REVIEW Girl Meets Boy

Lo ngerti perasaan itu? Dekat dengan seseorang, lalu begitu saja, tiba-tiba lo melihatnya dengan cara yang berbeda. Tahu-tahu, tanpa disadari, lo udah jatuh cinta sama orang itu. (hlm. 211)

ALISTAIRE SCHOOL OF PERFORMING ARTS AND MUSIC adalah salah satu sekolah musik terbaik di Indonesia, yang menempati peringkat kesembilan dalam skala dunia. Tim pelatih dan gurunya adalah profesional terbaik dari luar maupun dalam negeri, mayoritas berupa senior dengan segudang pengalaman dalam industri masing-masing. Sekolah ini dibangun oleh Walter Alistaire, seorang komposer keturunan Prancis-Skotlandia yang mendirikan sekolah untuk mengenang almarhum putri tunggalnya, pianis internasional Lisbeth Alistaire.

“Apa pun alasannya, kita semua yang berada di sini punya satu benang merah –musik.” (hlm. 35)

Seperti kakaknya, AVAmemilih jurusan Vokal. Tidak seperti kakaknya, Ava tidak pandai menari, tak mampu berakting, dan tidak menguasai berbagai jenis alat musik dengan baik. Gerakannya tidak gemulai, jari-jarinya kurang lincah. Namun, ada satu yang disukainya lebih dari apa pun –saat menyanyi, Ava merasa bebas. Baginya, alasan itu lebih dari cukup untuk masuk ke sekolah ini.

“Ternyata, cuma segini kemampuan adik Rae Tirtadirga. Gue kira sehebat apa, ternyata nggak lebih dari amatir. Nggak pantas masuk ke sini.” (hlm. 82)

Masing-masing dari yang ditinggalkan harus terus melanjutkan hidup tanpa Rae. Papa kembali bekerja, Mama kembali mengajar, dan Ava memulai kehidupan baru di sekolah yang dulunya mengenal Rae. Seberapa besar pun lubang yang menganga dalam hati, mereka harus terus berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja dan berharap liang itu akan menutup dengan sendirinya.

Tidak mudah bagi Ava untuk memulai kehidupan tanpa Rae, kakaknya. Tidak mudah pula ketika dia bersekolah di tempat kakaknya dulu. Dan yang paling tidak mudah adalah ketika semua orang selalu membandingkan mereka. Padahal Ava bukan Rae, dan Rae juga bukan Ava.

Hal yang terberat menjadi seorang adik adalah memiliki beban ketika sang kakak yang di atas segalanya; lebih pintar, lebih cantik, lebih populer, lebih segalanya. Begitu juga dengan apa yang dialami Ava. Semua orang selalu membandingkannya dengan Rae, kakaknya.

“Hanya karena kakak lo populer di sekolah ini, bukan berarti lo juga bisa. Lo tuh kayak parasit, males gue lihatnya.” (hlm. 133)

KAI. Cucu pemilik sekolah, cowok paling populer se-Alistaire. Di sekolah, Kai bebas melakukan apa saja. Tentu saja, nama Alistaire yang disandangnya selalu punya keuntungan tersendirinya baginya. Dulu, musik adalah seluruh hidup Kai. Ia tumbuh besar hanya mengenal musik sebagai medium bagi segala sesuatu. Saat sedih, ia akan merasa lebih baik selepas memainkan serangkaian komposisi dari Moonlight Sonata. Kala senang, melodi-melodi baru akan muncul pada kertas musiknya. Musik merupakan hadiah terbaik yang pernah diterimanya, juga persembahan terbesarnya untuk orang-orang disekitarnya.

Bagi Kai, musik tidak dapat diuraikan. Musik adalah musik, melodi yang tak pernah berakhir dalam dirinya, terlalu mendarah daging untuk dipisahkan. Satu rahasia, Kai bosan menjadi nomor satu, mendapat nilai sempurna di setiap tes. Bosan dengan perempuan-perempuan yang menmepel bagaikan lintah yang enggan lepas. Jemu dengan aktivitas yang itu-itu saja setiap hari; masuk kelas, main piano, bolos kelas, pacaran, main tenis, balik lagi ke asrama. Dulu, semua itu terasa fun. Tanpa beban, definisinya untuk kata bebas. Sekarang, semuanya tak lebih dari rutinitas menjemukan.

