REVIEW Javier

javier

Bila kamu bersabar, hidup akan menghujanimu dengan kejutan-kejutan manis. (hlm. 199)

Adalah Javier Maher, penulis muda yang sejak kemunculan karyanya telah mengguncang dunia sastra. Buku perdanya, Reluk di sebut mendobrak batasan-batasan sastra Tanah Air. Seakan tidak pernah berhenti, Javier kembali memberikan kejutan dengan karya trilogi berikutnya; Kamar #2, Pintu Hati dan Lepas Landas yang mempertemukan aliran surealis dengan realis.

Walau banyak polemik yang terbit pacsa-peluncuran buku-buku tersebut, tetapi pembaca Indonesia tampaknya merasa disegarkan oleh ide dan gaya bercerita Javier. Buku-buku Javier bukan hanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Belanda, tetapi juga bertahan cukup lama dalam jajaran buku-buku laris dalam negeri.

Akan tetapi, tahun-tahun produktif Javier pada awal kariernya tampak kurang diimbangi dengan kemampuan sang penulis untuk bernapas lebih panjang lagi. Tiga tahun sejak buku terakhirnya dirilis, penulis yang pernah diganjar Penghargaan Sastra Asia Tenggara ini belum juga mengeluarkan karyanya kembali.

“Tiga puluh hari katamu? Aku kan bukan penulis pabrikan. Aku butuh ketenangan, banyak inspirasi untuk menciptakan mahakarya.” (hlm. 1)

Javier hanya punya waktu tiga puluh hari untuk menyelesaikan bukunya atau tamatlah riwayatnya. Bila tidak ada kemajuan, Javier harus mengembalikan sebagian uang muka buku yang telah diterimanya setahun yang lalu.

Banyak selipan pengetahuan tentang dunia penulis:

  1. Penulis yang hanya menggantungkan hidup dari menulis memang berat. Sebelum muncul buku baru, biasanya mencoba bertahan hidup dari satu proyek ke proyek lainnya. Mulai dari menerjemahkan naskah-naskah di antara jeda panjang pada waktu menulis, sampai menjadi moderator di acara bedah buku para penulis baru.
  2. Profesi penulis adalah profesi yang paling rentan di dunia. Saat berhasil menyelesaikan sebuah buku, selalu ada pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran tentang apakah bisa mengeluarkan buku lagi. Kalau iya, kapan atau berapa lama? Tidak pernah ada rasa aman untuk profesi ini; kau bisa menjadi legenda atau dilupakan orang begitu saja.
  3. Menulis itu butuh stamina panjang. Harus melakukan rutinitas untuk memancing ide seperti cara orang menyiapkan canang saji. Harus mengatur jadwal kerja pada jam-jam produktif, mengatur lampu baca, musik yang diputar, secangkir teh jahe, lantas mematikan semua alat elektronik dan koneksi internet yang sering menjadi distraksi, lalu berharap inspirasi akan datang seperti roh yang menunjukkan penampakkannya.
  4. Pembaca yang menikmati buku penulis adalah bentuk kekaguman yang paling tulus. Mereka mencintai penulis apa adanya. Tidak perlu mengenal lebih dulu rupa dan bentuk penulis sekaligus drama hidupnya. Pembaca bisa menjadi sahabat dalam sekejap sekaligus kritikus yang terhebat.
  5. Ada banyak penulis yang patah hati karena penjualan bukunya merosot. Lantas mereka beralih profesi, membuang bakat luar biasa setelah membaca ulasan yang panjangnya tidak lebih dari satu halaman kertas koran. Pada dasarnya  memilih hidup di dunia seni berarti telah sepakat untuk hidup di jalan yang sunyi, kadang mencipta dalam senyap, karena berkarya sebenarnya bukan perkara laku atau tidak, digemari pasar atau tidak, melainkan perkara mengendapkan dan menuangkan rasa.
  6. Penulis membutuhkan kamus saat menulis untuk mencari padanan kata, mencari tahu apakah pilihan kata yang digunakan sudah tepat, mengecek cara penulisan dan lain sebagainya. Betapa penting seorang penulis  untuk bergaul karib dengan kamus. Kamus itu nyawa. Sebuah buku tidak akan kehilangan nyawanya bila penulis rajin membuka kamus dan piawai menggunakan kata-kata yang terdapat di dalamnya.
  7. Ada dua resep untuk menjadi penulis hebat; miliki masa kecil yang tidak bahagia atau kisah cinta yang menyedihkan.
  8. Banyak yang meminta penulis untuk menuangkan kata-kata motivasi yang menyemangati. Padahal, bagi sebagian mereka, menulis kadang adalah terapi. Sarana berobat jalan bagi diri sendiri.

