Uncategorized

REVIEW Sejarah Kolonisasi Belanda 1935-1942

Jangan sekali-kali melupakan sejarah. –Soekarno-

Belum begitu banyak buku yang mengulas tentang Lampung, terutama Kota Metro terutama dalam bidang Sejarah. Baru beberapa tahun muncul buku-buku yang terbit bertema Kota Metro. Itupun sayangnya terbatas. Bahkan sampai saat ini, aku hanya punya satu buku bertema Kota Metro itupun hasil dari minta di salah satu kafe yang memajang buku tersebut. Aku minta satu karena sang pemilik kafe memiliki tiga eksemplar. Dan memang buku-buku seperti ini dulunya tidak dijual bebas, hanya untuk kalangan pemerintah dan sekitarnya saja.

Nah, beberapa bulan lalu membantu mengiventaris buku-buku di Kampung Buku Metro milik Bang Rahmat ke aplikasi SLIMS bersama mahasiswa-mahasiwa PPL dari IAIN Kota Metro kurang lebih selama satu bulan. Saat mengklasifikasi buku-buku di sana, aku menemukan banyak buku bagus yang ingin aku baca. Beberapa diantaranya adalah buku-buku tentang sejarah. Salah satunya adalah buku ini.

Ada banyak hal yang bisa kita ketahui setelah membaca buku. Beberapa diantaranya adalah untuk yang pertama tentang penamaan bedeng yang berasal dari kata bedding, seperti bedeng 1, bedeng 15, bedeng 38, ledeng yang berasal dari kata leidding. Berharap kedepannya nanti akan ada buku yang membahas khusus tentang penamaan bedeng ini. Contohnya saja, meski aku sudah lama tinggal di bedeng 28, tapi sampai sekarang tidah tahu asal usul dari penomoran angka 28 tersebut x))

Kedua, pembahasan tentang Bendung Argoguruh yang masih jarang diulas. Bahkan Balai Besar Sumber Daya Air Provinsi Lampung, juga tidak memiliki dokumen sejarah, bahkan tidak mengetahui bagaimana sejarah Bendung Argoguruh 1935. Mereka hanya mengetahui bahwa bangunan tersebut dibangun pada masa penjajahan dan merupakan bangunan warisan kolonial Belanda, dan kini mereka hanya diberi tugas untuk mengelolanya.

Sayang sekali ya, padahal menurut buku ini menjelaskan bahwa Bendungan Argoguruh ini memiliki nilai histori yang cukup penting karena di era Hindia Belanda mengairi tiga wilayah pemerintahan yaitu Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Lampung Timur dan Kota Metro. Keberadaan bendungan ini menjadi semacam penanda bahwa leluhur mereka yang mendiami daerah di sekitar bendungan inilah yang membuka hutan serta lahan baru di Lampung pada masa Hindia Belanda.

Ternyata ada buku berjudul Bendungan Argoguruh (Implementasi Politik Etis Bidang Irigasi di Kolonisasi Sukadana tahun 1935-1942). Beberapa kali ke Dinas Perpustakaan & Kearsipan Kota Metro belum menemukan buku ini. Entah apa sedang dipinjam atau memang belum dipajang di rak referensi.

Ketiga, Kota Metro dahulunya merupakan ibukota Kolonisasi Sukadana yang mengadopsi pola tata ruang pusat ibukota kerajaan-kerajaan di Jawa, yakni catur gatra tunggal yang merupakan kesatuan empat unsur utama meliputi pusat pemerintahan, pusat religious, pusat perekonomian, dan pusat aktivitas publik. Sejujurnya, selama ini aku hanya tahu jika Metro dulunya bagian dari Trimurjo. Ternyata lebih jauh ke belakang, Metro justru merupakan ibukota Kolonisasi Belanda. Pantas saja, keluarga bapak banyak yang tinggal di Pakuan Aji, lokasinya setelah daerah Sukadana juga didominasi masyarakat Jawa. Konon katanya Pakuan Aji dulunya menjadi tempat pembuangan eks-PKI. Tapi sampai sekarang pun aku juga belum tahu kebenaran sejarahnya bagaimana. Mungkin menarik juga bagi sejarawan Lampung untuk mengulik perihal ini yang belum terungkap.

