buku, resensi

REVIEW Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar

“Kita tidak bisa melakukan hal-hal besar di dunia ini. Kita hanya dapat melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.” (hlm. 187)

Ukuran ketenangan pikiran kita ditentukan oleh seberapa jauh kita mampu hidup di masa sekarang. Terlepas dari apa yang akan terjadi kemarin atau tahun lalu, dan apa yang bisa atau tidak bisa terjadi esok hari, masa sekarang adalah tempat di mana kita berada.

Banyak orang yang menjalani hidup seolah-olah hidup adalah gladi resik suatu pagelaran yang akan ditayangkan nanti. Bukan itu. Kenyataannya, tak ada yang menjamin bahwa ada orang yang akan menghadirinya besok. Saat ini adalah satu-satunya waktu yang kita miliki, dan satu-satunya waktu yang dapat kita kendalikan. Bila perhatian kita adalah pada saat ini, kita dapat mengusir rasa takut dari pikiran kita. Rasa takut adalah rasa prihatin kita akan apa yang akan terjadi di masa depan; kita nanti tidak akan punya uang, anak-anak kita akan susah, kita akan menjadi tua dan mati, dan sebagainya. Untuk memerangi rasa takut, strategi yang terbaik adalah membawa perhatian kita kembali ke masa kini.

Bagi sebagian besar di antara kita, hidup ini penuh rangsangan, belum lagi kalau mengingat adanya tanggung jawab, sehingga hampir tak mungkin bagi kita untuk duduk tenang dan tidak  melakukan apa-apa.

Segi positif dari tidak melakukan apa-apa adalah hal ini mengajarkan kita untuk menjernihkan pikiran dan bersikap santai. Ini memberi pikiran kita kebebasan untuk ‘tidak mengetahui’ selama beberapa waktu. Seperti halnya tubuh, pikiran juga kadang-kadang membutuhkan istirahat dari kesibukannya yang terus menerus. Bila kita membiarkan pikiran kita beristirahat, pikiran itu akan kembali lebih kuat, lebih tajam serta lebih terfokus dan kreatif.

Bila membiarkan diri merasa bosan, kita akan terlepas dari sejumlah besar tekanan untuk melakukan sesuatu setiap detik setiap hari. Kita mungkin tak pernah berpikir seseorang akan menyarankan kita untuk merasa bosan. Selalu ada yang pertama untuk segala hal. Kebetulan dua tahun terakhir ini aku dilanda kebosanan hidup. Dan ternyata itu memang alami dialami banyak orang ya x))

Kita tidak pernah menemukan orang (termasuk aku juga sih, hehehe..) yang tidak pernah mengubah masalah kecil menjadi masalah besar yang harus segera dipecahkan. Kita terlalu serius memikirkan sasaran kita sehingga lupa menikmati hidup sepanjang jalan menuju tujuan itu, dan lupa mengendurkan langkah. Kita mengambil pilihan sederhana dan mengubahnya menjadi syarat supaya kita bahagia. Atau, kita menyalahkan diri sendiri bila tidak mampu mencapai tenggat yang kita buat sendiri. Langkah pertama untuk menjadi orang yang lebih tenang adalah memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa pada kebanyakan kasus, kita menciptakan sendiri keadaan darurat kita. Hidup ini akan terus berlangsung walaupun ada hal-hal yang berjalan tidak sesuai dengan rencana. Kata-kata. “Hidup bukanlah keadaan darurat” sangat bermanfaat untuk diingat-ingat.

Ada satu bahasan yang sangat menarik kita terapkan dalam buku ini. Poin ke 27 tentang ‘bayangkan orang-orang dalam hidup kita sebagai bayi mungil dan sebagai orang berusia seratus tahun.’ Ya, bayangkan pikirkan orang yang membuat kita sakit hati, yang membuat kita marah. Pejamkan mata kita dan cobalah membayangkan orang ini sebagai bayi mungil yang tak berdosa. Sadarilah bahwa semua bayi, tak bisa tidak, pasti berbuat salah dan setiap orang, termasuk kita, pernah menjadi bayi. Lalu, sekarang putar waktu menjadi seratus tahun. Lihat orang yang sama sebagai orangtua yang sebentar lagi akan meninggal. Pandanglah matanya yang lelah dan senyumya yang lembut, yang melambangkan sedikit kebijakan dan pengakuan akan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Sadarilah bahwa setiap orang termasuk kita akan berusia seratus tahun, hidup atau mati, tak lama lagi. wah.. iya juga ya, kayaknya poin ini bakal aku terapin di kehidupan sehari-hari, semoga mujarab x))

