buku, resensi

REVIEW Mantappu Jiwa

Kesuksesan itu ibarat bagian gunung es yang terlihat di atas permukaan. Sedangkan kegagalan, usaha, kerja keras, dan doa adalah bagian yang tidak terlihat. Tapi sebenarnya bagian itulah yang paling krusial untuk menopang bagian gunung es yang terlihat. (hlm. 167)

Jadi begini ceritanya. Awalnya aku nggak ngeh siapa itu Jerome. Kayaknya ngeh kali pertama tuh pas vlognya nongol di beranda pas lagi battle ama Jodhie, Indonesian Idol yang lagi liburan di Jepang. Nah…pas heboh soal zonasi tempo hari, ada murid yang kini lagi kuliah, Azhari Ma’ruf yang ngirim DM link vlognya Jerome yang bahas tentang perbandingan zonasi di Indonesia ama di Jepang. Waktu itu sih pas nontonnya belum terlalu antusias, karena aku mikirnya Jerome masih tipikal anak Indonesia yang kuliah di luar negeri, yang biasanya masih meng-underestimate ama negaranya sendiri dan biasanya tipe-tipe anak kayak gini nggak ada timbal balik ke negaranya dan ogah balik ke luar negeri. Hingga suatu hari nongol di beranda vlognya RANS, ada Jerome. Nah, di situ dia bilang mau jadi Menteri Pendidikan. Langsung iseng ubek-ubek vlognya Jerome. Tanpa terasa setengah tahun ini, udah jadi bucin-nya Jerome: nonton video-videonya mulai dari yang penting sampe yang nggak penting macam gunting rambut di Jepang yang ternyata mahal banget, nge-LIKE semua fotonya di instagram, ampe kepo ama teman-temannya yang lain seperti Tomo maupun Leo. Bahkan kini aku juga rajin nyimak vlognya Leo. Sungguh…sepertinya kusudah terindikasi bucin akut, hahaha… x))

Makanya begitu tahu dia ngeluarin buku, kuuudah bertekad buat beli bukunya. Sayangnya, berhubung tempat tinggalku pelosok yang kalo mau ke toko buku atau nonton di bioskop harus ke ibukota, aku harus menunda hasratku untuk membeli bukunya. Baru pas liburan sekolah ini kesampaian beli bukunya. Pas aku buka bukunya, ternyata yang aku pegang ini udah cetakaan keenam. Warbiyasa…. x))

Tipikal anak pintar yang pembelajar, hari-hari Jerome dihabiskan di perpustakaan. Waktu masih sekolah, saat istirahat ke perpustakaan. Setelah lulus sekolah, hal itu masih berlanjut meski sudah mendapatkan beasiswa dan diterima di univeritas favorit di Jepang. Rutinitasnya yang terjadwal, untuk belajar di perpustakaan, dilakukannya setiap setelah pulang kuliah, jam empat sore sampai jam tujuh malam. Jeda untuk masak dan makan makan. Kemudian jam delapan sampai jam sembilan malam dilanjutkan dengan belajar (lagi) di perpustakaan. Sebagai pustakawan, bahagia banget kalo ada pemustaka yang rajin datang ke perpustakaan  seperti ini x))

Ternyata Jerome rajin mengikuti banyak lomba seperti aku dengan alasan yang sama. Pertama kali ikut lomba biasanya tegang luar biasa, tidak bisa berpikir jernih apalagi waktu melihat peserta lain yang kelihatan lebih pintar dengan persiapan lebih matang. Tetapi semakin sering ikut lomba, jadi terbiasa. Jadi lebih percaya diri, bisa mengatasi dan mengendalikan ketegangan, dan punya mental lebih kuat. Dan kita mendapatkan semacam referensi soal-soal yang dikeluarkan, yang akan menjadi bekal untuk ikut lomba serupa selanjutnya. Sama banget, aku juga gitu. Kalo urusan menang atau kalah anggap aja bonus. Makanya kalo ada yang suka nyinyir kenapa sering ikut lomba padahal gak menang melulu, ya itu tadi jawabannya. Bedanya, Jerome menyukai untuk mengikuti lomba-lomba sejak sekolah, aku malah baru sejak mulai kerja. Nggak papalah telat daripada tidak sama sekali, hahaha… x ))