Banyak bertebaran kalimat favorit:

  1. Kadang manusia memang tidak punya pilihan. (hlm. 5)
  2. Pada akhirnya, pada beberapa kasus cinta, manusia harus menyerah pada ikatan-ikatan yang membelit kaki mereka. (hlm. 28)
  3. Semua memang akhirnya berlalu karena waktu. (hlm. 32)
  4. Tulisan tangan yang ditorehkan memiliki makna dan karakter yang berbeda, serta bisa menggambarkan kondisi jiwa seseorang pada saat itu. (hlm. 40)
  5. Jangan memulai sesuatu bila kau tak yakin bisa menguasainya. (hlm. 46)
  6. Bila kita mau berusaha, hidup akan menyediakan segalanya. (hlm. 49)
  7. Menjalani kehidupan bukan tanpa konsekuensi. (hlm. 52)
  8. Waktu adalah kemewahan yang tidak bisa kau ulur ataupun putar ke belakang. (hlm. 53)
  9. Waktu adalah sesuatuyang misterius. Kau tidak pernah bisa menebak kapan ia akan menjadikamu tamu istimewa. (hlm. 58)
  10. Buku sama seperti manusia, kelak akan tua dan renta, tetapi akan semakin dihargai karena ketuaannya. (hlm. 61)
  11. Hidup memang begitu pintar memainkan nasib manusia. (hlm. 62)
  12. Kisah cinta manusia tidak bisa dihentikan oleh sengat maut sekalipun. (hlm. 64)
  13. Selalu ada daya yang saling tarik menarik akibat perbedaan. (hlm. 104)
  14. Kenangan memang bisa datang dalam bentuk apa saja. (hlm. 132)
  15. Ada beberapa hal dalam hidup yang membuatmu menyesal. (hlm. 133)
  16. Cinta memang tidak pernah menjadi hal yang sederhana. (hlm. 144)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan kebanyakan melamun. Nanti ada kekuatan lain yang mengisi ruang-ruang jiwamu. (hlm. 23)
  2. Nasib sungguh bisa mempermainkan hidup seseorang begitu saja. (hlm. 43)
  3. Sungguh celaka mengikuti keinginan mata. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik maka teranglah tubuhmu, juga seluruh hidupmu. (hlm. 53)
  4. Bukankah perpisahan memang selalu lebih berat bagi yang ditinggalkan? Ada rasa sesak seperti gelembung-gelembung asam yang memenuhi ruang-ruang di dadamu. (hlm. 71)
  5. Kafein tidak hanya membuatmu sakit kepala, tetapi juga membuat asam lambungmu naik. (hlm. 75)
  6. Deadline adalah tuan dari segala sesuatu. Hal-hal lain jadi tidak terasa mendesak dan perlu saat kau terimpit tenggat waktu yang begitu ketat. (hlm. 84)
  7. Pada dasarnya, usia memang tidak bisa membohongi pengalaman. (hlm. 94)
  8. Karena hidup idealis adalah hidup yang sunyi dan sepi. (hlm. 97)
  9. Bagaimana caramu bertuhan kalau tidak beragama? (hlm. 98)
  10. Orang nggak bosan, ya, sama kisah cinta. (hlm. 100)
  11. Rasa kenyang memang mengubah manusia. (hlm. 101)
  12. Televisi itu membuat penguasaan dirimu tumpul. Membuatmu merasa buruk rupa, merasa hidupmu tidak lengkap bila tidak membeli atau menginginkan sesuatu, dan kau ingin terus dan terus lagi. (hlm. 102)
  13. Memangnya penulis itu harus asosial ya? (hlm. 120)
  14. Nggak ada salahnya baca buku chicklit tau! (hlm. 131)
  15. Hidup memang tidak pernah sesederhana kelihatannya. (hlm. 151)
  16. Perut yang lapar itu bisa bikin orang nggak idealis dalam berkarya. (hlm. 200)

Kisah hidup Javier merupakan problematika yang kerap dihadapi oleh penulis. Baik penulis pemula maupun penulis yang sudah banyak menghasilkan buku. Sebagai penulis, ini adalah momen terendah dalam karir. Merasa gagal dan tidak berguna.