Keempat, pembahasan Trimurjo yang ternyata tidak memiliki makna secara historis. Baru kemudian dimaknai oleh masyarakat sebagai tiga kemakmuran (tri=tiga, murjo, raharjo = kemakmuran), yang merujuk pada tiga struktur pintu air irigasi yang nanti membagi air ke tiga aliran yang bertujuan untuk memakmurkan pertanian masyarakat di sekitarnya.

Kelima, Simbarwaringin yang merupakan pusat pemerintahan Kecamatan Trimurjo ini memiliki makna yang berasal dari bahasa Jawa: simbar (kembar) dan waringin (beringin). Dulu pernah ada pohon besar yang menjadi ikonik di daerah ini dan berlokasi di tepat depan SD Negeri 1 Simbarwaringin yang ternyata dulunya merupakan volkschool atau sekolah rakyat.

Keenam, Rumah Dokter (dokterswoning) yang mulai tahun lalu sudah menjadi salah satu cagar budaya di Kota Metro berganti nama menjadi Museum Swoning. Menurut surat kabar De Indische courant yang terbit pada Maret 1939, dan juga surat kabar Deli courant yang pada April 1939 menerbitkan tulisan tentang seorang dokter kolonisasi yang diangkat, bernama Mas Soemarno Hadiwinoto yang diberi mandat untuk melakukan pelayanan kesehatan bagi para kolonis di pusat kolonisasi Sukadana kala itu. Kemudian Juni 1939, beberapa surat kabar memberitakan kembali tentang proses pembangunan kolonisasi termasuk Rumah Dokter (dokterswoning) yang kini menjadi Museum Swoning ini. Saat buku ini terbit, tempat ini belum resmi menjadi museum. Setelah buku ini terbit, tempat ini sudah resmi menjadi museum pertama di Kota Metro dan kini banyak kegiatan yang dilakukan di tempat ini. Tidak hanya kegiatan yang bertema sejarah, tapi juga kegiatan masyarakat lainnya. Apalagi museum ini menggandeng banyak komunitas dan juga CSR yang terlibat untuk mengadakan berbagai acara. Berharapnya, museum ini bisa digunakan untuk semua lapisan masyarakat.

Waktu itu sempat ikut saat launching bukunya di Museum Swoning yang kala itu sekitar tahun 2020 masih bernama Rumah Dokter (dokterswoning). Sama halnya dengan buku Bendungan Argoguruh (Implementasi Politik Etis Bidang Irigasi di Kolonisasi Sukadana tahun 1935-1942), aku juga belum menemukan buku Dokterswoning (Sejarah Rumah Dokter Kota Metro) di Dinas Perpustakaan & Kearsipan Kota Metro.

Ketujuh, Kota Metro identik dengan mayoritas bersuku Jawa. Tapi bukan berarti sebagai identitas tunggal di kota ini. Seperti pesan Mohammad Hatta saat berkunjung ke alun-alun Metro di tahun 1957, agar senantiasa menguatkan persatuan dan kesatuan, dan mengesampingkan perasaan kedaerahan. Sang proklamator menegaskan bahwa warga Metro dapat menjadi contoh bagi persatuan dan kesatuan, dan mengesampingkan perasaan kedaerahan.

Beliau memahami bahwa Metro multikultur yang artinya warga di sini terdiri dari berbagai macam suku dan budaya. Metro ini bisa menjadi contoh bentuk persatuan Indonesia sesuai pancasila: bhineka tunggal ika.