Ada hal-hal yang sering dilupakan saat kita melakukan wawancara. Bukan hanya perkara pintar atau tidak. Hal yang paling dari wawancara adalah attitude. Hal itu diterapkan Jerome saat wawancara untuk mendapatkan beasiswa. Ketika Jerome ditanya jika lulus kuliah nanti mau jadi Menteri Pendidikan Indonesia, aku pun jadi teringat saat wawancara pas magang di kampus. Jika pelamar lain jawabannya sama, aku hanya bilang karena ingin setelah kuliah ingin pulang kampung dan membangun kampung halaman di bidang literasi. Jawabannya mungkin klise, tapi beberapa tahun kemudian bisa mewujudkannya meski masih dalam skala kecil, belum sehebat apa yang dilakukan Jerome, tapi dosen yang mewawancarai saat itu masih ingat dengan percakapan kami waktu itu. Nah, semoga Jerome suatu saat benar-benar kesampaian menjadi Menteri Pendidikan Indonesia ya. Aku cuma mau pesan, bukan hanya sistem pendidikan yang harus dirombak, tapi juga masalah pengadaan buku di perpustakaan sekolah yang menjadi problem besar tapi kerap diabaikan :’) #MalahTjurhat

Belajar bahasa Jepang bagi Jerome memang tidak mudah. Itu hal yang lumrah. Dulu waktu kuliah, kebetulan di kosan memiliki beberapa teman yang kuliah di Jurusan Bahasa Jepang. Jadi lumayan sering melihat kegiatan mereka. Apalagi pas awal-awal kuliah, tiap hari ngapalin huruf-huruf kanji, hiragana, dan katagana yang jumlahnya tidak sedikit. Rasanya seperti anak TK yang mulai belajar membaca, belajar dari nol kembali. Jadi jangan heran jika Jerome tentu mengalami kesulitan di awal saat memahami bahasa Jepang, hahaha… dan hebatnya dia tidak pantang menyerah untuk mengejar ketertinggalannya itu.

Jika ingin melakukan sesuatu yang besar, aku biasanya puasa sosmed. Mungkin karena sudah terbiasa, puasa sosmed memang mudah. Kenapa harus puasa sosmed? Sebab tanpa disadari, jika kita terus-terusan mengecek sosmed, akan banyak waktu yang terbuang. Ternyata Jerome juga begitu. Untuk persiapan ujian, ia puas sosmed, terutama instagram. Bener banget, instagram memang menjadi godaan nomer satu dibandingkan yang lainnya. Kalo buka instagram tuh ya, awalnya hanya bentar, ehhh…pas scrolll…lama-lama udah sejam aja nggak kerasa, wkwkwk… x))

Proses panjang yang dilalui Jerome saat mendaftar ke Waseda University memang tidaklah mudah, terutama untuk urusan berkas-berkas. Sebenarnya, setiap dari kita tentu pernah mengalami hal-hal yang namanya keribetan dalam urusan suatu pemberkasan. Apalagi Jerome, di negara Jepang yang terkenal dengan tingkat kedisiplinan dan ketertibannya dalam semua aspek. Tapi itu tidak membuatnya lemah alias pantang menyerah.

Sebenarnya kisah Jerome tidaklah istimewa. Sama seperti kebanyakan para pejuang gelar lainnya. Tapi yang bikin istimewa dari Jerome ini adalah mematahkan stigma jika anak pintar (apalagi kuliah di Jurusan Matematika) tuh biasanya cupu. Jerome berbeda. Selain punya tampang yang mendukung, dia juga sengklek. Gampang berbaur dengan teman-temannya. Dan juga dia tidak pelit ilmu, terlihat dari vlognya yang sering membagikan ilmu matematika. Kalau naro buku ini jadi koleksi perpustakaan sekolah, dijamin bakal banyak antri yang baca. Ini memang semacam buku motivasi yang ringan, tidak terkesan menggurui. Buku-buku seperti inilah yang justru mampu diserap nakanak remaja zaman sekarang. Poin plusnya lagi adalah banyaknya selipan infografis dalam buku ini yang makin menambah daya tarik. Semoga setelah membaca buku ini, makin banyak pembaca terutama pembaca yang termotivasi bahwa tidak ada yang namanya suatu hal yang sia-sia jika rajin belajar. Seperti Jerome ini tentunya.

