buku, resensi

REVIEW Wesel Pos

“Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta”

Masih jarang tokoh utama dalam sebuah cerita dengan mengambil sudut pandang bukan manusia. Biasanya hewan. Beberapa cerita yang mengambil sudut pandang dengan tokoh hewan ada Rio de Coro dalam kumpulan cerpen Filosofi Kopi dan tokoh Meci dalam kumpulan cerpen Seribu Tahun Mencintaimu.

“Ibuku itu orang bodoh, Mas. Enggak ngerti nyimpan uang di bank. Boro-boro punya rekening. Waktu itu, aku juga belum punya KTP, jadi susah mau buka rekening. Makanya, waktu Mas Ikbal mau ngirim uang bulanan hasil kerjanya, Ibu nyuruh pake wesel pos aja.”

Buku kali ini pun terbilang unik. Judulnya merupakan tokoh utama dalam novel ini; wesel pos. Salah satu bagian dari pelayanan pos yang kini mulai punah. Dulu zaman SD, saya pernah memegangnya, kalo nggak salah pelajaran Bahasa Indonesia disuruh bawa wesel pos, kartu pos, prangko dan sebagainya gitu, generasi 90-an memang bahagia yaa… 😀

Adalah Elisa yang pergi merantau ke Jakarta dengan berbekal handphone butut dan wesel pos terakhir yang dikirim kakaknya, Ikbal Hanafi. Niat hati mau mengadu nasib di ibukota mengikuti kakaknya, apalah nasib malang bertubi-tubi menimpanya.

Dari awal sampai akhir, buku ini sangat merepresentasikan kehidupan Jakarta yang pahit nan kejam. Tidak hanya dari sisi Elisa si pendatang, tapi juga beberapa tokoh lainnya yang muncul dalam buku ini. Pertama, ada Fahri, bukan sekedar sopir pengantar barang biasa. Kedua, ada Memet tetangga rusun dimana Fahri tinggal, kalo malam ‘berubah’ menjadi perempuan demi sesuap nasi. Ketiga, ada Bu Hilda tipikal mak-mak kompleks ala lambe turah bin kepo. Dan masih ada tokoh-tokoh lainnya yang merepresentasikan Jakarta banget.

Kamu lugu atau naïf. Penjahat itu enggak melulu harus laki-laki, enggak melulu harus preman. Ibu-ibu penjahat juga banyak. (hlm. 11)

Jakarta memang tidak cocok bagi manusia seperti Elisa yang lugu. Kecongkakan Jakarta membuat Elisa yang polos harus merasakan pahit dan kerasnya kehidupan.

Ini adalah tulisan kesekian yang ditulis oleh Mbak Ratih Kumala yang saya baca. Sebelumnya ada Gadis Kretek, Tabula Rasa dan yang terakhir ada kumpulan cerpen Bastian & Jamur Ajaib.

Selalu suka tulisan-tulisannya Mbak Ratih Kumala, sayangnya untuk buku ini sangat tipis sekali untuk ukuran sebuah novel. Mini banget gitu. Gemes. Lagi asyik baca tau-tau udah tamat aja 😀

Dan saya masih menanti karya Mbak Ratih Kumala lainnya, siapa tahu ada rencana proyek bareng dengan suaminya yang juga penulis, Mas Eka Kurniawan. Ngarep banget nih sebagai pembacanya 😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Wesel Pos

Penulis                                 : Ratih Kumala

Penyelia naskah                               : Mirna Yulistianti

Ilustrasi sampul                 : Orkha.id

Ilustrasi isi buku                                : Ratih Kumala

Setting                                  : Fitri Yuniar

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : Juni 2018

Tebal                                     : 100 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-8711-6

2 thoughts on “REVIEW Wesel Pos”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s