Bila suasana hati kita buruk, bukannya menyalahkan suasana hati, kita justru cenderung merasa bahwa seluruh hidup kita salah. Sepertinya kita percaya bahwa hidup kita telah hancur berantakan dalam waktu satu atau dua jam yang lalu. Kenyatannya, hidup hampir tidak pernah seburuk seperti yang terlihat bila kita berada dalam suasana hati yang buruk. Daripada terjebak dalam temperamen yang buruk, yakni melihat hidup secara realistis, kita dapat belajar mempertanyakan penilaian-penilaian kita. Suasana hati yang buruk bukanlah saat yang tepat untuk menganalisa hidup kita. Melakukannya sama saja dengan bunuh diri emosional. Bila kita memiliki problem yang mendasar, problem itu akan tetap ada bila keadaan pikiran kita membaik. Kiatnya adalah merasa bersyukur akan suasana hati yang baik dan bersikap tenang dalam suasana hati yang buruk. Lain kali, bila kita merasa suasana hati kita sedang buruk, karena alasan apa pun, ingatkan diri kita: Ini akan segera berlalu. Pasti.

Ada cara untuk menjadi bahagia. Caranya adalah mengubah penekanan pada pikiran kita: dari apa yang kita inginkan menjadi apa yang kita miliki. Daripada mengharapkan sesuatu yang istimewa dari pasangan kita, lebih baik memikirkan sifat-sifat baik yang dimilikinya. Daripada berharap kita bisa berlibur ke Eropa, lebih baik berpikir betapa nyamannya berada dekat dengan rumah. Daftar kemungkinan ini tidak ada habisnya. Setiap kali kita merasa cenderung terjebak dalam cara pikir: “Aku berharap hidup ini akan berbeda.” Mundurlah dan kembalilah dari awal. Tarik napas dalam-dalam dan ingat-ingat semua yang kita miliki harus disyukuri. Bila tidak terpaku pada apa yang kita inginkan, tetapi pada apa yang kita miliki, kita akhirnya akan mendapatkan lebih daripada apa yang kita inginkan.

Berbuat baiklah dan jangan bertanya untuk apa atau mengharapkan balasan. Yang dapat mengganggu perasaan damai ini adalah pengharapan kita akan balasannya. Pikiran kita sendiri akan merusak perasaan damai kita begitu pikiran itu muncul, membuat kita terperangkap pada apa yang kita inginkan atau butuhkan. Pemecahannya adalah mengenai pikiran ‘aku ingin sesuatu sebagai balasannya’ dan pelan-pelan menghilangkannya. Dengan tiadanya pikiran-pikiran ini, perasaan positif kita akan muncul kembali.

Bila kita ‘tidak memusingkan hal-hal kecil’, hidup memang tidak otomatis menjadi sempurna, tapi kita akan belajar menerima apa yang disediakan oleh kehidupan ini dengan hambatan yang sedikit mungkin. Bila kita belajar ‘membiarkan’ masalah itu berlalu bukan menahan-nahannya dengan sekuat tenaga, hidup akan mulai mengalir. Kita akan mengubah hal-hal yang bisa diubah, menerima hal-hal yang tak bisa diubah, dan membiarkan kebijaksanaan mengetahui perbedaannya.

Akan sangat membebani bila kita tidak belajar untuk tidak memusingkan hal-hal kecil. Begitu banyak orang yang menghabiskan energi untuk memusingkan hal-hal kecil sehingga kehilangan sentuhan akan keajaiban dan keindahan hidup ini. Bila kita niat untuk berusaha mencapai tujuan ini, kita akan menemukan bahwa energi kita akan jauh lebih bermanfaat bila digunakan untuk menjadi orang yang lebih baik hati dan lebih lemah lembut.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar

Penulis                                 : Richard Carlson

Alih bahasa                         : Siti Gretiani

Desain sampul                   : Suprianto

Setting                                  : Ryan Pradana

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : Desember 2019 (Cetakan keenam)

Tebal                                     : 234 hlm.

ISBN                                      : 978-602—06-3026-7

2 thoughts on “REVIEW Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s