Kedelapan, hilangnya beberapa landmark di Kota Metro. Salah satunya adalah alun-alun Kota Metro yang berubah fungsi menjadi Taman Merdeka. Meski Kota Metro sebagian besar dulunya merupakan bagian dari transmigrasi sejak Kolonisasi, tapi ternyata masyarakat Jawa juga mendominasi daerah ini tidak hanya dari segi masyarakatnya semata, tapi juga tanpa disadari mempengaruhi juga dalam pembangunan tata kotanya yang biasanya terdiri empat unsur utama: catur gatra tunggal atau catur sagotrab yang meliputi politik, ekonomi, religious, dan masyarakat. Selain hilangnya alun-alun Kota Metro, hilang juga masjid Taqwa yang asli karena ternyata bukan direnovasi tapi diganti total dari yang aslinya dan menandakan hilangnya salah satu landmark Kota Metro yang seharusnya menjadi bukti sejarah. Semoga kelak ada sejarawan yang mengulas khusus tentang sejarah Masjid Taqwa yang berada di Kota Metro ini.

Kesembilan, kedudukan perempuan dalam sejarah Lampung. Jarang sekali ada tulisan yang mengulas tentang sejarah atau perjalanan sosok perempuan yang sebenarnya tidak kalah penting dalam perjalanan sejarah Lampung. Lewat buku ini, aku baru tahu ada seorang Ratu Sekerumong, wanita penguasa terakhir Kerajaan Skala Brak bercorak Hindu. Lalu di Sukadana juga ada seorang perempuan bernama Itten Miyani yang sebenarnya merupakan salah satu dari empat saudara pembuka wilayah Sukadana sekitar abad XVII. Begitu juga dengan Putri Nuban yang namanya tiap tahun menjadi nama festival yang diadakan di Kota Metro. Sayangnya sampai sekarang masih menjadi sosok misterius tokoh ini karena masih minimnya tulisan yang mengulasnya.

Dan kesepuluh, ada ulasan tentang Museum Desa Rejoagung, Batanghari, Lampung. Selama ini minim sekali pengetahuanku tentang museum-museum di Lampung. Jika belum lama mengunjungi Museum Ketransmigrasian yang berasal di Gedong Tataan, lewat buku ini juga baru tahu jika ada Museum di Rejoagung, Batanghari, Lampung Timur. Museum desa ini merupakan hasil dari inisiasi warga desa yang difasilitasi oleh pemerintah setempat. Ada banyak alasan historis yang membuat warga bersama-sama mendirikan museum ini, salah satunya adalah Desa Rejoagung ini dulunya pernah menjadi daerah pertahanan pemerintahan darurat perang dan juga menjadi lokasi didirikannya Pos Komando Tentara Revolusi Fisik 1948-1949 bagi daerah Batanghari – Sekampung.

Buku ini cukup lengkap memuat garis besar sejarah Kolonisasi Sukadana untung rentang waktu 1935-1942. Untuk dokumentasi, karena sebagian besar merupakan arsip sejarah di masa lampau jadi bisa dimaklumi jika foto-foto di buku ini terkadang terlihat memudar. Saran, mungkin jika cetak ulang ada versi yang cetakan berwarna untuk memperjelas foto-foto yang ada. Oya, kedepannya juga berharap untuk distribusi penjualan buku ini lebih merata karena buku-buku seperti ini masih jarang dan penting untuk referensi pembelajaran baik bagi para pelajar maupun masyarakat umum.

Situasi yang memprihatinkan ini tentunya menjadi tantangan bagi para pegiat sejarah untuk melakukan berbagai kajian kesejarahan. Bagi sejarawan di Lampung tentu ini menjadi peluang besar untuk digali. Apalagi jika tidak dilirik, maka sejarah Lampung makin tergerus zaman, anak cucu kita kelak sudah tidak bisa menikmati peninggalan para leluhurnya baik peninggalan berupa barang, maupun peninggalan berupa arsip cerita. 

Keterangan Buku:

Judul                     : Jejak Kolonisasi Sukadana 1935-1942

Penulis                 : Kian Amboro

Editor                    : Adi Setiawan

Desain sampul   : Tri Purna Jaya

Layout                  : Team Aura Creative

ISBN                      : 978-623-211-268-1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s