Oya, ini adalah kali pertama buku dari youtuber yang aku baca dan beli. Jika sekitar tujuh delapan tahun lalu tren para selebtwit menerbitkan buku, kini atmosfernya berbeda. Sekitar dua tahunan ini dengan menjamurnya para youtuber, mereka kini juga merambah dunia perbukuan. Setelah membaca buku, jadi pengen baca kisah youtuber lainnya. Next: Ria SW dalam bukunya Off the Record 2.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Seperti ada banyak hitungan menuju angka 2, mereka bilang, ada banyak jalan menuju Roma. (hlm. 12)
  2. Jangan berhenti dulu, jangan menyerah dulu. (hlm. 27)
  3. Manusia hanya tahu A-D, tapi Tuhan tahu A-Z, bahkan melebihi itu. (hlm. 42)
  4. Kalau belum dicoba kan nggak bakal tahu hasilnya. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, ingat itu. (hlm. 46)
  5. Berkali-kali aku mempertanyakan maksud Tuhan, tak jarang rasanya ingin menyerah. Tapi dengan usaha tanpa henti yang dibalut dengan doa tak putus, Tuhan pasti menyediakan ‘Roma’ terbaik untuk umat-Nya. (hlm. 66)
  6. Jika kita bisa bertanggung jawab atas hal kecil, kita juga bisa bertanggung jawab atas hal lebih besar. (hlm. 86)
  7. Aku yakin jika Tuhan bukan jalan, dia akan memperlengkapi bekal untuk kita melalui jalan tersebut. (hlm. 122)
  8. Kerjasaman tim itu sangat penting dan sangat besar dampaknya. (hlm. 185)
  9. Niat positif disertai dengan konsistensi dan dedikasi, didukung oleh doa & dukungan orang lain, dapat menghasilkan sesuatu yang bahkan tidak bisa dibayangkan sebelumnya. (hlm. 194)
  10. Karena Tuhan lebih tahu ‘Roma’ mana yang terbaik untuk kita. (hlm. 205)

