Kita sebagai pembaca seolah diajak merasakan bagaimana sulitnya pada zaman Orde Baru. Terus konflik yang diangkat, cinta beda keyakinan dimana tokoh utama memperjuangkan cintanya dengan mengikuti keyakinan orang yang disuka. Dan itu jarang di dunia nyata, malah kebanyakan menganggap hal itu sepele dan membiarkannya gitu aja.

    Ya, meskipun buku ini seperti menceritakan kisah cinta zaman dulu, tapi aku suka. Unik, gak seperti zaman sekarang yang terkesan blak-blakan. Dan intinya, buku ini punya banyak pesan moral dan amanah yang bermanfaat. Makanya aku pengen baca, semoga kali ini beruntung.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s