Javier tidak sendiri, ada banyak penulis ternama yang pernah masuk dalam tahap writer’s block atau kebuntuan menulis seperti Javier ini. Setiap penulis punyaa cerita dalam dirinya. Mereka itu sumur yang tidak pernah kering. Kecepatan setiap penulis mungkin berbeda.

Ada banyak cara menggali ide. Salah satunya adalah menyepi untuk melahirkan ide-ide segar. Javier pergi ke suatu tempat dan menemukan orang-orang baru yang singgah dalam hidupnya. Meski cuma  sebentar,  orang-orang tersebut menyisakan pengalaman baru baginya. Ada Ganes, Pak Tohir dan juga Tanaya.

Akan banyak kejutan yang akan kita temui dalam buku ini, bahkan sampai akhir cerita!😉

“Semua soal waktu. Buku yang bagus, bila hadir di saat yang kurang tepat pun bisa saja tidak laku.” (hlm. 57)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Javier

Penulis                                 : Jessica Huwae

Penyunting                         : Noni Rosliyano

Perancang sampul           : @labusiam

Pemeriksa aksara             : Septi Ws

Penata aksara                    : Martin Buczer

Penerbit                              : Bentang

Terbit                                    : 2014

Tebal                                     : 264 hlm.

ISBN                                      : 978-602-291-076-3

javier 2

66 thoughts on “REVIEW Javier

  1. Pingback: GIVEAWAY Javier | Luckty Si Pustakawin

  2. Wow!
    Kalau aku, punya mimpi jadi penulis. Tapi writer’s block tak berkesudahan. Menulis tapi tidak menyelesaikannya. Ah … *jadi curcol*

    Jadi ini buku tentang proses writer’s block yang dialami Javier, ya?
    Menarik, mungkin aku juga harus membacanya …

  3. Suka dengan tulisan mbak Jessica Huwae karena diksinya. Kayaknya Javier ini nggak kalah menarik dari Galila yak, ide ceritanya unik. Profesi tokoh utamanya yang sebagai penulis jadi salah satu daya tarik yang bikin saya pengen baca Javier :))

  4. Secala tersirat, buku ini mengajarkan pada penulis yg baru maupun yg sudah berpengalaman dalam bidangnya. Tak ayal, buku ini juga bisa dijadikan patokan dan acuan. Banyak juga kalimat favorit dan amanah yg bisa diambil, kalau pendapat saya bukunya sangatlah bagus serta penerbit tidak salah dalam memilih untuk penerbitannya….

  5. buku ini menginspirasi bagi pembacanya karena banya mengandung kata kata hikah yg bisa kita jadikan pijaka hidup sehari hari, moga uku in bisa bermanfaat bagi generasi sekarang aupun yang akan datang

  6. buku yang tokoh utamanya penulis ya ? sepertinya agak jarang ya, ada novel dalam negeri dengan tokoh penulis (menurutku).

    tapi ngomong-ngomong bocoran yang kak luckty kasih, aku nangkapnya nih novel berisi banyak quotes motivasi yang sangat bermanfaat dikala kita lagi berhadapan dengan tembok besar di tengah perjalanan kita, terutama yang berprofesi atau hobi sebagai penulis.

    soal covernya kok datar banget yaa -_- tapi cukup mewakili kok. problematika seorang penulis yang diserang writer’s block sudah tentu tidak dapat menghasilkan karya apa-apa untuk sementara waktu. tergambar dalam pemilihan cover yang menuruku cukup polos dengan bagian atas mesin ketik (gak tau apa namanya).