“Hubungan serius yang lo maksud cuma ada di buku-buku dongeng. Segala sesuatu di dunia ini punya masa akhir, termasuk cinta yang lo elu-elukan itu. Hal tercerdik adalah pergi sebelum kesenangan itu selesai.” (hlm. 141)

Novel ini lebih kelam dibandingkan novel-novel Winna Efendi sebelumnya yang hampir semua sudah saya baca. Setipe dengan Happily Ever After yang bercerita tentang kehilangan dan tentang menemukan. Dari sekian banyak kejadian di sekolah yang diceritakan dalam buku ini, paling favorit ketika pertama kali Ava memergoki Kai yang sedang berpacaran di perpustakan yang lumayan awkward moment banget, dan lebih epiknya lagi semenjak itu Kai memanggil Ava dengan sebutan librarian, wkwkwk… x))

AVA dan KAI merupakan representasi remaja yang memiliki kekosongan dan kehampaan dalam menjalani hidup. Sama-sama memiliki masalah keluarga. Sama-sama harus belajar melepaskan masa lalu. Pesan moral yang ingin disampaikan dari novel ini lewat para tokohnya adalah tentang mimpi, tentang keluarga, tentang persahabatan, juga tentang memaafkan diri sendiri.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Nggak ada gunanya meratapi masa lalu. (hlm. 49)
  2. Nggak ada yang salah dengan jatuh cinta. (hlm. 211)
  3. Terkadang, bukannya kita tidak tahu kapan harus berhenti. Kita hanya tidak bisa berhenti. (hlm. 249)
  4. Seenggaknya dengan punya mimpi, kita akan punya tujuan yang jelas. (hlm. 268)
  5. Mimpi itu sebuah hak khusus. Nggak semua orang bisa memilikinya. (hlm. 268)
  6. Lepaskan yang mengikat, kejar yang kamu inginkan. (hlm. 268)
  7. Mimpi berupa hal-hal sederhana juga nggak apa-apa. (hlm. 268)
  8. Mereka nggak ngerti bahwa yang kadang yang kita butuhkan bukan kesepian, bukan diam, bukan menyendiri. Kita butuh kenormalan di sekitar kita, hal-hal yang membuat kita bisa berjalan maju. (hlm. 277)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Betapa mudahnya mengategorikan sesuatu yang dulunya berharga menjadi barang bekas, yang mungkin tak akan terlihat lagi. (hlm. 17)
  2. Nggak gunanya meratapi masa lalu. (hlm. 49)
  3. Kebanyakan cewek berandai-andai jadi cinderella. Hanya supaya bisa jatuh cinta sama pangeran. Mereka nggak pernah sadar, itu impian bodoh yang sia-sia. (hlm. 62)
  4. Tak ada kegeniusan tanpa kegilaan. (hlm. 64)
  5. Cinta nggak pernah menjelaskan dirinya dengan baik, datang dan pergi tanpa rangka waktu tertentu. (hlm. 173)
  6. Bela aja terus pacar lo. Bukan berarti ucapan gue salah. (hlm. 221)
  7. Kalau lo nggak yakin sama perasaan lo, jangan terima cowok itu. (hlm. 222)
  8. Kamu gonta-ganti pacar semudah ganti baju karena ingin menemukan cinta yang sebenarnya, kan? (hlm. 222)
  9. Jangan pura-pura nggak ngerti deh. (hlm. 248)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Girl Meets Boy

Penulis                                                 : Winna Efendi

Editor                                                    : Yulliya & Widyawati Oktavia

Penyelaras aksara                            : Ayuning

Penata letak                                       : Putra Julianto

Desainer sampul                              : Dwi Anissa Anindhika

Penyelaras desain sampul            : Levina Lesmana

Ilustrator isi                                        : Gama Marhaendra

Penerbit                                              : Gagas Media

Terbit                                                    : 2015 (Cetakan kedua)

Tebal                                                     : 392 hlm.

ISBN                                                      : 979-780-832-7

Advertisements

One thought on “REVIEW Girl Meets Boy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s