Ada juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Rasa percaya diri terlalu tinggi yang sebenarnya beda tipis dengan kesombongan, tidak akan membawa kita kemana-mana. (hlm. 22)
  2. Kamu belum boleh bangga. Kamu cuma pintar di sekolah, bukan berarti kamu pintar di luar sana. Kamu harus buktikan kalau dirimu pintar. (hlm. 25)
  3. Aku tahu mimpiku layak dibayar sebegitu tinggi, oleh keringat dan kerja keras. Aku tahu tempatku layak diperjuangkan, dan tidak ada yang bisa memperjuangkannya selain oleh aku sendiri. (hlm. 26)
  4. Memang yang namanya belajar SKS: hafal sebentar, terus lupa. Pengetahuannya nggak awet di kepala. (hlm. 74)
  5. Belajar untuk jangan takut mencoba sesuatu yang baru, meski kelihatannya sulit sekalipun. Karena kita sebagai manusia tidak ada yang tahu masa depan. (hlm. 94)
  6. Manusia tidak ada yang tahu masa depan. Kita cuma bisa merencanakan sebaik-baiknya. (hlm. 96)
  7. Pada awalnya, kita membuat mimpi. Tapi setelah itu, mimpi yang akan ‘membuat’ kita. Mimpi tidak dapat diwujudkan dengan instan, melainkan dengan air mata, doa, keringat, konsistensi, determinasi, dan kerja keras. (hlm. 99)
  8. Dalam mencari sesuatu memang harus ada yang dikorbankan, termasuk hal yang terlihat baik sekalipun. Kita harus berani mengorbankan yang baik demi meraih yang terbaik. (hlm. 100)
  9. Lawanmu itu soal, bukan mereka. Kalau kamu bisa, kerjakan soalnya, kamu dapat nilai bagus. (hlm. 103)
  10. Ada hal yang tidak bisa kita kontrol karena kita adalah manusia yang terbatas. Jadi, tugas kita adalah melakukan yang terbaik lalu menyerahkan sisanya kepada Tuhan. (hlm. 114)
  11. Aku sadar belajar nggak pernah akan ada ruginya. Kalaupun kita tidak bisa menggunakan ilmunya saat ini, bukan mustahil kita akan membutuhkannya di masa yang akan datang. (hlm. 127)
  12. Karena nyatanya menunggu dan mencoba mengerti rencana Tuhan itu tidak pernah mudah. (hlm. 134)
  13. Terkadang tak peduli seberapa pun keras usahamu ada hal-hal yang tidak akan berbuah manis. (hlm. 135)
  14. Apa yang kelihatan mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Tuhan, apa yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, ataupun timbul di dalam hati manusia sekalipun bisa diberikan oleh Tuhan untuk kita. (hlm. 143)
  15. Seperti ada soal-soal matematika yang tampaknya tidak memiliki jawaban, proses mengerti maksud Tuhan memang tidak pernah mudah dijalani. (hlm. 144)
  16. Apa yang kelihatan mustahil jika kita coba kerjakan dengan tekun, bisa menjadi kenyataan. (hlm. 154)
  17. Talenta, atau bakat setinggi apa pun, ketika kita tidak melatih atau mengembangkannya, maka tidak akan ada artinya. Sebaliknya, meski kita tidak memiliki bakat, tetapi bila kita berusaha dan berlatih, maka pasti akan ada hasilnya. (hlm. 169)
  18. Dalam mengejar mimpi dan kesuksesan, yang terpenting bukanlah cepat atau lambat, tetapi konsisten. Terus berjalan meskipun rintangan menghalangi dan kegagalan membayangi. (hlm. 170)
  19. Mungkin jalannya tidak semulus orang lain, atau mungkin hasilnya tidak sebaik orang lain, tetapi setidaknya kita bisa menghasilkan sesuatu. Dan sebagai awal, itu sudah cukup baik. (hlm. 171)
  20. Hasil terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan harapkan, dan kita harus bisa menerimanya. (hlm. 179)
  21. Bahaya dan kesalahan yang paling besar bukanlah ketika kita memasang target yang terlalu tinggi lalu kita gagal, tetapi ketika kita memasang target yang terlalu rendah lalu kita berhasil. (hlm. 182)
  22. Karena ketika orang lain meragukan kita, siapa lagi yang bisa percaya sama diri ini kalau bukan kita sendiri. (hlm. 183)
  23. Ada banyak hal di dunia ini yang tidak dapat dilakukan sendiri. Seseorang bisa merasa senang jika mereka ikut dilibatkan dan usaha mereka dihargai dalam mencapai sesuatu. (hlm. 186)
  24. Air yang mengalir mampu menembus batu bukan karena kekuatannya, melainkan karena konsistensinya, karena ketahanannya untuk terus mengalir. (hlm. 193)
  25. Tuhan pasti punya rencana yang terbaik bagi kita. Bukan berarti kita malas-malasan dan bersantai, tetapi sebaliknya kita harus berusaha sebaik mungkin dan bersandar pada Tuhan. (hlm. 204)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Mantappu Jiwa

Penulis                                                 : Jerome Polin Sijabat

Editor                                                    : Ruth Priscilia Angelina

Penyelia naskah                                               : Nina Andiana

Ilustrasi & desain naskah              : Isa Indra Permana

Desain isi                                             : Bayu Deden Priana

Penerbit                                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                                    : September 2019 (Cetakan keenam)

Tebal                                                     : 224 hlm.

6 thoughts on “REVIEW Mantappu Jiwa”

  1. Awalnya saya kira buku ini tuh novel lho. Dan awal kemunculannya, saya rada nggak ngeh siapa itu penulisnya. Baru beberapa lama kemudian saya tahu kalau doi ini youtuber. Buku ini tuh serupa nggak sih sama bukunya Gita Savitri yang Rentang Kisah? Saya sih belum baca kedua buku tadi. Belum ada kesempatan punya soalnya, hehe.

  2. Mantappu djiwa Bu luckty. team mantappu djiwa juga sama seperti saya. Buku manttapu ini yang bikin saya semangat sekolah. Satu kalimat motivasi aku ‘Roma yang yang aku tuju belum tentu Roma yang dimaksud tuhan’. Terimakasih Bu luckty review nya manttapu djiwa Bu😊💯

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s