  7. sebelumnya aku juga ada keinginan buat menjadi penulis sempat membuat coretan di laptop tapi akhirnya juga mengalami writer’s block sayangnya masalah itu membuatku frustasi dan menyerah tapi di review javier ini entah mengapa saat membacanya ada suatu rasa dimana semua yang dikatakan benar2 kenyataan yang menyakitkan dan memiliki kemiripan dengan sandiwaraku di dunia ini. Membaca kutipan review ini kadang membuatku tertawa dan sedih karena benar – benar menyentuh hatiku. Semoga kak Jessica Huwae bisa terus berinspirasi mendapat banyak ide dan sukses selalu jangan seperti aku yang menyerah di tengah jalan🙂 seperti kutipan sebelumnya terkadang hidup tak semudah yang dilihat dan sangat pintar memainkan nasib

  8. keren banget kayaknya bukunya, seolah memberi cerminan kehidupan penulis yang disajikan bener-bener nyata. dikejar deadline, writer’s block.
    terlalu banyak quotes yang bikin ngiler dan penasaran untuk dibaca langsung sampai kalimat terakhir buku tersebut.😀
    sukses terus mbak luckty dan mbak jessica huwae :))

  9. aku yakin dengan membaca Javier, para calon penulis bisa memaklumi writer’s block yang sering menghampiri. dan aku lebih yakin, Javier bisa memberikan solusi dari pengalaman yang dialaminya. review-nya sukses bikin mau baca😦

  10. menulisa memamg tdk mudah, tp qt jg tdk blh berpikir menulis itu terlalu sulit. writer’s block mnjadi tantangan tersendiri bagi penulis. aku yg msh pemula dlm menulis ini jg kdg berpikir bhwa mnulis bkn hobiku. tapi terkadang ketagihan mnulis membuatku menjadi smnagat kmbali. buku ini sepertinya banyak mnceritakan keadaan dmn pnulis terjebak kebuntuan, menarik utk dibaca, terutama bagi org2 yg memiliki hobi dlm dunia literasi.

  11. Novel ini seolah mencelikkan mata bahwa penulis tenar pun juga mengalami masalah soal writer’s block. Apalagi kalau dibebani dengan embel-embel dia sudah tenar dapet penghargaan, dll. Pasti sisi perfectionis-nya muncul disisipi juga rasa takut bila tulisannya nanti tak sebagus karya-karya sebelumnya.

    Jadi penasaran pengen baca…😄

  12. Reviewnya keren, Luck:) Bikin penasaran & pingin baca.
    Akhir2 ini, profesi “penulis” memang terdengar seksi:) Padahal kita ga tau aja ya, sebelum betul2 akhirnya terbit, kadang penulis harus jatuh bangun dulu.
    Baca review mu, menurutku JAVIER kudu dibaca banget. Baik utk penulis, maupun pembaca.
    Sbg pembaca, kita jadi tau kalau menulis itu ga mudah. Jadi daripada berharap penulis idola menelurkan karya tiap tahun, mending bersabar menunggu penulis menyelesaikan karyanya sebaik2nya.
    Sbg penulis, kita juga jadi tau kalau ternyata penulis beken pun mengalami writer’s block, dikejar2 deadline, dll dll. Tanggung jawab kpd penerbit, dan hutang pada pembaca, yang tentunya juga harus kita pikirkan.
    1 lagi yg menggelitik: Pembaca yang menikmati buku penulis adalah bentuk kekaguman yang paling tulus. –> aku pun merasa begitu:)

  13. Wah, sepertinya novel ini menarik.
    Writer’s Block, yang menuntun seorang penulis untuk memulai perjalanan. Kemudian, perjalanan itu menuntunnya pada berbagai pengalaman hidup, dan bertemu orang-orang yang bergitu berarti untuknya.
    Aku sendiri menyukai menulis, juga menyukai membaca. Writer’s block memang sesuatu dilema yang sulit sekali dikalahkan. Mood, menurutku itu yang mempengaruhinya. Dan, mood adalah hal yang harus diperbaiki untuk menghilangkan writer’s block.
    Javier, aku menduga, novel ini sangat berguna untuk para penulis. Mungkin, membaca novel ini, kita bisa menemukan cara mengatasi writer’s block. Atau, karena ini buku yang bercerita tentang penulis, kita akan menemukan banyak tips ilmu menulis dari penulisnya, Jessica Huwae.

  14. Ternyata semua penulis itu mempunyai penyakit yang sama ya, yaitu writer’s block. Dan pastinya setiap penulis juga punya cara yg berbeda untuk mengatasi masalah nya. Mungkin juga isi dari buku ini adalah curahan hati para penulis (?) Buku yang menarik.

  15. Writer’s Block sering kali dikambinghitamkan bagi sebagian penulis untuk menyangkal bahwa sebenarnya dia sedang malas. Malas untuk berpikir ekstra bagaimana cara untuk menghasilkan ide. Di novel ini sepertinya Javier akan memberi tahu bagaimana cara jitu agar writer’s block dapat terlewati dan mengisi lembaran-lembaran kosong dari novel yang sedang dikerjakannya. Covernyaa kece. Terlihat lembut dengan nuansa cokelat dan sebuah gambar mesin ketik. Apalagi dengan selipan-selipan pengetahuan tentang dunia penulis yang ‘jleb’ banget serta motivasi2 yang bisa menjadi pemicu untuk para penulis menuliskan kata ‘Tamat” dalam setiap tulisannya.

    Tapi beneran deh, paling ‘jleb’ itu tuh point yang ini :
    Pada dasarnya memilih hidup di dunia seni berarti telah sepakat untuk hidup di jalan yang sunyi, kadang mencipta dalam senyap, karena berkarya sebenarnya bukan perkara laku atau tidak, digemari pasar atau tidak, melainkan perkara mengendapkan dan menuangkan rasa.

    Ada dua resep untuk menjadi penulis hebat; miliki masa kecil yang tidak bahagia atau kisah cinta yang menyedihkan.

    *marked as a wishlist*🙂

  16. Reviewnya bagus dan lengkap, saya suka dengan sindiran halus yang mbak cantumkan. Menurut saya, menjadi penulis adalah profesi yang sulit dan mengharuskan kita menempuh jalan berbeda dengan benyak orang, termasuk dalam hal ritme kerja. Penulis itu cerdas karena dia harus mengetahui dan menguasai banyak hal saat ia bercerita dalam tulisannya. Karenanya saya kagum dengan profesi penulis. Ngomong-ngomong saya sangat tertarik dengan kehidupan Javier ini. Penasaran dengan kehidupan penulis🙂

  17. Dari revies di atas ada satu kalimat yang paling aku suka: “Ada dua resep untuk menjadi penulis hebat; miliki masa kecil yang tidak bahagia atau kisah cinta yang menyedihkan.”
    Kereen banget ya bukunya. Kelihatannya membangkitkan semangat kita-kita (yang ingin menjadi penulis) ^^

  18. Keren banget reviewnya…. (y) baru tahu ada novel yg mengangkat cerita tentang writer’s block. Dan setuju banget sama kutipan “Pembaca bisa menjadi sahabat dalam sekejap sekaligus kritikus yang terhebat.” keren pokoknya. Buku ini recommended banget!!😀😉🙂 B-) ^^

  19. Aaahh…ternyata jadi penulis itu tak seindah impian ya Mba. Sama dengan pekerjaan2 lain yg menuntut ‘vitalitas ide’ dan manajemen kebosanan. Mana ntar pas bukunya terbit pun masih pusing pulak dengan penjualan.
    Semoga para penulis terus semangat berkarya dan menyajikan tulisan2 yg menghibur dan memotivasi.

  20. COMMENT:
    Sering banget tuh ngalamin writer’s block pas lagi nulis. Tetiba jadi kayak orang nggak punya otak kanan buat berimajinasi. Susah juga sih jadi orang moody. Kalau mau nulis nunggu mood baik dulu. Kalau nggak begitu tulisan jadi ngaco semua. Dan sepertinya buku ini akan banyak memberiku pelajaran tentang dunia kepenulisan. Harus dimasukin list buku yang harus dibeli bulan depan (iya, bulan depan… nunggu gajian dulu.. hwehee).

    @AntikaAnis

  21. Reviewnya keren kak! Aku sendiri setiap akan menulis selalu mengalami writer’s block. Mungkin disebabkan aku orang yang tidak suka membuat outline terlebih dahulu. Membiarkan ide mengalir dan terkadang malah mengarah ke mana-mana. Di tengah jalan, sering mengubah karakter dari tokoh sendiri. Bener kata Kak Javier ‘Penulis membutuhkan kamus saat menulis untuk mencari padanan kata, mencari tahu apakah pilihan kata yang digunakan sudah tepat, mengecek cara penulisan dan lain sebagainya. Betapa penting seorang penulis untuk bergaul karib dengan kamus. Kamus itu nyawa. Sebuah buku tidak akan kehilangan nyawanya bila penulis rajin membuka kamus dan piawai menggunakan kata-kata yang terdapat di dalamnya.’ Aku orang paling malas kalau disuruh buka kamus. Padahal kamus juga penting untuk mencari kata-kata baru juga. Makasih ya Kak Lucky dan Kak Javier atas review dan motivasi bukunya.🙂

  22. reviewnya keren bingitssss….. kenapa ya kalo kak luckty yg bikin review bawaannya itu selalu pengen langsung baca tuhh buku. The best lah buat kak Luckty yg selalu bikin readers blognya jadi pengen langsung baca buku yang di review sama kak Luckty

  23. Wahhh bukunya keren kayaknya.
    Aku setuju dengan quote ttg Televisi yg membuat kita jadi tumpul. Sejujurnya aku mengalaminya sendiri.
    Setelah hampir setahun tidak menulos sedikitpun karena keasikan menonton tv.
    Aku harus beli buku ini!

  24. Review yang bagus dan membuat tertarik. Bukunya bagus dan keliatannya cocok buat pembaca yang suka menulis, saya juga suka menulis, tapi sering tidak pernah menyelesaikan tulisan, buku ini sepertinya bagus dan bisa jadi motivasi bagi yang sering kehabisan ide untuk melanjutkan tulisannya.

  25. Byk kalimat inspiratif…kalimat sederhana tp maknanya luas….
    Gk sabar buat baca bukunya…berjuang lah buat dapat giveaway nya…
    Senang rasanya kalo bs berbagi inspirasi dr tulisan kita…

  26. Wow, novel yang inspiratif dan informatif tentang dunia penulis. Ternyata menjadi penulis tidak semudah yang dibayangkan orang-orang. Untuk sampai menjadi penulis terkenal dibutuhkan waktu, ketekunan, persistensi, dan konsistensi. Novel ini sangat bermanfaat untuk memotivasi para penulis yang sering mudah menyerah ketika mengalami writer’s block (termasuk saya *curcol).
    Saya jadi tergugah untuk lebih banyak menulis dan berlatih menulis dengan ide-ide baru dan segar. Thanks for Javier book’s review🙂

  27. Kata-kata ini >> Penulis yang hanya menggantungkan hidup dari menulis memang berat << pernah aku pikirkan. Aku pernah berpikir untuk 'hanya' menjadi seorang penulis. Padahal aku tau jadi penulis itu enggak mudah. Sangat enggak mudah.

    Lalu mengingat beberapa hari yang lalu, beberapa tahun yang lalu ketika naskahku masih juga di tolak. Aku jadi dapat satu kalimat yang akhirnya aku pakai buat kalimat terakhir di novel yang baru aku selesain. Everything gonna be beautiful in the right time. Dan, kalimat itu serupa dengan dialog: “Semua soal waktu. Buku yang bagus, bila hadir di saat yang kurang tepat pun bisa saja tidak laku.”

    Itu bikin aku kembali semangat. Dan lagi awalnya aku pikir ini semacam buku panduan, tapi ternyata bukan.

  28. ah, so true. Menulis memang pekerjaan yang butuh banyak tenaga dan kesabaran. Bahkan setelah karya jadi dan terbit juga, masih tetap deg-degan dan penuh rasa tidak yakin :’)

    jadi pengin baca buku ini. Selain karena suka sama temanya, suka juga sama tulisannya Mbak Jessica setelah baca soulmate.com dan Galila

  29. ah, so true. Menulis memang pekerjaan yang butuh banyak tenaga dan kesabaran. Bahkan setelah karya jadi dan terbit juga, masih tetap deg-degan dan penuh rasa tidak yakin :’)

    jadi pengin baca buku ini. Selain karena suka sama temanya, suka juga sama tulisannya Mbak Jessica setelah baca soulmate.com dan Galila

  30. reviewnya menarik kak🙂 . . . ceritanya pun pasti menarik🙂 . . . aku juga sering mengalami hal yg sama kayak Javier😦 kdang smpe stres juga tp Alhamdulillah semua ada jalannya. aku penasaran banget dengan kisah hidup Javier dan caranya menghadapi masalah yg dihadapi. aku berharap cerita Javier ini bisa menginspirasi banyak orang🙂 ngomong2 ada cerita cintanya nggak kak di novel ini? jadi penasaran nih… mau dong novelnya😀

  31. Namanya unik : Javier , pertama kali dengar -_-
    Namun memang profesi sebagai penulis itu rentan, dan…banyak orang tua yang tidak merestui anaknya berprofesi sebagai penulis karena “kerentanannya” itu

  32. Review nya kereeen! Heheheh siapa gt yg mereview? Mbak Luckty😀

    Dari novel ini aku jd tau kehidupan tentang dunia penulis hehehe bahwa jd penulis ga gampang! banyak kalimat2 bagus & inspiratif jg di novel ini hihiyy aku harus baca bgt! Hehehe

  33. Kak Luckty selalu sukses bikin penasaran tiap kali baca review buku yang dibuat. apalagi ada banyak banget kalimat-kalimat dan kutipan-kutipan dari bukunya, selalu bikin ngiler deh buat lanjut baca bukunya. semoga bisa dapet GA buku yang ini. aamiin🙂

  34. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  35. Bila kamu bersabar, hidup akan menghujanimu dengan kejutan-kejutan manis. (hlm. 199)

    Banyak yg bilang “Orang Sabar di Sayang Tuhan”, dan aku pun percaya…

  36. Aku suka nama Javier, nama latin🙂 Jadi ini buku tentang kesulitanyg dialami oleh seorang penulis (Javier). Dari baca review, quotes emang bener jadi penulis susah. Apalagi kalo udah nerbitin buku dan banyak yg beri komen negatif, seakan2 nggak menghargai kerja keras sang penulis. Aku aja yg nyoba nulis baru beberapa hal udah nyerah :v
    Mungkin aku harus baca biar lebih tau susahnya jadi penulis, dan mungkin di buku ini ada hal positif yg bisa diambil juga untuk menjadi penulis.

  37. Komplikasi penulis banget ini.

    Profesi penulis adalah profesi yang paling rentan di dunia. Saat berhasil menyelesaikan sebuah buku, selalu ada pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran tentang apakah bisa mengeluarkan buku lagi. Kalau iya, kapan atau berapa lama? Tidak pernah ada rasa aman untuk profesi ini; kau bisa menjadi legenda atau dilupakan orang begitu saja.

    Aku suka bagian itu hoho. Thats true! :3

  38. Wah! Ternyata buku ini begitu menarik karena mengupas banyak hal seputar kehidupan seorang penulis! Ya, begini-begini kan aku termasuk penikmat buku, jadi kepengen juga tau mengenai kehidupan para penulis dibalik karya-karya hebat yang sudah kubaca! Dan… sapa tau ke depannya aku juga jadi ikutan “terangsang” untuk melahirkan sebuah karya karena sudah begitu kenyang dijejali berbagai macam buku. ^^

    And yes! This is my fave quote from the book:
    “Bukankah perpisahan memang selalu lebih berat bagi yang ditinggalkan? Ada rasa sesak seperti gelembung-gelembung asam yang memenuhi ruang-ruang di dadamu. (hlm. 71)”

  39. Penulis merupakan manusia yang berjuang untuk abadi; abadi dalam kejayaannya atau abadi sebagai seseorang yang tak dikenal. Membaca review Novel Javier membuka mata saya bahwa seorang penulis selalu berjuang untuk menghasilkan karya tulis yang bagus, salut deh sama penulis…

  40. Suka kagum sendiri ama penulis yg bisa nerbitin buku dengan jarak yg berdekatan seakan mereka cuma nulis aja setiap hari tanpa ada kerjaan lain
    Apalagi kalo penulisnya masih anak sekolah
    Makin heran

  41. Dunia penulis emang ga jauh dari buku baru dan buku baru. Sudah terbit pasti ditanyain kapan melahirkan lagi. Jadi kadang suka kepikiran sama penulis-penulis luar yang rajin melahirkan tiap taun, bukunya tebal-tebal dan kebanyakan berseri pula. Itu ide dapet dari mana??? Kayak orang makan aja 3x sehari. Sesering itukah idenya mampir dan minta dibukukan.

    Pernah dapet buku ini disalah satu radio, tapi sayang, bukunya harus diambil. Aku tinggal di luar kota, kalo ambil buku ke radionya langsung ongkirnya aja udah lebih mahal daripada harga bukunya sendiri. Sedangkan di kotaku ga ada toko buku, jadi ya dadah babay #Javier😦😦😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s